Ben & Cori

Steffi Adelin
Chapter #38

38. Apa rasanya?

Perjalanan bolak-balik antarpulau yang dilakukannya dalam seminggu membuat tubuhnya butuh istirahat. Ben sedang berada dalam posisi jenuh dan butuh dijauhkan dari yang namanya pemeriksaan unit, laporan, komputer, laut, perahu, dan kantor.

Dan Ben butuh menyegarkan matanya dengan pemandangan yang segar-segar seperti ... menatap wajah si Gadis Ketumbar.

Ben rindu gadis gempalnya.

Maka dari itu, ia sudah berdiri di depan pintu nomor lima lengkap dengan celana basket selutut, kaus putih lengan pendek, topi, dan sepatu kets. Sedikit berkeringat di pagi nan cerah ini tidak akan menyakitkan.

"Cori, ini aku," sorak Ben, kemudian ia mengetuk daun pintu tiga kali.

Sudah lima menit menunggu, tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam yang Ben dengar.

"Apa Cori belum bangun?" gumam pria itu.

Ben mengetuk pintu itu sekali lagi. Setelah satu menit penuh menunggu, Ben mendengar langkah kaki terseok-seok mendekati pintu. Dada Ben berdebar entah untuk apa dan ia berdehem beberapa kali. Padahal, baru semalam mereka menghabiskan waktu di restoran Korea dan Ben hampir melakukan hal di luar nalarnya.

Pshhh ....

Pipi pria ini memanas mengingat kelakuannya. Lebih tepatnya pikirannya yang meliar.

Sadar Ben! Jaga Cori dari pikiranmu! peringatnya dalam kepala. Ben kembali menata ekspresinya.

Muka bantal, mata setengah tertutup, rambut mencuat di mana-mana, dan wajah polos tanpa apa-apa menyambut Ben di pangkal pintu. Tak sadar garis senyumnya tertarik ke kiri dan ke kanan.

"Pagi, Coriander," sapa Ben riang.

"Hm. Pagi," balas suara serak itu. Cori menyugar rambut kusut masainya agar sedikit lebih presentable.

"Baru bangun?"

Cori mengangguk, kemudian mulutnya menguap lebar. Seolah tersadarkan akan sesuatu, perempuan setengah sadar itu buru-buru berkata, "Aku lagi libur bulanan."

"Ooh."

"Abang mau ke mana? Rapi banget," tanyanya. Ia mulai mengintip dari balik kelopak yang terekat erat demi sosok tegap yang sudah rapi dan ... harum. Indra penciumannya menangkap aroma kayu, rempah, dan alam, membuat mata Cori terbuka lebih mudah. Begitulah efek Ben pada dirinya.

"Olahraga, yuk?" ajak Ben tanpa basa basi.

"Yang benar aja, Abang." Gadis itu memutar bola matanya. "Aku masih pengin tidur," protes Cori. Cori memilih duduk di kursi rotannya dan menyandarkan diri sambil memejam mata.

Sisa mengantuk tadi masih ada dan kalau bisa Cori ingin memanfaatkan waktu yang sedikit ini untuk menyambung mimpi.

Meski kecewa, tapi Ben tetap mengekori kekasihnya untuk duduk di seberang meja. Pria itu mengamati wajah gadisnya yang disapu sinar keemasan mentari pagi dan lampu teras yang tak lagi berfungsi, sebab matahari perlahan bangkit dan kini menyinari teras kecil rumah nomor lima.

Diam-diam, Ben mengambil kesempatan merekam seseorang yang mencoba berinisiasi untuk tidur kembali. Rambut legamnya tergerai berantakan, herannya tetap berkilau. Tangannya tak sadar menjangkau sejumput rambut Cori di bahu dan mengelusnya pelan-pelan.

Lembut...

Kini, matanya menelusuri alis kekasihnya yang bak semut berarak. Tebal dan tumbuh alami. Matanya ... sedikit bengkak.

Kemudian pandangan Ben jatuh pada hidung kekasihnya yang bulat menggemaskan. Rasanya ingin Ben cubit cuping hidungnya yang menurut Ben ... imut. Sangat pas dipasang oleh Sang Pencipta yang Maha Sempurna di wajah Cori.

Lihat selengkapnya