Benang Merah dan Biru

Miftah
Chapter #2

Another Side

Sebuah melodi bising dari riuhnya kehidupan kota menjadi saksi akan keberadaanku. Tak lama bagiku untuk menyadari sebuah kenyataan pahit bahwa manusia memilih untuk mementingkan dirinya sendiri dari pada orang lain, padahal sebenarnya semuanya saling terhubung satu sama lain. Ya, saat ini aku adalah bagian dari mereka.

Mereka yang sibuk akan pekerjaannya masing masing, mereka yang sibuk dengan kemewahannya sendiri tanpa mempedulikan orang di bawah mereka. Rasa iba, kasihan, amarah, dan harapan. Semuanya terkumpul pada kota ini. Sekali lagi Aku tidak jauh berbeda dari mereka semua. Dalam hidupku ini aku selalu menggunakan berbagai topeng yang membuatku mampu menyesuaikan situasi dan kondisi tempatku berada. Orang orang berkata itu adalalah sikpa dewasa, sikap dimana bisa menempatkan emosi pada tempat seharusnya.

Menjadi seorang mahasiswa adalah sebuah kesempatan yang tak ada duanya, baik dari segi positif ataupun negatif. Semua yang terjalin dalam hidupku ini penuh dengan kebohongan untuk menggapai segala rencanaku. Katanya mahasiswa memiliki kekuatan yang besar untuk mengubah suatu perkara contohnya sebuah Negara, tapi menurutku tidak. Memang benar mereka bisa membuat suatu perubahan besar, akan tetapi perubahan besar itu tak akan merubah masa lalu yang telah terjadi sebelumnya. Bagiku menjadi mahasiswa adalah sebagai batu loncatan agar aku bisa mewujudkan rencana untuk masa depanku bukan untuk mewujudkan impian semua orang, ataupun harapan sesaat. Ya, walaupun aku selalu dituntut untuk melakukan itu semuanya. Akan tetapi jujur saja setiap pribadi manusia memiliki pemahamannya tersendiri. Ini tentang cerita dan alasanku dalam membalas mereka yang telah menginjak injak kehidupanku saat masih kecil.

Aku yang kini memiliki satu kekuatan sebagai mahasiswa, setidaknya akan aku manfaatkan semua yang kumiliki saat ini, tanpa memedulikan harapan yang mereka bebankan padaku, aku akan terus maju mewujudkan hidupku pada duniaku sendiri. Walaupun pada dasarnya aku kurang menyukainya peran ini. Namun, untuk membalas kejadian itu aku akan melakukan apapun.

Membalas orang orang dewasa yang menutup mata atas kematian sebagian keluargaku, dalam lautan api di mall itu.

"Aku harus bisa ...." batinku.

Beberapa mahasiswa di universitas ini melakukan berbagai aktivitas sibuk mereka. Tak jauh berbeda, kini aku tengah duduk mendengarkan musik kesukaanku. Sebuah melodi dari suara benang yang digesek nyaring merangkai alunan khas yang tak bisa ku jelaskan dengan kata kata. Dulu aku sempat ingin mempelajarinya alat musik gesek bernama violin, namun usahaku selalu sia-sia karna dihantam oleh keadaan dan kesibukan yang tiada akhirnya. Tugas, organisasi, entah sejak kapan aku menjadi terjerumus pada dunia itu.

Memang berbagai manfaat telah kudapatkan, pengalaman, ilmu bahkan relasiku bertambah. Tapi dengan kudapatkan semua itu aku lupa pada satu hal yang membuatku merasa hampa hingga saat ini. Sebuah pertanyaan yang mungkin saja belum ku ketahui jawabannya dan terus menerus menjadi sebuah titik buntu serta jurang terdalam dalam keseharianku.

"Sebenarnya, tujuanku mengikuti, dan melakukan ini semua untuk apa?" Semuanya gelap seketika.

"Apa yang harus aku bisa lakukan kala itu, aku ... Harus apa!" Aku melupakan tujuan awalku detik itu juga.

Perlahan dengan berjalannya arus waktu sesuai dengan porosnya. Aku menyadari satu hal bahwa jiwa dan ragaku ini telah terbawa arus tanpa sadar dan tahu tujuan akhirnya kemana. Tanpa tujuan dan motivasi aku selalu berpikir apa yang membuatku bisa berjalan sejauh ini. Konflik di kepalaku ini terus menerus memuncak kala ku pikirkan kembali waktu dan masa yang ku habiskan hingga detik ini.

"Waktuku terbuang percuma lagi," ucapku pelan.

Cahaya lampu mulai menerang kembali, saat ini kami masih berada di ruang organisasi tepatnya sebuah himpunan mahasiswa pendidikan bahasa dan sastra Indonesia. Aku tengah fokus pada pemikiranku sendiri, menyelami kata-kata mutiara pada buku self improvement yang aku baca dibantu dengan alunan melodi violin yang terus kudengarkan membuat diriku larut dalam pemikiranku sendiri.

"Eh ...." Earphoneku di tarik seseorang. Aku melihatnya perlahan, sosoknya tidak jauh berbeda dengan gadis pada umumnya. Ya, gadis cerewet.

Risma menatapku tajam, "Khali, bisa bisanya kau fokus pada bukumu tadi saat tiba-tiba mati lampu!" Dia mulai duduk sejajar dengan wajahku, bibirnya yang tipis itu terlihat jelas dimataku. Dengan bibir setipis itu aku merasa kagum dia bisa bertahan dari getaran suara yang nyaring dan keluar tanpa henti dari pemiliknya.

"Ayo bantu kami dong, jadi ketua departemen pendidikan kok belagu banget. Apa hanya dengan baca buku begitu bisa membuatmu kelihatan keren dihadapan kami semua para perempuan yang kini piket beramamu?" ketusnya padaku lagi.

Aku menghela nafas mendengar perkataan pedasnya tentang diriku, "lalu, apa masalahnya Risma. Kenapa kamu peduli padaku, tidak biasanya ...."

Saat aku tatap wajahnya itu, kulit putihnya mulai berubah warna menjadi merah muda. Entah rasa malu atau amarah dari emosinya itu, tapi satu hal yang pasti ku ketahui, kala itu sangat sakit sekali.

"Aaaaah ... Risma, berhenti menariknya!" Aku berteriak.

"Biarin, jika kami biarkan kau disini kami dapat masalah loh nantinya dari ketua!" Omelanya semakin menjadi-jadi padahal aku hanya membaca buku di ruang himpunan mendampingi anggota departemen ku yang tengah bertugas. Apa salahnya kan membaca buku.

Tak lama dari itu, aku terus di seret dengan kuat oleh perempuan yang cukup dibilang sudah akrab denganku. Dulu aku satu sekolah dengannya di SMA negeri di daerah ini. Tak perlu kubahas lama akan hal ini, sejauh aku hidup dirinya benar benar tidak berubah sama sekali.

"Kak, aku sudah membawanya!" ucapnya pada ketua himpunan jurusan kami, Rizki. Tanpa pikir panjang tatapanku langsung tepat pada atasanku yang dikenal sebagai ketua Himpunan paling dingin di angkatan kampus kami saat ini.

Ya, melihat sosoknya yang dingin itu tidak heran dia dijuluki serigala salju. Sikapnya yang suka menyendiri dan dingin itu tidak jauh berbeda dengan hewan itu. Aku hanya tersenyum melihatnya. "Kak gimana kabarnya, sehat?"

Tatapannya tetap tak bergeming melihatku tajam. "Sehat kok. Khalid, kenapa aku bisa memilihmu menjadi ketua departemen pendidikan, sikapmu itu bertentangan sekali dengan visi misimu saat dilantik dulu!"

"Eh, benarkah apa sejauh itu aku berubah kapten?"

"Sudahlah masuk mobil sini cepat, dimana yang lainnya Risma?" balasnya singkat.

Tanpa berpikir lama aku menuruti perintahnya itu. Risma duduk di bangku belakang bersamaku. Satu kalimat dari Risma mencairkan suasana tegang ini. Ungkapan kata-katanya masih sama seperti dulu, pedas tajam dan sangat sakit untuk di dengar.

Lihat selengkapnya