Belenggu Masalalu

Dinar sen
Chapter #24

Kedatangan yang belum mendapatkan hasil.

Sore itu, langit tampak suram, seakan sejalan dengan perasaan Arga. Ia sudah memutuskan tidak peduli apa yang harus dilakukan, ia akan menghadapi Hendro sendiri. Rencana yang sudah terbenak kuat dalam benaknya tak bisa dibendung lagi. Tidak ada tempat untuk keraguan. Dita sudah pergi, dan dengan setiap detik yang berlalu, rasa kesalahannya semakin membebani hati. Hendro siapa pun yang berada di balik semua ini harus membayar.

Saat mobil Arga melaju menuju rumah Hendro, pikirannya penuh dengan pertanyaan yang tak terjawab. Siapa yang benar-benar berada di balik peristiwa ini? Jika Hendro adalah pelaku, apa alasan yang mendorongnya untuk mengorbankan Dita? Dan apakah ia bisa menghadapi Hendro tanpa kehilangan kendali?

Namun, saat mobilnya meluncur di jalan raya yang semakin sepi, tiba-tiba sebuah mobil hitam memepetnya dari sebelah kanan. Arga mengenal mobil itu mobil Yuda, asisten setianya.

Arga memencet rem, menurunkan kaca jendela, dan menatap Rossa yang turun dari mobil Yuda, diikuti oleh Yuda yang wajahnya tampak tegang. Rossa berjalan cepat mendekat, air mata mengalir di pipinya. Tanpa kata, ia berdiri di depan Arga, menatapnya dengan mata penuh kecemasan dan rasa takut.

“Ga…” suaranya bergetar. “Aku nggak bisa biarin kamu pergi sendirian ke sana. Kamu nggak tahu apa yang bisa terjadi.”

Arga menatapnya, perasaan yang selama ini ia tahan mulai meledak. Melihat Rossa seperti ini, dengan air mata yang tak bisa ia cegah, ia merasakan berat yang menambah bebannya.

“Aku harus selesai dengan ini, Ros,” jawab Arga pelan, suaranya tegas tapi sarat emosi yang terpendam. “Hendro… dia bukan orang yang bisa dibiarkan begitu saja. Dia sudah membuat semuanya berantakan. Aku harus tahu apa yang dia lakukan pada Dita.”

Rossa menggeleng, matanya semakin basah. “Aku tahu kamu marah, Ga. Aku tahu kamu merasa gagal. Tapi, kalau kamu pergi sendirian… ini bisa lebih buruk. Kamu nggak tahu apa yang bisa terjadi. Hendro itu bukan orang biasa, dan kamu sudah pernah bilang dia membencimu.”

Arga memejamkan mata sejenak, mencoba mengendalikan dirinya. Ia tahu betul apa yang Rossa katakan. Hendro bukan orang yang mudah dihadapi, apalagi setelah kehilangan kakaknya, Raka. Dengan segala kepahitan yang ia simpan, Arga tahu Hendro bisa menjadi lebih brutal daripada yang ia bayangkan.

“Tapi aku juga nggak bisa hanya diam,” Arga mengucapkannya dengan berat. “Dita sudah pergi, Ros. Aku… aku nggak bisa membiarkan orang seperti Hendro menang.”

Rossa mendekat, tangannya terulur, menggenggam tangan Arga erat. “Kamu nggak sendirian, Ga. Kamu nggak harus menghadapi ini sendirian. Aku ada di sini. Yuda juga. Kita semua akan pastikan kamu aman. Jangan sampai kamu kehilangan dirimu sendiri di tengah semua ini.”

Air mata Rossa semakin deras, dan Arga bisa merasakan betapa tulusnya kecemasan yang ada di hatinya. Rossa—perempuan yang selama ini selalu hadir di sisinya, yang lebih dari sekadar rekan kerja, yang kini telah menjadi bagian dari hatinya—tidak bisa melihatnya menghancurkan diri sendiri.

Arga menatap Rossa dalam-dalam, dan sekejap itu, ia menyadari satu hal yang belum pernah benar-benar ia akui. Dalam perjalanan ini, ia bukan hanya melawan Hendro, tetapi juga melawan dirinya sendiri. Melawan perasaan kesepian dan rasa bersalah yang selama ini membelenggunya.

“Rossa…” Arga meremas tangan Rossa lebih kuat, matanya menatap wajah perempuan itu dengan lebih lembut. “Aku janji, kalau aku keluar dari ini, kamu yang pertama yang akan aku jaga. Aku nggak akan biarkan siapa pun, termasuk aku sendiri, menyakiti orang-orang yang aku pedulikan lagi.”

Rossa tersenyum tipis, meski air matanya masih jatuh. “Aku tahu kamu bisa, Ga. Aku ada di sini. Kita akan cari jalan keluar, bersama.”

Lihat selengkapnya