Kebohongan masihlah menjadi kebiasaan bagi makhluk bernama manusia. Sebuah kebohongan mampu membuat semua yang mustahil menjadi mungkin terjadi, itu pendapatku saat ini. Akan tetapi, semua kebohongan tetaplah kejahatan, bukankah pada akhirnya tetap begitu. Bahkan dalam hidup ini, kebohongan adalah senjata yang digunakan oleh semua orang dalam bertahan hidup di dunia yang paling kejam. Setidaknya dengan berbohong kau bisa bertarung dengan aman melawan kerasnya kehidupan. Sebetulnya ada sebuah alasan dibalik perkataanku itu, sebuah alasan yang sangat sederhana.
"Aku adalah gadis yang paling mengerti akan hal itu daripada siapapun saat ini." Alasannya hanya itu.
Sebenarnya apa yang sedang aku pikirkan. Dingin yang aku rasakan ini membuat pikiranku kemana-mana. Entah apa yang terjadi. Sekali lagi, sebenarnya ada apa denganku saat ini.
"Apa yang terjadi saat ini?" batinku bergetar. Tubuhku mati rasa, tidak bisa aku gerakkan sama sekali. Semuanya gelap.
"Kenapa aku tidak bisa merasakan semuanya?" kini nuraniku berteriak. Kelopak mataku mulai perlahan terbuka terbangun dari kegelapan yang aku rasakan sesaat. Sekilas pemandangan yang aku lihat ini mengingatkanku pada kepingan puzzle yang tersisa, itu yang aku rasakan.
Kala itu kepingan puzzle terakhir tergeletak disampingku. Ada satu tempat tersisa untuk meletakkannya demi menyelesaikan permainannya, letak tempatnya tepat berada di tengah-tengah papan permainan. Sama seperti itu, diriku bagaikan kepingan puzzle yang tersisa di lautan mayat yang terbakar di tempat ini, tepat diriku saat ini terbaring lemas ditengah tengah pusat perbelanjaan gedung. Semuanya berantakan, penglihatanku kabur, tidak jelas sama sekali apa yang kulihat, hanya sedikit yang bisa aku lihat. Aku tidak bisa kemana-mana, terjebak meratapi nasib layaknya kepingan puzzle terakhir yang nasibnya sudah jelas. Begitu pula dengan diriku, sudah jelas kematianku ini tepat berada di hadapanku sekarang. Semuanya akan berakhir dengan aku yang tak bisa berbuat apapun.
"....."
Andaikan saja aku, andai saja aku bisa mengulang kembali waktu. Aku ingin semua ini tidak pernah ku alami, bagusnya tidak pernah terjadi sama sekali.
Kobaran di dalam gedung ini terus menerus mengamuk sejadi-jadinya. Aku yang terkapar di tengah kerumunan api ini melihat satu cahaya di depan sana. Cahaya itu begitu berbeda dengan apa yang aku ketahui sebelumnya, tidak ada cahaya yang sama dengan semua cahaya di sekelilingku.
Aku mencoba bicara, tapi hasilnya terbata-bata, terbatas dengan keadaan tubuh rusak ini "Itu pintu keluar tadi ...."