Sampai di apartemen Rossa, tempat itu terasa nyaman bagi Arga.
Aroma ruangan yang lembut, cahaya lampu yang hangat, dan suasana sunyi tanpa tekanan… semuanya berbeda dari rumah besarnya yang dingin.
Entah mengapa, Arga serasa tak mau pulang.
Ia berdiri beberapa detik di ruang tamu, menatap sekeliling. Tidak mewah berlebihan. Tidak luas seperti rumahnya. Tapi terasa hidup.
Rossa menutup pintu perlahan.
“Kamu duduk dulu,” katanya pelan. “Aku ambilkan air.”
Arga mengangguk, lalu duduk di sofa. Tangannya saling bertaut, kepalanya sedikit menunduk. Untuk pertama kalinya malam itu, ia tidak merasa harus terlihat kuat.
Rossa kembali membawa segelas air hangat dan menyerahkannya.
“Minum.”
“Terima kasih.”
Sunyi lagi. Tapi bukan sunyi yang menekan.
Arga menghela napas panjang. “Ros…”
“Iya?”
“Aku nggak tahu kenapa… tiap mau pulang, rasanya berat banget.” Suaranya rendah. Jujur. “Seolah-olah aku harus pakai topeng lagi.”
Rossa duduk di sampingnya, tidak terlalu dekat, tapi cukup untuk membuatnya merasa ditemani. “Kamu capek jadi kuat terus.”
Arga tersenyum tipis. “Di rumah itu… papa selalu lihat aku sebagai penerus. Sebagai CEO. Bukan sebagai anak.”
Ia menatap lantai. “Dan mama…” suaranya melembut, “dia selalu ada. Tapi dia nggak pernah bisa benar-benar membelaku.”
Rossa tahu. Wanita itu mencintai Arga, tapi tak pernah berani melawan suaminya.
“Kamu boleh lepas topeng di sini,” ucap Rossa pelan.
Arga menoleh.
“Di sini kamu bukan CEO. Bukan anak yang harus sempurna. Kamu cuma Arga.”
Tatapan Arga berubah. Hangat. Rapuh.
“Aku takut terbiasa,” katanya pelan.
“Terbiasa apa?”
“Terbiasa merasa tenang di sini. Takut nanti kalau suatu saat… aku nggak bisa lagi ada di sini.”
Rossa menatapnya dalam. “Selama aku di sini, kamu selalu punya tempat.”
Hening.
Arga memejamkan mata sejenak, lalu bersandar ke sofa. Bahunya turun perlahan, seolah beban di sana sedikit terangkat.
“Aku nggak mau pulang malam ini,” akunya akhirnya, hampir seperti anak kecil yang lelah.
Rossa berdiri pelan. “Kamar tamu siap. Kamu bisa tidur di sana.”
Arga mengangguk, tapi sebelum berdiri ia berkata pelan... “Terima kasih sudah jadi rumah, Ros.”
Langkah Rossa terhenti sesaat. Dadanya menghangat.
“Kalau begitu,” jawabnya lembut, “istirahatlah. Rumah nggak akan pergi ke mana-mana.”
Dan malam itu, untuk pertama kalinya setelah sekian lama, Arga tidur bukan karena kelelahan semata... melainkan karena ia merasa aman.
...
Keesokan paginya.
Cahaya matahari masuk perlahan dari balik tirai, menyinari sudut-sudut apartemen Rossa yang hangat.
Rossa sudah rapi dengan pakaian kerjanya. Rambutnya terikat sederhana, wajahnya segar meski semalam tidurnya tidak sepenuhnya tenang. Sesekali ia melirik ke arah kamar tamu.
Arga belum bangun.
Rossa menarik napas pelan. Ia berjalan ke dapur kecil, menyiapkan sarapan seadanya... nasi goreng. Aromanya perlahan memenuhi ruangan.
“Semoga dia mau makan,” gumamnya pelan.
Setelah selesai, Rossa melirik jam.
Hampir jam tujuh.
“Ya ampun…”
Ia ragu sejenak, lalu akhirnya berjalan menuju kamar tamu. Mengetuk pelan.
Tok… tok…
“Ga… bangun…”
Tidak ada jawaban.
Rossa menggigit bibir, lalu perlahan membuka pintu dan masuk.
Arga masih tertidur. Posisi tidurnya agak miring, wajahnya terlihat lebih tenang dari biasanya. Tanpa ekspresi dingin. Tanpa beban.
Rossa mendekat sedikit.
“Ga…” panggilnya lagi, lebih pelan.
Ia mengulurkan tangan, menyentuh bahu Arga pelan.
“Bangun… udah pagi…”
Arga mengerjap. Pelan membuka mata.