Taksi Burung Biru membawa Popy dan Cori menuju Nagoya, yaitu pusatnya hiburan, pertokoan, dan kawasan pecinan di Batam. Warga Batam menyebut daerah Lubuk Baja ini dengan nama Nagoya bukan karena orang Jepang pernah menguasai kawasan ini, tapi karena perusahaan Jepang pernah ditunjuk untuk membangun sarana vital di daerah Lubuk Baja pada tahun 1970-an. Para pekerja Jepang menyebut tempat hiburan, makan, dan minum di Lubuk Baja sebagai Nagoya. Sampai detik ini, penyebutan itu tetap dipakai warga Batam meskipun nama Nagoya sendiri tidak pernah masuk dalam penamaan daerah secara resmi di Batam.
"Teman Bunda udah lama tinggal di Nagoya?"
"Hm, sepuluh tahun ada kayaknya. Dia pindah ke sini ikut suaminya," cerita Popy. "Setelah itu dia nggak pernah lagi pulang ke Jakarta walaupun suaminya meninggal tiga tahun yang lalu. Bunda pengin temu kangen sama dia. Mumpung lagi di sini," tutur Popy semangat.
"Teman Bunda pasti senang didatengin Bunda."
"Tentu. Dia pengen traktir Bunda sama roti dan kue buatan tokonya, lho."
"Oh, beliau punya toko kue di Batam, Bun?"
"Iya. Terkenal, lagi."
"Nama tokonya apa, Bun? Mana tahu Cori pernah ke sana."
"Romaine Bakery. Pernah beli? Tia itu chef pastri lulusan luar negeri. Kue buatannya? Enak banget!"
Cori diam-diam mendesah.
Dunia memang benar sesempit daun kelor. Mau menghindar, justru lewat orang lain yang membuat Cori bertemu ibu kandungnya.
Tuhan, Engkau pasti telah merencanakan ini bagi kami, kan? Ini ... pasti yang terbaik bagi hamba, kan? rapal Cori dalam hati.
"Belum, Bunda. Mungkin ... nanti akan Cori coba."
Mungkin ....
Ah, Cori pasrah takdir akan membawanya ke mana.
"Bu, kita sudah sampai," ujar supir taksi.
Cori kembali disambut dengan bangunan ruko dua lantai yang terkesan sangat homey. Kaca lebar dan bersih dipasang sebagai jendela, membuat lampu kuning hangat berpendar hingga ke halaman meski langit Batam belum kehilangan sinarnya.
Beberapa kali Cori larikan tangannya ke dada demi mengusir kegugupan yang tiba-tiba mendera.
The moment of truth.
Akhirnya ia menginjakkan kaki di Romaine Bakery. Matanya langsung menjelajahi interior toko, menelisik sentuhan tangan ibunya. Hasil penilaian singkat Cori adalah, ibunya menyukai kesederhanaan nan elegan. Mutia ingin menonjolkan karya baking-nya daripada interiornya. Beberapa rak kayu berisi berbagai macam roti berjejer di dinding kiri dan kanan. Ada meja kecil di tengah sebagai tempat display kue-kue kering.
Sebagai pertunjukan utama, di bagian ujung berdiri sebuah etalase pendingin cukup besar berisikan kue-kue cantik penuh kreasi seni seorang pastry chef. Isi pajangannya membuat ngiler siapa pun yang beruntung menoleh ke etalase kaca itu.
"Mbak Popy. Maaf baru bisa bertemu hari ini."
Deg.
Suara itu membuat Cori meningkatkan level kewaspadaannya. Tubuhnya tiba-tiba menegang. Ia tahu dua wanita itu berada di belakangnya dan ia sama sekali tidak bisa menggerakkan badan.
Popy menyambut Mutia dengan sebuah pelukan hangat, bagaikan pelukan seorang kakak pada adiknya.
"Sukses kamu sekarang, Tia."
"Berkat doa Mbak Popy. Lagian, untuk apa lagi aku hidup kalau bukan untuk pastri dan anakku?"
"Itu yang penting," timpal Popy.
Untuk anakku, cebik Cori dalam kepalanya.
Cori tersenyum kering. Ia sampai menggigit bibir bawahnya amat keras hingga perih terasa. Seberkas amarah tiba-tiba menyerang saat Mutia membicarakan 'anaknya'.
"Mbak Popy sendirian aja?"
"Astaga, aku sampai lupa. Aku ke sini ditemenin sama teman anakku. Cori? Sini, Nak."
"Tuhan, kuatkan hatiku," bisik Cori.
Cori berbalik pelan setelah mempersiapkan senyum profesionalnya yang sering muncul di meja front liner.
"Selamat sore, Bu Mutia," sapa Cori ramah. "Kita bertemu lagi."
Hai, Ma. Apa kabar? gemanya di kepala.
Mutia terkejut luar biasa. Ia tidak pernah mempersiapkan hatinya untuk bertemu darah dagingnya secepat ini. Dan terlebih di tokonya sendiri.