Namaku Mei usiaku 6 tahun. Aku adalah seorang putri yang bahagia lho! Karena pada tahun ini aku akan memiliki seorang adik, aku tidak tahu apakah adikku nanti perempuan cantik sama sepertiku ataukah laki laki yang lucu. Namun apapun yang terjadi aku akan melindungi, dan menyayanginya. Karna aku adalah anak pertama.
"Mei, apakah kamu senangi sampai tersenyum seperti itu?" Ibu tersenyum kepadaku.
Melihat ibu tersenyum aku ikut bahagia juga. Ibuku adalah sosok yang sangat aku kagumi. Di seklah dulu aku sangat senang saat menceritakan ibuku sebagai idolaku. Sosoknya yang baik hati, lembut dan pintar itu selalu aku kagumi. Hingga ketika guruku bercerita tentang cita cita masa depan nanti aku berteriak keras dan semangat aku ingin menjadi seperti sosok ibuku. Terkadang teman teman kelasku tertawa saat aku bilang ingin menjadi wanita seperti ibu. Meskipun begitu, sosoknya di mataku lebih bersinar dari bintang paling terang dilangit malam.
Aku tersenyum mendengar perkataannya padaku, "Aku akan menjadi kakak soalnya!" Telapak tangannya mengusap kepalaku, rasa hangat yang tidak bisa diungkapkan membuatku merasa snagat nyaman, "Syukurlah, nanti kamu harus menjaganya ya apapun yang terjadi." Satu anggukan kepala dan senyuman lebar adalah jawabku padanya.
Oh iya, belum Aku ceritakan ya kami sekarang berada di rumah sakit lho rumah sakit yang besar! Kadang aku selalu bermain di taman yang ada di sini. Aku tidak tahu kenapa kami sering berkunjung ke rumah sakit, tapi ayahku selalu bilang ibuku aka baik baik saja.
"Ayah, kenapa ayah bilang begitu ... Ibu kan baik baik saja, kenapa ayah harus khawatir!"
Ayah hanya tersenyum mengelus kepalaku lembut. Beberapa hari terus berlalu aku selalu mendatangi ibuku yang kini lebih banyak tinggal di rumah sakit dari pada di rumah. Aku selalu bertanya-tanya kenapa dia tidak pulang. Ibu hanya tersenyum manis padaku mengatakn tentang suatu hal yang tidak bisa kumengerti.
Hari terus berganti, aku selalu mengunjungi ibuku dengan membawa bunga yang ada di taman ini. Aku dan ayah selalu mengunjungi ibu sepulang sekolah dan setelah ayah selesai bekerja, "Ibu, bu aku bawakan bunga loh. Bunga merah ini cantik dan harum lho!"
Aku menunjukan bunga itu padanya. Walaupun hanya satu tangkai bunga aku berusaha keras mencari bunga paling cantik di rumah sakit ini agar kuberi pada ibu. Karena ibu suka bunga harum dan cantik.
"Hmmm, bunganya harum Mei. Cantik juga seperti putriku ini." Ibu tersenyum kepadaku, senyuman yang aku lihat itu membuatku sangat senang. Terlebih ibuku memuji diriku.