BELLA DAN JENNY

Ira A. Margireta
Chapter #1

1. Sangat menyebalkan

Kamar yang berantakan penuh dengan pakaian yang belum dilipat, buku yang berserakan, dan bungkus makanan yang belum sempat dibuang—itulah kamarku. Kamar paling nyaman bagiku.

Bukannya aku tidak mau membereskannya. Hanya saja rasa malas selalu datang lebih dulu daripada niat untuk bersih-bersih.

Di kamar yang masih gelap karena tirai belum dibuka, aku tertidur pulas. Dalam mimpiku, ada seorang pria tampan yang sedang memandangiku dengan lembut saat aku tidur.

Perlahan aku membuka mata, lalu menguceknya beberapa kali.

“Apa ini mimpi?” gumamku dalam hati.

Dia benar-benar ada di sana. Duduk di sampingku sambil tersenyum.

Matanya sipit, hidungnya mancung, bibirnya tipis berwarna merah muda. Rambut hitamnya tersisir rapi memperlihatkan dahinya yang lebar—penampilan yang membuatku tergila-gila padanya.

Pria yang biasanya hanya bisa kulihat di layar ponselku.

Namun tiba-tiba—

BRAK!

Suara keras merusak semua keindahan mimpiku. Aku langsung membuka mata karena kaget. Ternyata ibuku.

Beliau berdiri di ambang pintu kamarku dengan wajah penuh amarah.

“BANGUN! Kamu tahu ini jam berapa?!” bentaknya.

Aku masih setengah sadar ketika ibu berjalan masuk ke kamar yang berantakan ini.

“Perempuan harusnya sudah di dapur bantu ibu! Malah masih tidur!” lanjutnya dengan suara yang semakin keras.

Ibu membuka tirai jendela dengan kasar hingga cahaya matahari langsung menyerbu masuk. Mataku menyipit karena silau. Ibu selalu menghancurkan mimpiku.

Padahal aku hanya ingin bertemu idolaku sedikit lebih lama di dunia mimpi. Seperti biasa, omelannya tidak pernah berhenti. Dan seperti biasa juga ada satu nama yang selalu disebut—Kakakku.

“Harusnya jadi perempuan sudah bantu ibunya di dapur, memasak, nyapu, sudah harum! lihat kakakmu, kamu contoh dia...”

Kalimat itu lagi.

Setiap hari.

Setiap saat.

Aku sangat membencinya. Kadang aku sampai berpikir—Apakah aku ini benar-benar anaknya?

Pikiran itu terus menghantuiku seperti bayangan yang tidak pernah pergi.

Suara ibu yang terus mengomel perlahan berubah seperti dongeng yang membosankan. Tanpa sadar kelopak mataku mulai terasa berat lagi.

Aku hampir tertidur kembali. Namun ibu sepertinya menyadarinya.

Plak!

Tangannya memukul lenganku. Tidak sampai berdarah, tapi cukup membuatku meringis.

“Mandi! Perempuan harusnya sudah mandi! Harum! Bukannya jorok! Bau!”

Cara ibu mengatakannya begitu jelas, seolah sedang membaca teks dengan sangat tartil. Telingaku rasanya mau meledak. Aku benci disuruh-suruh. Aku hanya ingin melakukan sesuatu jika aku memang ingin melakukannya.

“Iya, ini aku ambil baju!” jawabku dengan nada kesal.

Mimpi indah yang tadi membuatku enggan kembali ke dunia nyata kini benar-benar hancur. Semua karena teriakan singa yang mengaum sejak pagi. Dan singa itu… Ibuku sendiri.

***

Angin pagi berhembus lembut, membawa udara yang segar. Matahari baru saja naik, cahayanya hangat menyinari jalan yang kulewati menuju sekolah.

Hari yang cerah. Hari yang sebenarnya cukup menyenangkan, jika saja aku tidak mengingat omelan ibu tadi pagi.

Aku berjalan santai di trotoar sambil memasang earphone di telingaku. Musik favoritku mengalun pelan, membuat suasana hatiku perlahan membaik.

Aku bahkan ikut bernyanyi pelan.

“Nanananana…” gumamku mengikuti irama lagu.

Tiba-tiba—

“BOO!”

“Ahh!” teriakku kaget.

Aku hampir saja menjatuhkan ponselku. Jantungku rasanya seperti copot dari tempatnya. Dengan cepat aku menoleh ke belakang. Ternyata Siska dan Mia berdiri di sana sambil tertawa puas.

“HAHAHA! Lihat mukanya!” kata Siska sambil menepuk bahu Mia.

Lihat selengkapnya