Belenggu Masalalu

Dinar sen
Chapter #28

Hati tak tenang

"Belum bagaimana, Arga? Masalah itu sudah lama... Dan itu bahkan sangat lama."

Arga mengalihkan pandangan, ia melangkah mendekati bangku taman. Arga duduk menundukan kepala, tangannya saling bertautan.

"Hendro kak... Adik almarhum Raka, dia... Dia masih menuduhku, sebagai penyebab Kematian kakaknya."

Arman seketika menoleh pada Arga, ia mendekat.

"Kakak masih nggak ngerti, Ga? Lantas apa hubungannya dengan kamu menginap di apartemen Rossa?"

Arga mengangkat wajahnya, "kak, aku pusing... Aku bingung ngadepin ini, aku semalam datang ke rumah Hendro, aku curiga Hendro yang bunuh Dita karyawan di perusahaan ini. Dan Rossa juga ada yang mengikuti kak, aku bingung sendiri kak... Kalau aku pulang papa selalu membuat kepalaku serasa ingin pecah."

Siang itu, taman belakang kantor tampak lebih sepi dari biasanya.

Angin bergerak pelan, menggoyangkan daun-daun kecil di sekitar bangku tempat Arga duduk.

Arman berdiri beberapa detik menatap adiknya.

Untuk pertama kalinya setelah sekian lama... ia melihat Arga benar-benar lelah. Bukan lelah karena pekerjaan. Tapi lelah karena hidup.

“Kamu ngomong soal Dita yang dibunuh?” tanya Arman pelan, duduk di sampingnya.

Arga mengangguk kecil.

“Dan kamu yakin Hendro terlibat?”

“Aku nggak tahu…” jawab Arga lirih. “Tapi semua arahnya ke dia. Ancaman. Sedan hitam. Email anonim. Nama Hendro muncul terus.”

Arman terdiam.

Tatapannya berubah serius.

“Polisi?”

“Aku tetap jalanin prosedur,” jawab Arga cepat. “Tapi rasanya ada yang lebih besar dari ini.”

Ia mengusap wajah kasar.

“Dan yang bikin aku makin nggak tenang…” Arga menoleh pada Arman, “mereka mulai nyeret Rossa.”

Arman langsung mengernyit.

“Apa maksudnya?”

“Ada yang ngikutin dia beberapa hari terakhir. Aku takut dia jadi target berikutnya.”

Suasana mendadak terasa lebih berat.

Arman menghembuskan napas panjang, lalu menyandarkan tubuhnya ke bangku.

“Kamu tahu kenapa kamu makin hancur sekarang?” tanyanya pelan.

Arga diam.

“Karena kamu ngadepin semuanya sendirian.”

“Aku udah biasa.”

“Itu masalahnya.” Arman menatap lurus ke depan. “Kamu terlalu biasa nahan semuanya sendiri sampai lupa caranya minta tolong.”

Arga tertawa kecil.

Tapi hambar.

“Kak…” suaranya mengecil, “aku capek.”

Kalimat itu akhirnya keluar.

Dan Arman langsung menoleh.

Arga menunduk lagi.

“Aku capek jadi orang yang harus kuat terus.” Rahangnya mengeras. “Di kantor aku harus tenang. Di rumah aku harus nurut sama papa. Di luar aku harus cari pembunuh Dita. Dan setiap malam…” ia menarik napas berat, “aku masih dihantui Raka.”

Hening.

Nama itu masih menyisakan luka.

Arman menatap adiknya lama sebelum akhirnya berkata pelan,

Lihat selengkapnya