BAB 1
Dua Bayangan di Panggung Utama
Keheningan sebelum pengumuman adalah bagian paling menyiksa dari panggung fashion. Di bawah pendar lampu gantung kristal yang dingin di Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski, gaun hitam minimalis bergaya sharp-modern yang membalut tubuh Maya Kirana terasa seperti baju zirah yang menahan sesak di dadanya. Jemari tangannya dingin, meremas kain sutra bertekstur di sisi pinggangnya sendiri untuk menetralkan gemetar halus yang tak boleh terlihat oleh siapa pun—terutama oleh mata-mata pemangsa dari rumah mode kompetitor yang mengepung area VIP.
Riuh rendah suara gumam penonton, dentum musik bas berfrekuensi rendah, serta kilatan lampu flash kamera menyatu menjadi atmosfer yang pekat. Malam ini adalah pembukaan Indonesian Fashion Week (IFW)—panggung paling prestisius tempat para desainer papan atas, pengamat mode, hingga investor kelas atas berkumpul untuk menyaksikan kompetisi busana tingkat nasional. Bagi orang awam, peragaan malam ini hanyalah selebrasi kain, lampu kilat, dan tepuk tangan meriah. Namun bagi Maya, tiap detik yang berdetak di atas karpet merah ini adalah taruhan atas seluruh keringat, air mata, dan reputasi studionya yang dipertaruhkan hingga batas titik nadir.
Di atas panggung utama yang megah, lampu sorot perlahan meredup, menyisakan satu cahaya presisi yang menyorot sosok announcer berjas hitam elegan yang berdiri di balik podium mikrofon. Suara berat dan bergema milik sang announcer menggema ke seluruh sudut ruangan, menghentikan kasak-kusuk kerumunan.
"Hadirin yang berbahagia, saat yang kita tunggu-tunggu telah tiba," ujar sang announcer dengan artikulasi yang tegas.
"Dewan juri internasional telah menyelesaikan kalkulasi nilai akhir untuk Babak Penyisihan. Dari puluhan karya yang dikurasi, hanya lima belas desainer terbaik yang berhak melangkah ke tahap seleksi berikutnya!"
Suasana ruangan mendadak hening, berganti dengan ketegangan yang merambat cepat. Para kontestan menahan napas.
"Untuk menyingkat waktu, nama-nama di posisi lima belas hingga posisi sepuluh telah terpampang di layar monitor backstage," lanjut sang announcer.
"Kini, mari kita sambut sembilan desainer teratas yang berhasil menembus papan atas klasemen!"
Layar LED raksasa di belakang panggung mulai berkedip, menampilkan jajaran angka dari posisi 9 hingga posisi 1 yang masih terkunci rapat.
"Di posisi kesembilan... dengan skor delapan puluh lima koma enam (85,6)... selamat kepada Bagas Pratama!"
Tepuk tangan bergema riuh. Sang announcer melanjutkan pembacaannya satu per satu dengan jeda yang kian memompa adrenalin seluruh pengunjung.
"Posisi kedelapan... skor delapan puluh enam koma empat (86,4)... Dina Sastro!"
"Posisi ketujuh... skor delapan puluh tujuh koma delapan (87,8)... Devon Lee!"
"Posisi keenam... dengan skor delapan puluh delapan koma sembilan (88,9)... selamat kepada Rehan Utama!"
Maya Kirana berdiri menyilangkan kedua tangan di depan dada. Jemarinya kian meremas halus kain gaunnya. Tatapannya tertuju lurus ke panggung. Posisi sembilan hingga enam telah terlewati, artinya namanya secara otomatis mengamankan tempat di jajaran lima besar.
"Dan inilah... jajaran Lima Besar kita malam ini!" seru sang announcer dengan intonasi yang kian bertenaga, memicu sorak-sorai penonton.
"Di posisi kelima... dengan skor delapan puluh sembilan koma dua (89,2)... Siska Olivia!"
"Di posisi keempat... dengan skor sembilan puluh koma satu (90,1)... Aris Kusuma!"