Belenggu Masalalu

Dinar sen
Chapter #23

Mencari sang peneror

Malam turun dengan langkah pelan, membawa kesunyian yang berbeda.

Langit gelap, tanpa bintang. Lampu-lampu pemakaman menyala redup, memantulkan bayangan orang-orang yang berdiri dalam diam. Udara lembap, bercampur aroma tanah basah dan bunga tabur.

Pemakaman Dita berlangsung sederhana.

Tidak ada sorotan media.

Tidak ada pidato panjang.

Hanya keluarga, beberapa rekan kerja, dan orang-orang yang benar-benar mengenalnya.

Arga berdiri di depan liang lahat.

Hitam.

Itu warna yang pas, pikirnya.

Karena apa pun yang ia rasakan malam ini kehilangan, amarah, rasa bersalah semuanya hitam dan pekat.

Rossa berdiri di sisi kirinya. Tangannya menggenggam lengan Arga, tidak kuat, tidak menekan hanya cukup untuk mengingatkannya bahwa ia tidak sendirian.

Di belakang mereka, Yuda berdiri tegap, wajahnya kaku, rahangnya mengeras. Matanya merah, tapi ia menolak menunduk.

Tanah pertama jatuh.

Buk.

Suara itu menghantam dada Arga lebih keras dari teriakan mana pun.

Ia menatap ke dalam liang itu lama. Terlalu lama.

Seolah berharap Dita akan bangkit dan berkata dengan senyum setengah mengejek,

“Mas CEO, drama banget sih.”

Tapi tak ada apa-apa. Hanya keheningan.

Tawa itu… ternyata terakhir kalinya.

Arga menelan ludah. Tenggorokannya terasa terbakar.

Dalam benaknya, kenangan berkelebat cepat,

Dita yang berdebat sengit di ruang rapat.

Dita yang menolak mundur meski ditekan Hendro.

Dita yang selalu berkata, “Kalau salah, ya bilang salah, Pak.”

Dan ia ... ia yang seharusnya lebih cepat menyadari bahaya itu mendekat.


Tangannya mengepal pelan.


Maaf, ucapnya dalam hati.


Lihat selengkapnya