Benang Merah dan Biru

Miftah
Chapter #3

Tentang Kekecewaan

Aku masih berpikir kenapa semua orang selalu sibuk dengan urusan mereka sendiri. Kini aku mengetahui alasannya, Terkadang perbedaan pendapat dalam hidup membuat seseorang mulai berpikir egois. Kini aku tidak tahu apa yang harus aku lakukan dalam menanggapi setiap persoalanku. Bahkan saat ini aku dihadapkan dengan persoalan yang tak kuketahui.

"Pak bisakah bantu saya sebentar?"

"Maaf nak, aku harus segera ke tempat kerja," ucapnya tegas.

Aku mencoba mencari pertolongan namun semuanya sibuk sendiri, terlebih rasanya ini adalah kota besar walaupun sedikit berbeda.

"Bu, maukah kau membantuku?"

Perempuan yang kucoba mintai pertolongan hanya mengangkat tangannya menolak permintaan ku. Berbagai orang aku coba kumintai pertolongan, tapi kebanyakan hanya peduli pada diri mereka sendiri. Sejatinya dulu sepertinya aku sama seperti mereka.

Aku hanya bisa terus berjalan ke depan tidak tahu kemana arah yang harus kutuju. Hal ini sejalan dengan kehidupanku yang tak tahu harus apa nantinya di masa depan. Aku tidak mengerti dengan apapun yang aku lakukan. Bahkan aku selalu merasa tidak berguna dan tak bisa melakukan apa-apa setiap kali ku mendengar cerita-cerita orang disekitarku terlebih jika orang itu dengan antusias menceritakan kehidupan suksesnya.

Pikiran tentang diriku yang masih berada di titik ini sedangkan mereka yang telah menempuh jalan semestinya membuatku berpikir ulang, apakah caraku sudah benar, apakah jalan yang kutempuh sudahlah tepat, lalu keputusan yang kubuat apakah bisa ku pertanggungjawabkan. Terakhir apakah perasaanku baik-baik saja, jika iya kenapa semuanya terasa sesak.

Aku terkesan selalu membandingkan pencapainku dengan orang lain. Khususnya orang yang pernah aku kenal. Kini aku merasakannya saat aku sendiri di sini, tidak memiliki identitas, alat komunikasi, bahkan uangpun tidak ada, sampai tidak ada yang mau menjadi tompanganku tuk kumintai pertolongan. Dulunya aku bisa melihat pada hidup seseorang seperti halnya ibu, tapi kini aku benar benar sendiri. Kenapa ini terjadi padaku, aku terus menerus mengingat kejadian lain selama berjalan menyusuri trotoar jalan.

Aku yang begitu paham tentang hal ini mulai merasa tidak ada jalan lain yang bisa aku lakukan. Aku terus berjalan menyusuri setiap lekuk terotoar yang ada, membawa jiwa dan ragaku pada tempat yang belum pasti dimana. Hingga aku menemukan sebuah kursi taman panjang di depan sana. Waktu pada jam tanganku telah menunjukkan pukul dua belas siang. Suara kumandang adzan mulai terdengar keras. Aku menyadari satu hal saat mendengarnya. Tuhan selalu ada di mana saja dan mungkin juga inilah caranya untuk menyadarkan sifatku yang melampaui batas mengenai keegoisan dan kesombongan diri. Padahal aku tidak patut untuk menyombongkan diri, terlebih kini aku baru menyadarinya setelah aku tiba di tempat asing ini.

"Nak, kau sedang apa di sini? Tidak biasanya seorang pemuda duduk termenung, kau harus merayakan keberhasilan kalian!"

Suara pria tua mulai aku dengar. Sontak aku langsung menatapnya, pria itu menggunakan baju muslim lama dengan sarung hitam yang dia keanakan senada dengan pecinya. Aku hanya tersenyum menjawabnya hingga dia mengajakku kembali berbicara.

"Laki-laki kok nangis yang kuatlah, pemuda seumuranmu masih harus berjuang, ayok ikut bapak dulu, kita ke mesjid." tambah pria tua itu.

Jawabanku hanya mengangguk pelan mencoba menenangkan diri dengan segala cara yang aku bisa. Aku pun mengikuti langkah dan ajakannya. Seusai sholat aku hanya tersenyum mengingat apa yang aku alami saat ini. Setidaknya untuk terus hidup aku harus berusaha.

Aku keluar dari masjid lalu duduk di halamannya, memikirkan langkah apa yang harus kulakukan pada situasi ini.

"Aku butuh informasi tempat ini .... Setidaknya jika aku tidak tahu cara untuk pulang aku harus mengenal lebih baik tempatku berada, demi bertahan hidup!" pikirku singkat.

Seharian penuh aku mengumpulkan informasi, butuh perjuangan besar untuk melakukannya. Terlebih aku terus berpindah pindah tempat untuk mengenal lebih jelas adat istiadatnya. Hingga aku dikejutkan oleh sesuatu, sebuah pemandangan seorang ibu yang meminta tolong kepada banyak orang namun tidak ada yang membantunya. Jika aku yang dulu mungkin aku akan melakukan hal yang sama seperti kebanyakan orang di sekitarnya, namun aku mengerti dari siapapun rasa itu. Berharap kepada manusia memang tidak akan pernah menemui akhir yang bagus. Karna itu aku berusaha sendiri mencari segala informasi daripada meminta tolong kepada orang lain, berhubungan tubuhku masih kuat dan umurku masih muda.

Namun, tetap saja pemandanganku ini membuatku kesal kepada mereka yang mengabaikannya. Setidaknya, jika tidak ingin membantu jangan buat ibu tua itu lebih berharap dan terus menerus memintai pertolongan seperti itu.

"Bu, apa ada yang bisa saya bantu?"

"Ibu lupa meletakkan tas belanjaan ibu, padahal itu persediaan makanan untuk seminggu ini," jelasnya.

Aku mengangguk pelan dan mulai berpikir kembali tentang semua yang dialami olehnya. Pantas saja orang mengabaikannya, jika yang hilang adalah barang lebih berharga seperti tas, emas dan lainnya mereka akan mungkin saja mcoba membantu, "Jadi begitu, mari saya bantu bu, berhubung saya memiliki waktu luang."

"Apa nggak papa nak, apakah kamu tidak sedang kuliah?" ucapnya khawatir.

Lihat selengkapnya