Ben & Cori

Steffi Adelin
Chapter #32

32. Ini, nyata?

"Tentu. Aku sold out-nya sama si Gadis Ketumbar yang sedang kebingungan ini."

Aku? Si gemuk yang nggak cantik-cantik amat ini? protesnya tak percaya di kepala.

"Ini maksudnya apa? Abang, tolong jangan bikin aku bingung." Sendi tulangnya melemas, jantungnya berdetak lebih kencang dari biasanya. Cori ... takut kecewa dengan kesimpulannya sendiri.

"Aku sukanya kamu. Bukan Agni. Bukan perempuan lain. Bukan dia yang entah siapa."

"Tapi ... kenapa aku?" Gadis itu menjauhkan diri dari piring kwetiau goreng dan fokus seratus persen pada Ben. Cori butuh penjelasan yang sangat masuk akal!

"Karena aku ingin menjalani hubungan yang lebih serius dengan anak Papa Sudjana. Aku ingin hubungan kita lebih dari sekedar teman kantor, teman SMA, dan tetangga. Aku ingin kamu seutuhnya. Jadi ... istriku."

Gadis itu terkesiap dan membekap mulutnya.

Istri Abang? Ini, beneran? Ini, nyata? batinnya tak percaya.

"Abang ...."

Cori menahan napas dan tak mampu bergerak seinci pun ketika Ben menjamah jemarinya yang bengkak satu per satu.

"Kayaknya kita perlu ke toko perhiasan untuk meng-adjust ukuran cincinnya supaya pas di jari manis kamu."

Dalam sekejap pandang, cincin yang sedari tadi Ben sandingkan ke semua jemari telah bersarang dengan manis di jari terkecil Cori.

"Cincin ini sudah berada di tangan pemiliknya yang baru. Simpan baik-baik untukku, Coriander Romaine Sudjana," ucapnya pelan, lembut, dan langsung ke dalam bola mata si tetangga nomor lima.

Cori tak lepas menatap sendu jari kelingkingnya. Tetap indah, meski bukan di tempat yang tepat.

"Kalau kamu masih belum percaya, aku akan menawarkan sekali lagi sebuah proposal kerja sama seumur hidup dengan keuntungan seumur hidup juga."

Ini dia! Cori menunggu-nunggu Ben mengungkit soal proposal misterius ini.

"Baiklah. Apa proposal yang sering Abang janjikan itu?"

"Judul proposalnya, 'Menikahlah denganku, Cori'."

Lidahnya mengelu karena saking kagetnya. Tidak pernah terpikirkan olehnya kata 'menikah' keluar dari mulut Ben.

"Abang ...."

"Begini gambaran umum proposalnya." Ben meraup tangan kanan Cori dan mengurungnya dalam geganggamannya. "Jadi istriku, jadi ibu untuk anak-anak kita nanti. Kalau dikasih rezeki anak, ya syukur. Tapi kalau enggak dikasih, tetap bersyukur."

Senyum Ben di akhir kalimat membekukan otaknya dan melenyapkan suaranya. Sebab, baru saja ia diberi guyuran khayalan yang sangat indah. Cori sempat membayangkan sebentar saja bagaimana jikalau ia menjadi Nyonya Adriansyah. Hanya khayalan, tak mau berharap lebih.

Karena Cori diam saja, Ben melanjutkan. Ia meremas tangan Cori yang mendingin.

"Keuntungan dunia dan akhirat akan kita raih bersama hanya jika aku menjadi imam kamu, dan kamu menjadi makmumku dengan segala kekurangan dan kelebihan kita. Aku manusia yang nggak sempurna, Cori. Akan tetapi, aku mau belajar. Syarat proposalku hanya ini: kita berdua harus mau sama-sama belajar menjadi pribadi baik untuk keluarga kita nanti. Belajar itu luas cakupannya. Belajar jadi istri, jadi suami, jadi orang tua, belajar berumah tangga, belajar mengendalikan emosi, belajar bertanggung jawab, dan belajar-belajar yang lain."

Cori menekan dada dengan tangannya yang bebas. Dentamannya terasa kencang di telapak tangannya, malah tiap detik semakin bertabuh cepat.

"Abang ... yakin denganku bisa memberikan keuntungan dunia dan akhirat?"

"Ya, jika niatnya memang untuk ibadah. Itu kata salah seorang ustadz yang pernah aku dengar," jawabnya tegas.

Sungguh, transaksi yang amat besar dan berat konsekuensinya. Laporan pertanggungjawabannya langsung ke Tuhan, batin Cori.

"Abang ... serius mau sama aku?" Suaranya mulai bergetar.

"Tidak pernah lebih serius daripada hari ini, seumur hidupku," ucapnya yakin.

Bulir-bulir air mata turun tanpa bisa dicegah. Cori sampai menarik tangannya dan menyembunyikan wajahnya dalam kedua telapak tangan. Malu, sedih, bahagia, semua bersorak serentak dalam dadanya, membuat gadis itu terisak tertahan, tak mau membuat pengunjung Angkringan Onthel tertuju padanya.

"Cori! Kamu nggak apa-apa? Aku buat kesalahan, ya? Maafin aku. Hm? Cori, please stop nangis," mohon Ben.

Justru pria di depannya berubah panik. Padahal barusan ia melamar Cori, menjanjikan masa depan, dan ingin membahagiakannya. Kenapa si Gadis Ketumbar menggemaskan ini justru menangis? Ben benar-benar tidak mengerti wanita.

"Aku ... pasti ... lagi mimpi," ucapnya tergugu, masih di dalam telapak tangannya.

"Kamu nggak lagi mimpi," ucapnya lembut.

Pelan, Ben menarik kedua tangan Cori lalu mengeringkan air mata yang masih saja mengalir di pipi si chubby dengan tisu. Cori memasrahkan diri.

"Tapi Abang tahu konsekuensi menikah denganku, kan?"

"Konsekuensi apa?" Keningnya berkerut samar.

"Pertama, aku gendut." Cori tahu Ben akan menyela, jadi Cori cepat-cepat bicara lagi. "Apa kata mereka kalau kita jalan bareng? Secara fisik aku enggak pantas bersandingan dengan ... Abang."

"Mereka siapa?" kesal Ben.

"Siapa aja," ucapnya putus asa.

"Percayalah, aku nggak peduli. Next."

"Tapi—,"

"Coriander," potongnya tak sabar. Ben tidak mau berlama-lama dengan alasan 'gendut' yang tidak masuk akal.

Cori memutar bola matanya. Tidak bisa semudah itu untuk percaya kalau mantan seorang Benjamin Malik Adriansyah sekelas Agni.

"Mas Arga meninggalkanku demi Kak Riri."

"Si berengsek itu bodoh karena meninggalkan wanita seperti kamu. Kamu mempunyai segalanya, Cori. Kamu baik, cantik, cerdas, punya prinsip, meski kadang-kadang aku suka gemas dengan insecure kamu yang enggak ketulungan. Aku punya banyak PR bikin kamu lebih pede menghadapi dunia. Oh, last but not least, masakan kamu enak. Yang terakhir adalah bonus." Ben tersenyum bangga untuk kriteria terakhir.

Lihat selengkapnya