Siang itu, matahari berdiri tepat di atas gedung-gedung tinggi terang, tapi tak membawa kehangatan apa pun bagi Arga.
Ia baru saja menandatangani beberapa berkas ketika pintu ruangannya diketuk cepat. Tidak seperti biasanya.
Tok. Tok. Tok.
“Masuk,” ucap Arga, nadanya datar.
Yuda masuk dengan wajah pucat. Kali ini bukan hanya tegang ada sesuatu yang runtuh di matanya.
Di belakangnya, salah satu anggota tim keamanan ikut masuk, berdiri kaku.
Arga langsung berdiri. “Ada apa.”
Tak ada basa-basi.
Yuda menelan ludah. “Pak… kami nemu Dita.”
Jantung Arga berhenti sepersekian detik. “Di mana.”
“Di sebuah hotel. Wilayah selatan kota.” Suara Yuda menurun. “Kamar atas nama palsu. Tapi… Pak…”
Arga menatapnya tajam. “Lanjut.”
Yuda menghela napas berat. “Dita sudah meninggal.”
Kata itu jatuh seperti palu.
Meninggal.
Bukan hilang.
Bukan disekap.
Bukan terluka.
Tidak bernyawa.
Arga terduduk perlahan di kursinya, seolah kakinya tiba-tiba kehilangan fungsi. Tangannya bertumpu di meja, jemarinya gemetar tipis sesuatu yang hampir tak pernah terjadi padanya.
“Penyebab?” tanyanya pelan. Terlalu pelan untuk ukuran CEO yang biasa memimpin rapat besar.
“Masih proses forensik,” jawab petugas keamanan. “Tidak ada tanda perlawanan besar. Tapi jelas… ini bukan kematian alami.”
Ruangan itu terasa menyempit. Udara seolah menghilang.
Bayangan Dita kembali muncul bukan sebagai sosok di rapat, tapi tawa kecilnya saat bercanda di pantry, caranya memanggil Arga dengan nada setengah mengejek, ‘Mas CEO jangan sok galak, deh.’
Arga memejamkan mata.
Ia terlambat.
“Ada barang bukti?” tanyanya lagi, kali ini suaranya dingin. Terlalu terkendali jenis ketenangan yang lahir dari kemarahan yang ditekan dalam-dalam.
“CCTV hotel menunjukkan seseorang masuk ke kamar Dita sekitar pukul sepuluh malam,” jawab Yuda. “Wajahnya tidak jelas. Pakai hoodie, topi. Tapi...”
“Tapi apa.”
“Mobil yang dipakai… sedan hitam.”
Rahang Arga mengeras.
Sedan hitam.
Potongan terakhir itu menyatu terlalu rapi.
Ancaman ke Rossa.
Penguntitan.
Hilangnya Dita.
Dan sekarang… kematian.
Arga berdiri, berjalan perlahan ke jendela besar ruangannya. Kota terbentang di bawah sibuk, acuh, seolah satu nyawa yang hilang hanyalah angka kecil dalam statistik.
“Pak,” suara Yuda sedikit bergetar, “ada satu hal lagi.”
Arga tidak menoleh. “Katakan.”
“Pihak hotel menemukan sesuatu di kamar. Bukan milik Dita.”
“…”
“Di meja dekat ranjang… ada kartu nama lama. Sudah agak lusuh.”
Arga menoleh perlahan. “Kartu nama siapa.”
Yuda menghela napas. “Atas nama… Hendro.”
Nama itu menggema di kepala Arga.
Hendro.
Adik Raka.
Mantan CEO.
Pria yang tak pernah memaafkan.
Dan pria yang pernah ditolak Dita.