Benang Merah dan Biru

Miftah
Chapter #9

Keinginannya

Semua yang aku rasakan begitu kuat. Dalam artian kini aku tengah terikat oleh benang biru yang tidak bisa aku kendalikan sama sekali. Itu karena fenomena lain yang muncul hingga membuat suatu perubahan besar dalaam situasi ini. Dan aku sangat yakin bahwa yang merubah situasiku ini adalah kucing itu. Seekor kucing gemuk yang tadi menuntunku pada Amelia.

"Baiklah kakak, sekarang hanya ada kita berdua." Amelia menatapku tajam. Kala itu aku hanya diam tersenyum dengan keadaanku saat ini. Setiap rasa sakit yang aku alami saat ini sangat nyata. Tubuhku benar benar tidak bisa aku gerakkan sama sekali seolah olah seseorang mengendalikanku.

"Kak, kenapa kau mengabaikanku saat itu, aku juga melihatmu, kita saling menatap mata saat itu, tapi kenapa kau pergi!"

Aku hanya diam. Lebih tepatnya tidak bisa berbicara. Setiap kejadian yang aku ingat dengan ingatannya Mei tidak bisa aku katakan, seolah olah tubuh ini bukan milikku saat ini. Jeratan benang biru itu kini membelitku sangat kuat, aku tidak bisa berbuat apa-apa. Namun saat itu terjadi, aku berteriak kesakitan.

"Kenapa aku bisa berteriak. Bukannya tadi aku tidak bisa mengeluarkan suara?" batinku.

Tubuhku melemas, dalam keadaan itu aku hanya diam dan menatap kosong kedepan sana. Aku terus melihat sosok kucing yang ada di pelukan Amelia. Tatapan kucing itu benar benar tidak bisa diremehkan. Seolah olah kucing itu adalah predator terkuat di tempat ini, aku tidak begitu mengerti tapi tatapan mata itu seolah olah hendak menerkamku.

Beberapa saat berlalu, amelia hanya menanyakan pertanyaan yang sama dan rasa sakit yang sama juga kini aku terima berulang kali. Aku tidak begitu paham dengan kejadian saat ini, tapi kusadari satu hal. Aku kini memerlukan waktu lebih untuk memahami suatu hal yang tidak aku rencanakan samasekali. Faktor tak terduga membuat suatu perubahan besar dalam situasiku ini, aku harus berusaha mengingat setiap kejadiannya.

Setiap kejadian yang pernah aku alami dan aku lihat pada massa ini. Seluruh ingatanku harus aku kerahkan semuanya. "Hidupku dipertaruhkan disini. Ayo ingatlah semuanya."

Aku mulai berpikir kembali, mengingatkan setiap hal yang ada dan pernah terjadi. Baik itu ingatan Mei ataupun ingatanku sendiri. Bahkan setiap kejadian yang aku alami dan rasakan perlu aku ingat baik baik. Dimana letak kesalahanku melangkah, atau adakah hal yang aku lewatkan hingga saat ini aku masih mengalami waktu yang sama ditangai oleh Amelia tentang kenapa Mei meninggalkan dirinya saat kebakaran itu.

Lalu, tatapan kucing itu berubah saat Amelia selesai mengucapkan kata kata-katanya. Aku masihlah belum menyadari kejanggalannya.

"Kak, kenapa kau mengabaikanku saat itu, aku juga melihatmu, kita saling menatap mata saat itu, tapi kenapa kau pergi!"

Perkataannya itu terdengar kembali olehku. Layaknya film yang diputar putar kembali berulangkali.

"Kak, kenapa kau mengabaikanku saat itu, aku juga melihatmu, kita saling menatap mata saat itu, tapi kenapa kau pergi!"

Ini sudah kesekian kalianya aku mendengar suara itu. Ada apa dengan kata itu kenapa Amelia berkata seperti itu padaku berulang kali.

"Kak, kenapa kau mengabaikanku saat itu, aku juga melihatmu, kita saling menatap mata saat itu, tapi kenapa kau pergi!"

Aku tersenyum, kata kata itu membuat gila. Sedikit hal yang aku lewatkan, tidak pernah sedikitpun aku menyadarinya. Tapi kini aku tahu harus apa sekarang.

Aku tersenyum kembali, kini aku mulai bisa tertawa. Aku tahu pikiranku juga berkaitan dengan dirinya. Kucing itu bukanlah mahluk asing, jika dipikir kembali kucing itu memang seperti faktor lainnya yang merubah situasiku saat ini. Jika tebakanku Benar saat ini dia pasti tengah mendengarnya.

Jiwa kami yang menjadi satu kini dia mulai menguasai tubuh ini, karna itu tubuhku berubah menjadi sosok dirinya. Ditempat ini semuanya bisa saja terjadi.

"Bukankah begitu Mei" ucapku pada Mei yang ada di dalam diriku.

Tak lama setelah aku menyadari, dan berkata seperti itu mei mulai Menangis, dengan kata lain tubuhnya ini tengah mengeluarkan air mata. Agak aneh yang aslinya laki-laki kini berdiri terkekang oleh sekumpulan benang dan tengah menangis sendiri.

"Jadi, kau takut untuk mencoba mengatakannya ya!" Aku mengajak mei untuk kembali berbicara.

"Maaf .... Aku tidak bisa!" jawabnya singkat.

Aku hanya diam tubuh ini masih menangis. Amelia hanya menatap dingin tubuh ini. Sedangkan kucing itu masih sama melihatku seperti sebelumnya. "Bukankah kau ingin mengatakan kebenarannya?"

"Karana itu kan kau menatapku di dalam sana!" Aku menatap mata kucing itu.

"Iya tapi!"

"Ayolah kau pahamkan kita tengah disituasi macam apa!" batinku berteriak.

"Aku paham tapi ...."

"MEI!!!" Aku berteriak lebih keras padanya. Seketika mei hanya diam dan tidak bekata kata lagi.

"Baiklah, jika kau memang tidak bisa melakukannya biar aku yang melakukannya. Aku tidak percaya Gadis yang aku lihat saat itu kini kehilangan semangatnya untuk melindungi adiknya. Aku tidak paham sama sekali" Aku mulai bisa merasakan tubuh ini bisa aku gerakkan sedikit. Tatapan ku mulai tajam kedepan sana melihat mata Amelia yang sayu dan kosong karena keadaannya saat ini.

"Mei, pergilah ke tubuh kucing itu sepenuhnya, aku bisa merasakan sebagian jiwaku terhubung dengan kucing itu. Kau kan yang melakukannya, mwmbagi jiwa kita kembali!"

Mei lagi lagi diam. Namun tibuhku sudah bisa mulaibaku gerakan. " Lagi pula kalian berdua sama sama mahluk yang telah meninggal di waktu ini, hanya diriku saja yang hidup. Jadi pergilah!"

"Aku tahu, kau melakukan hal itu saat memasuki gedung ini, tepatnya saat kucing itu muncul ...." Sekatika tubuhku bugar kembali tidak lemas ataupun berat seperti sebelumnya. Tebakan kedua dariku Benar. Kucing itu tidak muncul tiba tiba. Jika perlu di ingat ada satu kejadian terkait Mei dan Amelia tentang kucing gemuk itu.

Lihat selengkapnya