Benang Merah dan Biru

Miftah
Chapter #8

Benang Merah dan Biru

Ruang dan waktu, kita tak pernah tahu tentang hal itu dengan sangat jelas sekalipun. Banyak sekali orang-orang yang mengumpamakan waktu itu layaknya objek tertentu yang memiliki makna tersendiri. Jika perlu kuumpamakan juga setelah mengalami hal aneh yang aku alami saat ini aku menganggap waktu itu adalah benang merah takdir yang terus menggelinding hingga benangnya itu habis. Waktu juga mudah terbelit, layaknya sebuah benang. Setiap orang memiliki pijakannya tersendiri pada benang itu. Lalu, apakah orang yang meninggal memiliki waktu juga layaknya benang seperti sebelumnya. Jawabanku, mereka memiliki benangnya tersediri.

Dapat aku umpamakan kembali jika benang merah takdir adalah waktu kita sebagai makhluk hidup untuk berpijak maka benang biru adalah waktu bagi mahluk yang telah meninggal memijaki kehidupannya yang kedua. Namun apa yang terjadi jika orang yang meninggal memiliki penyesalan atau perasaan kuat untuk hidup karena suatu hal.

Kemungkinan yang terjadi adalah benang biru itu akan menimpa benang merah yang tengah menyusuri jalannya. Memaksa untuk menarik kembali orang yang dia pikirkan guna bertemu dengannya untuk menyelesaikan keinginan dan hasratnya. Lalu, itu semua hanyalah analogiku tentang alasan kenapa aku bisa menjelajahi waktu ke tahun 2000 ini. Alasan keberadaanku ini terkesan seperti hanya untuk menenangkan adiknya Mei yang meninggal dua tahun lalu akibat kebakaran mall Ratu Luwes Surakarta, saat kerusuhan terjadi di tahun 1998.

Namun dibalik itu semua, sejujurnya aku cukup bersyukur aku di tarik ke tahun 2000, dua tahun setelah kejadian besar itu terjadi. Tidak bisa aku bayangkan saat aku berada di tahun itu. Semua orang pasti akan curiga pada diriku yang asing ini tiba-tiba muncul di tengah kerusuhan. Memikirkannya saja membuatku sakit kepala.

Aku ditarik oleh Amelia adiknya Mei ke tahun ini, fenomena langka ini mungkin tidak akan pernah aku ulangi kembali. Semoga saja begitu. Aku belum tahu waktu masa depan dimana aku berada kini berjalan seperti apa. Semoga saja mereka baik-baik saja disana.

Aku berlari menyusuri jalan kota yang ada disini. Aku tidak bisa menaikki kendaraan umum atau apalah itu yang memudahkanku ke tempat tujuan, jawabannya sederhana seperti sebelumnya uangku tidak bisa dipakai di massa ini. Butuh beberapa jam untukku agar bisa sampai kesana, disaat aku tengah berlari satu suara muncul kembali. Suaranya Amelia terdengar jelas olehku.

"Hiks ...."

Aku melirik kesana kemari. Beberapa orang melirikku keheranan, ada juga orang yang berkata pemuda aneh atau sebagainya. "Suaranya muncul lagi, dia menangis!"ucapku pelan.

Aku pun berlari kembali. Tidak bisa aku pikirkan langkah ku selanjutnya. Hanya ada satu yang aku harus lakukan, pergi ketempatnya apapun caranya aku harus bertemu dengannya. Kepingan puzzle yang tersisa hanyalah dia, aku butuh bertemu dengannya mengatakan semua yang aku dapatkan dari ingatannya Mei agar aku bisa mengakhiri fenomena ini. "Aku harus menemukan Amelia!"

Beberapa menit kemudian aku sampai di mall sebelumnya terbakar dua tahun lalu. Entah kenapa tapi rasanya suara masa lalu terus bergejolak terdengar olehku semakin keras. Nafasku sudah habis kugunakan untuk sampai di tempat ini.

Aku masuk berlari ke tempat Amelia dulu terkapar dalam kobaran api. Jika dipikir kembali kurasa jasadnya ada di sini, Seingatku tidak ada yang memberitakan bahwa jasadnya Amelia telah ditemukan. Bahkan ayah mereka jadi korban juga, aku melihat sekilas ingatan berupa suara-suara korban sesaat aku tiba di mall ini.

"Kenapa kau mau masuk kesana!" ucap seorang pria.

Lihat selengkapnya