Belenggu Masalalu

Dinar sen
Chapter #27

Ancaman amplop coklat

Rossa menarik napas pelan, mencoba menenangkan dirinya sendiri sebelum menenangkan Arga.

“Udah… jangan dipikirin dulu,” ucapnya lembut. “Sarapan dulu, ya.”

Arga diam. Tatapannya masih keras, pikirannya jelas masih terjebak pada ancaman itu.

“Aku nggak lapar,” gumamnya singkat.

Rossa menggeleng pelan. “Harus. Kamu butuh tenaga. Nggak bisa hadapi semuanya dengan kepala kosong.”

Arga ingin membantah.

Tapi saat menatap Rossa…

ia menyerah.

“Ya udah,” katanya akhirnya pelan.

Rossa tersenyum tipis, lalu mendorongnya duduk di kursi makan. Ia mengambil piring, menyajikan nasi goreng yang masih hangat.

“Ini nggak seberapa,” ucapnya, “tapi setidaknya kamu makan.”

Arga mengambil sendok.

Suapan pertama terasa hambar.

Tapi entah kenapa… ia tetap makan.

Pelan.

Sampai habis.

Rossa memperhatikannya diam-diam. Ada lega kecil di dadanya.

“Udah?” tanyanya pelan.

Arga mengangguk. “Makasih, Ros.”

“Hmm.”

Tak banyak kata.

Tapi cukup.

Beberapa menit kemudian, mereka sudah berada di mobil Arga.

Mesin menyala.

Perjalanan dimulai.

Kota mulai ramai, tapi suasana di dalam mobil terasa berbeda.

Sunyi.

Bukan sunyi nyaman seperti tadi malam.

Tapi sunyi yang penuh pikiran.

Rossa melirik Arga beberapa kali.

Wajahnya tenang seperti biasa.

Tapi rahangnya kaku.

Lihat selengkapnya