Benang Merah dan Biru

Miftah
Chapter #4

Sebuah Amarah

"Bukankah biasanya kamu selalu tidak menghiraukan permintaanku ..." Sebuah suara mulai terdengar olehku. Penglihatanku masih gelap gulita.

"Kamu yang sekarang tidak seperti biasanya, sikapmu sangat berbeda padaku, kala itu kamu kemana ...." Suaranya terdengar kembali olehku. Kini perlahan aku mulai bisa membuka mataku.

Wajah seorang perempuan kini berada sangat dekat denganku, tatapan matanya terasa sangat sedih. Namun di sisi lainnya mata itu memendam rasa amarah yang besar terhadap sesuatu. "Kau sudah bangun?"

Gadis itu bertanya padaku. Aku hanya mengangguk dan menjawabnya singkat, "Iya, sudah ...." Sebelumnya tidak aku rasakan, kini kepalaku tengah berada di pangkuan seorang gadis yang tidak ku kenal bahkan umurnya lebih muda dariku. Jujur, ini membuatku malu.

Saat aku hendak bangkit perlahan tangannya ia letakkan di jidatku. Sentuhan mulai merambat dan pindah hingga ke dua pipiku. Tatapan kami bertemu kembali, tetapi kali ini emosinya sangat kuat dari sebelumnya. Aku bisa menyimpulkan hal ini karena gadis itu mulai menangis.

Tetesan air matanya perlahan menetes di wajahku. Dan disaat yang sama aku dan dirinya tiba tiba berpindah tempat dari lautan padang rumput ke lautan cahaya panas.

Aku mencoba bangkit seketika dan berhasil, saat aku berbalik untuk melihat keadaan gadis yang bersamaku, tiba tiba saja dia menghilang. "Kemana dia ...."

Tempat ini sangat mengerikan, yang hanya bisa kulihat adalah kobaran api di penjuru tempat ini. Sulit untuk melihat dengan jelas di tempat ini, tapi satu hal yang aneh entah kenapa aku melihat kembali gadis itu, gadis yang sebelumnya bersamaku. Dia hanya berdiri kebingungan di depan sana sembari memeluk seekor kucing. Aku ingin menghampirinya dengan segenap kekuataku saat ini. Petunjuk yang aku dapatkan dari kejadian ini hanyalah dia.

"Tunggu jangan pergi!" Aku berteriak kuat berusaha mengalahkan suara kobaran api di sekelilingku, dalam amukan cahaya ini entah kenapa aku tidak merasa terbakar dan sakit bahkan pengap seolah oleh semua ini hanya ilusi belaka yang dia tampilkan padaku.

Saat memikirkan itu, tiba tiba saja aku berada di posisi tergeletak menatap langit langit ruangan ini, "Kenapa, tiba tiba jadi begini ...."

Aku mencoba menggerakkan tubuhku tapi sangat sulit. Aku hanya bisa menggerakkan tubuhku untuk melihat satu cahaya yang berbeda dari cahaya api yang mengelilingku. Rasanya cahaya itu seperti jalan keluar dari tempat ini.

"Aku harus bisa, kumohon bergeraklah!" Aku berteriak keras. Sedikit tubuhku bisa digerakkan tapi tubuhku mulai lemas kembali membuatku hanya bisa menatap langit langit ruangan kembali.

"Kakak, dimana kau!"

"Kakak, tolong aku!"

"Aku .... Nggak mau mati disini!"

Suara itu muncul lagi, suara yang sama dari gadis sebelumnya. Aku belum mengerti, kenapa dia mengatakan semu itu padaku, lalu ada apa dengan situasi ini, seolah olah dia ingin memerlihatkanku sesuatu.

"Kejadian ini ...." Aku terbelalak melihat kenyataan yang aku lihat saat ini.

Tempat ini, bukannya mall yang kemarin aku dan nenek pergi mencari belanjaannya, semua yang ada di dalam sini terbakar. "Kau ingin aku melihat ini ya .... Aku mengerti, jadi siapakah kau sebenarnya."

Tepat saat aku selesai bicara mengatakan apa yang ada di pikiranku, langit langit mall ini ada yang retak dan sebaginya menimpa diriku Sangat keras.

"Braaak ..... Haaaah!"

Pemandangan itu begitu nyata. Kini aku terjatuh dari kasur tempat tidurku. Tempat ku berada masih tidak kukenali, yang berarti aku masih ada di massa lalu bukannya tempatku berada. Kini aku paham akan hal itu, petunjuk yang harus kupikirkan ada banyak hal.

"Perlu aku luruskan semua ini takutnya aku lupa." Aku bangun dan mencari sebuah buku kosong dan alat tulis apapun itu untuk aku gunakan.

Aku mencoba mencarinya di laci meja belajar yang ada, namun yang aku temukan hanyalah jepit rambut melati yang sangat unik. Ini seperti jepit konde China pada zaman dulu. "Apakah ini barang turun temurun dari keluarganya nenek?"

Aku memikirkannya kembali hingga tak sadar aku mengambil dan menyentuhnya, "bukankah nenek itu buah hati campuran Tionghoa dan pribumi ...." Aku melamun kembali, memikirkan setiap poin yang aku temukan saat ini.

"Perasaan apa ini saat aku memegang jepit rambut ini?" Pikiranku teralihkan saat aku mulai menemukan semacam perasaan aneh dalam diriku. Sebuah perasaan berat yang entah muncul dari mana. Saat aku bergerak aku tergelincir karena menginjak berbagai barang yang aku keluarkan dari laci ini. "Aku jatuh, tapi apa apaan penglihatanku ini, apa ini kilas balik kembali, apa aku bermimpi lagi?"

Aku jatuh dan rasanya sangat sakit. Namun yang terjadi setelah itu bukanlah aku yang terbaring di atas lantai, tapi selanjutnya aku dikirim kembali ke tempat seperti alam bawah sadar, namun aku tetap sadar melihat serta merasakannya sensasinya. Sama seperti di mimpiku, tempat ini adalah fatamorgana yang menyatakan ingatan seseorang yang ingin ditunjukkan padaku. Pertanyaannya siapa dia? Sampai saat ini petunjukku masih belum lengkap layaknya kepingan puzzle yang tidak lengkap, "Aku harus temukan kepingan lainnya!"

Semua hal mulai terlihat olehku. Aku seperti tengah berada di permukaan udara terombang ambing begitu saja, pergerakanku cukup sulit di tempat yang tak kuketahui ini.

"Kau tidak ikut demo? Kita kan mahasiswa harusnya kamu ikut juga!"

"Aku ada janji dengan adikku dan keluargaku, menemani mereka berbelanja hari ini?"

"Kau yakin, ini hanya sehari loh nggak apa apa kali tidak kesana juga!"

Aku melihatnya, pemandangan dua gadis yang tisak aku kenali tengah mengobrolkan sesuatu. Namun slaah satu dari mereka terasa tak asing, "Apa dia kakaknya?"

Perempuan itu, menggunakan jepit rambut yang sama. Aku menemukannya di lemari tadi. Gadis itu dialah pemiliknya, "Tapi kenapa ada di lemari?"

"Kapan waktu tepatnya ingatan ini dia alami dan aku lihat sekarang. Apa pemicunya adalah jepit rambut yang aku sentuh sebelumnya?"

Semua pertanyaan dari pikiranku mengalir deras. Penglihatanku mulai berlanjut melihatnya yang tengah berlari menghindari sesuatu,

Lihat selengkapnya