Belenggu Masalalu

Dinar sen
Chapter #25

Terlupa tidur

Setelah sebelumnya nihil, tak mendapati Hendro, tak mendapatkan info kebenaran. Arga bersama Rossa, akhirnya pulang dengan di ikuti Yuda meski berbeda mobil.

Malam itu, perjalanan menuju apartemen Rossa terasa berbeda bagi Arga. Di tengah perjalanan, suasana di dalam mobil tampak hening, hanya suara deru mesin mobil yang mengisi ruang. Arga, yang biasanya tegas dan terfokus pada tujuan, kali ini tampak lebih jauh, seakan pikirannya terperangkap dalam lautan perasaan yang sulit dipahami. Di sampingnya, Rossa duduk dengan tenang, namun ekspresinya menunjukkan kekhawatiran yang tak bisa disembunyikan.

Saat mereka melintasi jalanan yang hampir sepi, Arga akhirnya memecah kesunyian itu. “Ros,” suaranya pelan, lebih rendah dari biasanya, “kalau suatu hari aku pergi... apakah kamu akan tetap mencintaiku?”

Rossa menoleh, sedikit terkejut oleh pertanyaan mendalam yang keluar begitu saja dari mulut Arga. Wajahnya tampak serius, tetapi ada kekhawatiran yang terpancar jelas dari matanya. “Kenapa kamu bicara seperti itu?” jawabnya, suaranya bergetar pelan.

Arga menghela napas dalam, menatap jalanan depan yang gelap. “Aku hanya ingin tahu. Hidup ini... penuh ketidakpastian. Mungkin ada saat-saat di mana kita harus pergi tanpa bisa mengucapkan selamat tinggal.” Ia menatap Rossa dengan pandangan yang tajam, namun ada sesuatu yang rapuh di sana. “Jika aku harus pergi... apakah kamu akan tetap ada untuk aku, bahkan setelah semua yang terjadi?”

Rossa terdiam sejenak, menatap wajah Arga dengan penuh perasaan. Ia tahu betul apa yang sedang dipikirkan Arga. Rossa tahu bahwa rasa bersalah yang Arga simpan begitu dalam tentang Raka, tentang semuanya selalu menghantui langkahnya. Arga selalu merasa bertanggung jawab atas apa yang terjadi pada Raka, saudara laki-laki Hendro yang hilang di masa lalu. Kesalahan fatal semasa SMA itu tidak pernah benar-benar hilang dari pikirannya, meskipun ia tidak pernah mengatakannya.

Arga mengingat betul kejadian itu. Dulu, saat mereka masih SMA, ia, Raka, dan Adit bolos sekolah, pergi ke laut untuk bersenang-senang. Semua berjalan lancar sampai sebuah kecelakaan kecil membuat Arga terperosok ke dalam air, hampir tenggelam. Raka, yang berusaha menolongnya, malah menjadi korban, terseret arus yang sangat kuat. Sejak saat itu, Raka hilang, dan Arga merasa bersalah atas apa yang terjadi. Hendro, adik Raka, kemudian menyalahkan Arga karena ia percaya jika bukan karena Arga, kakaknya tidak akan pernah tenggelam.

Rossa, yang mengenal baik cerita masa lalu itu, tahu betul betapa besar rasa bersalah yang selalu menghantui Arga. Hendro selalu melihat Arga sebagai penyebab hilangnya kakaknya, dan dendam itu telah menggerogoti hubungannya dengan Arga selama bertahun-tahun.

Namun, Rossa juga tahu bahwa Arga tidak bisa terus-menerus dihantui oleh masa lalu. Ia harus melangkah ke depan, meskipun banyak luka yang belum sembuh.

Rossa meremas tangan Arga yang masih ada di setir, mencoba memberikan kekuatan yang selama ini selalu ia berikan. “Ga,” katanya dengan suara lembut namun penuh keyakinan. “Kamu bukan penyebab semuanya. Aku tahu itu. Dan... jika kamu pergi, aku akan tetap mencintaimu. Apa pun yang terjadi, aku akan tetap ada untuk kamu.”

Arga menatap Rossa dengan tatapan yang lembut. Seolah-olah ada beban berat yang sedikit terangkat dari pundaknya setelah mendengar jawabannya. Rossa tahu ia telah memberikan sesuatu yang sangat penting untuk Arga malam itu—sebuah jaminan bahwa ia tidak akan sendirian.

“Terima kasih,” Arga berbisik, dan meskipun suaranya sangat rendah, Rossa bisa merasakan kekuatan dari kata-kata itu. Ia tahu, meskipun Arga seringkali terbungkus dalam lapisan dingin dan ketegasan, di balik itu semua ada seorang lelaki yang butuh kepastian, butuh untuk dipercaya.

Mereka melanjutkan perjalanan dengan diam, namun kali ini, keheningan itu terasa lebih nyaman. Rossa tahu Arga sedang berjuang dengan perasaan-perasaan yang mungkin sulit ia ungkapkan, tetapi ia juga tahu, di dalam hati Arga, ia tidak ingin melawan semua ini sendirian.

Ketika mobil Arga akhirnya sampai di depan apartemen Rossa, ia berhenti dengan pelan. Suasana malam itu masih gelap, tetapi ada cahaya yang melingkupi keduanya, sebuah ikatan yang semakin kuat meskipun semuanya terasa penuh ketegangan dan ketidakpastian.

“Ros, aku janji…” Arga mulai, matanya menatap dalam ke mata Rossa, “aku akan melindungimu. Aku tidak akan biarkan Hendro atau siapa pun menghancurkan hidup kita.”

Rossa mengangguk, meskipun air matanya masih menetes. “Aku tahu, Ga. Aku percaya sama kamu.”

Rossa turun dari mobil dengan hati yang sedikit lebih tenang, namun ia tahu bahwa pertempuran Arga dengan masa lalunya belum selesai. Hendro masih menjadi bayangan besar yang harus dihadapi, dan malam itu, ia yakin Arga akan melangkah lebih jauh dalam mencari kebenaran, apapun risikonya.

Usai mengantar Rossa, Arga memerintahkan Yuda untuk pulang tanpa mengikuti Arga.

Yuda akhirnya menuruti kemauan Arga. Tanpa penolakan.

Sementara, sejenak... Arga duduk bersandar di bangku kemudi mobilnya. Ia memejamkan mata tak tahu lagi kemana ia harus mencari tahu' siapa yang tega pada Dita.

Dan kali ini juga, pikirannya tak hanya pada kasus, bahkan masa lalunya. Tapi kenyataan yang harus ia hadapi tiap hari... Yaitu ayahnya.

Setiap langkahnya pulang, menuju rumah mewah itu' baginya sangatlah berat. Meski ada wanita yang mencintainya lebih dari Rossa... Namun wanita itu tak bisa melawan suaminya, demi membelanya.

Seketika di dalam mobil itu, Arga lupa untuk kembali pulang... Hingga waktu, hari, berganti menunjukan pukul tiga pagi.

Mobil Arga, masih terparkir di depan apartemen Rossa.

Lihat selengkapnya