Benang Merah dan Biru

Miftah
Chapter #6

Kesedihannya

"Semuanya gelap, aku tidak bisa melihat apa-apa" suara Mei, masih kudengar dalam lautan emosinya ini.

Sama seperti dirinya aku tidak bisa melihat apa apa, tapi meskipun aku tenggelam di lautan yang menandakan seberapa besar emosinya aku tetap masih bisa bernapas namun sejak tadi tidak kulihat sama sekali ingatannya yang lainnya.

"Kenapa tubuhku lemas, aku mulai takut!" ucapnya pelan.

"Apakah Lia baik baik saja ... Aku ingin tahu kabar mereka!" Tambahannya.

"Dingin, sepi ... Aku hanya sendiri di sini, siapapun temani aku ... Hiks!" Suara mei mulai berubah.

Sepanjang waktu aku tenggelam aku hanya mendengar tangis dan isak Mei yang tidak pernah berhenti. Tangisannya masih sama seperti sebelumnya, dia menahan segala emosinya dan kini dia keluarkan secara perlahan.

"Aku memahaminya, tangisanmu itu entah kenapa aku merasa pernah mengalaminya! Aku mencoba berbicara walaupun kesannya tidak akan sampai kepadanya.

Kegelapan itu terus membuatnya menangis sejadi jadinya hingga perasaan hangat mulai memeluknya. " Apa yang terjadi?" ucapnya pelan.

Aku yang mendengar perkataannya itu hanya diam merasakannya juga, perlahan lahan kegelapan mulai hilang saat ada sebuah cahaya kecil yang muncul di depan sana. Semakin lama.

Cahaya itu seperti sebuah ruangan yang sempit berisikan seseorang yang sama sekali belum terlihat dengan jelas. Cahayanya perlahan menjadi semakin terang membuat aku bisa melihat sesuatu dari kejauhan saja.

Seseorang kini tengah berdiri di ruangan itu sedangkan aku masih tenggelam di dalam lautan ini, aku hanya bisa melihat dirinya di dalam sini. Antara aku dan dia seperti mahluk yang ada di dalam akuarium besar dan penontonnya di luarsana. Kami seolah dibatasi oleh dinding kaca yang sangat kuat dan besar.

"Ah, syukurlah ...." Suara Mei terdengar kembali.

Aku melihatnya ke berbagai arah namun tidak aku lihat kembali kepingan ingatan seperti sebelum-sebelumnya. Hanya ada ruangan putih di depan sana dan ahanya ada aku yang terjebak di ujung dasar lautan emosinya ini.

Perlahan sosok itu mulai ku kenali, sebelumnya tidak ku kenali sama swkali karena saking jauhnya dia berdiri di tempat itu. Pakaiannya mudah bergelombang hanya dengan terhempas sedikit angi saja. Rambut panjang yang tidak dia ikat dengan jepit melati itu membuatku semakin yakin siapa dia sebenarnya. Aku sudah terombang ambing dan tenggelam dalam lautan ingatan miliknya. Tak habis pikir kenapa dia membiarkanku melihat semua ini.

"Syukurlah dia selamat, keponakanku satu satunya, Khali ...."

Saat mendengar Mei berbicara, aku mulai melihat perubahan lain dari tempat ini. Aku tersedot kedalam ruangan putih itu. Rasanya sangat sakit terjatuh cukup tinggi dari tempat sebelumnya. Tatapanku tidak pernah lepas dari sosoknya.

Aku mulai berjalan kaki mendekatinya. Saat aku ingin menyentuhnya tiba tiba saja tanganku menembus badannya. "Eh, tanganku tidak bisa menyentuhnya ...."

Aku mulai berjalan mengelilingi dirinya. Berhenti ketika aku berhadapan dengannya. "Mei, apa kau mendengarku!" Aku mencoba mengajaknya berbicara.

Mei hanya diam menatap suatu titik. Aku berjalan kembali mensejajarkan diriku dengannya. Konsentrasiku aku fokuskan pada satu sudut yang di pandang olehnya. Perlahan lahan objek yang dilihat oleh Mei terlihat olehku, itu adalah seorang yang tengah tertidur pulas di tempat tidur.

Lihat selengkapnya