"Eh apa yang terjadi ...." Aku terkejut dengan apa yang aku lihat.
Laki laki itu menempelkan jidatnya di jidatku. Wajah kami terlalu dekat, melihat pemandangan ini membuatku malu sendiri terlebih lagi dia orang asing yang mengaku-ngaku keponakan kecilku.
Dalam pikiranku melihat pemandangan itu sebuah suara mulai terdengar di belakangku. Akupun berbalik melihatnya.
Sebuah layar hitam besar kini mulai menampilkan suatu hal. Entah apa itu aku tidak tahu tapi, entah kenapa aku tidak bisa mengalihkan pandanganku ke hal lain. Tatapanku, hatiku, bahkan jiwaku terpaku pada layar itu. Tempat kuberada saat ini tidak ku ketahui sama sekali, bahkan aku tidak ingat apapun. Hal terakhir yang aku ingat adalah senyuman kakaku. Tapi kenapa dia terikat kala itu. Aku hanya diam kalau tidak salah mengulang kembali setiap perkataanku. "eh apa ini ...."
Aku melihat laki laki itu tengah bersama dengan kakakku Mei. Beberapa perkataan mereka aku dengar dengan jelas lengkap dengan gerakan mereka, aku yang melihat pemandnagan ini seolah tengah menonton film kehidupan kakakku sendiri.
"Khalid, bibimu ini sudah tiada lho, sekarang mungkin kau tidak akan mengerti tapi ku harap kamu bisa mengabulkan permohonan bibimu ini."
Kenapa kakak berkata seperti itu, aku kembali menonton layar hitam itu.
"Mungkin aku hanya diberikan kesempatan sekali ini sebelum benar benar pergi ke alam peristirahatan manusia, aku tentu akan sesekali mengunjungimu, melihat apa yang kau kerjakan di alam dunia nantinya." Kakakku di sana menutup matanya, tubuhnya juga aneh seolah olah lebur hancur dalam cahaya.
"Tubuhku mulai memudar, waktuku habis Khali, terakhir. Aku mohon jangan lupakan semua yang aku katakan tadi, lalu lanjutkan perjuanganku menyelamatkannya. Karna itu aku serahkan seluruh ingatanku padamu, emosiku dan juga sebagian jiwaku padamu Khali ...."
Kenapa, dia berkata pada Khalid kecil yang tertidur pulas seperti itu, lagipula tempat itu bukannya rumah sakit.
Aku terus menatap mereka, laki laki yang mengaku khalid juga masih berdiri di sana.
"Selamat tidur, bintang kecilku. Aku percayakan sisinya padamu, selamatkan dia sepenuhnya ...."
Kakak menghilang menjadi serpihan cahaya dan hilang sirna tidak aku lihat lagi dari layar itu, "Sebenarnya apa-apan itu."
Tak lama kemudian aku melihat diriku sendiri yang tengah berbaring di tempat penuh kobaran api. Pemandangan itu membuatku merinding seketika. Perlahan keringatku muncul, ingatan masa laluku mulai ku ingat kembali. "Ternyata aku sudah mati ...."
Aku langsung lemas dengan kenyataan yang aku lihat. Setiap kejadian yang aku alami di perlihatkan kembali dalam layar itu. Tentang diriku yang kesakitan saat itu, tentang diriku yang tidak mempercayai keluargaku lagi. Terlebih saat aku menatap kakaku saat itu namun dia pergi begitu saja. "Aku muak mendengarnya!"
"Berhenti!" Aku berteriak keras lagi, lari dari apa yang telah menjadi takdirku sendiri.
Sontak aku menutup mataku. Tidak terpikir olehku untuk melihat pada layar itu kembali. Namun suara seseorang membuatku kembali menatap layar itu.
"Oi hentikan perbuatanmu itu, dasar bajingan!" Suara laki laki itu terdengar kuat olehku. Suaranya marah kepada seseorang yang tidak aku tahu. Tapi dugaaku dia seolah tengah memarahiku.
"Kau berjuanglah! Jangan biarkan mahkotamu direbut oleh orang yang memeperlkuan mu kasar begini!" Aku mulai menatap kembali layar itu, pemandangan sedih kini tengah aku lihat saat ini. Kakakku tengah berjuang melawan tiga orang laki-laki yang ingin memperlakukannya secara kasar.