BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

imron tohari
Chapter #2

BAB 2 Pertarungan Ideologi

BAB 2

Pertarungan Ideologi

 

 

Pagi harinya, Grand Ballroom Hotel Indonesia Kempinski diubah menjadi ajang jumpa pers dan pameran kurasi bagi jajaran finalis. Lampu-lampu sorot bersuhu hangat menembus kisi-kisi langit-langit gedung, memantul pada manekin-manekin yang memamerkan miniatur rancangan lima besar. Di barisan depan, para kritikus mode, wartawan, dan investor berkumpul dengan kacamata analisis mereka masing-masing.

Maya berdiri di samping manekin miliknya. Ia mengenakan gaun dari sutra lembut berwarna abu-abu asap, dengan potongan draping asimetris yang melengkung bagaikan pusaran air. Gaun itu adalah manifestasi dari filosofinya: cair, ekspresif, dan memeluk emosi manusia.

Namun, ketenangan Maya terus terusik oleh kehadiran satu orang yang berdiri tak jauh dari manekinnya. Rendra.

Pria itu hadir bukan sebagai kontestan busana, melainkan sebagai kurator kriya dan perancang aksesori pendukung yang diundang khusus oleh panitia.

Rendra berdiri tegap dengan kemeja tenun berlapis rompi kulit gelap. Jemarinya yang kasar—terbiasa menempa tembaga dan perak—terlipat di dada. Pandangannya lurus menatap gaun Maya, tanpa ada riak terpukau sedikit pun di wajahnya.

Saat sesi diskusi panel dibuka untuk umum, seorang kritikus senior melontarkan pujian pada kelembutan karya Maya. Namun, belum sempat Maya mengulas senyum penuh, Rendra melangkah maju satu pijakan di dekat mikrofon.

"Pendekatan estetika yang emosional, Maya," ujar Rendra, suaranya yang berat dan tenang mengudara, memotong riuh gumam pengunjung.

"Tapi dari kacamata rekayasa struktur, bagian bahu kiri dan keliman draping di pinggang itu terlalu menggantungkan nasibnya pada elastisitas sutra. Jika model bergerak cepat di bawah terpaan angin luar ruangan, bentuknya akan runtuh dan kehilangan arah."

Suasana ruangan mendadak hening seketika. Beberapa wartawan berbisik-bisik, penanya sibuk menari di atas note catatannya.

Dada Maya berdesir panas. Psikologinya terpantik. Ia membenci bagaimana Rendra selalu bisa menemukan celah untuk mereduksi karya seninya menjadi sekadar perhitungan kalkulasi fisika. Maya menegakkan punggung, menatap Rendra dengan pendar mata yang menyala.

"Itu karena kau menilai karya seni busana seperti menilai kerangka jembatan," balas Maya lantang, membiarkan suaranya bergema menembus mikrofon. Dia tidak sadar jika Rendra kini dalam posisi sebagai konsultan ahli yang diundang secara khusus oleh juri.

"Keindahan sutra ada pada gerakannya yang dinamis dan bernapas, bukan pada kekakuan yang ditahan oleh kawat atau pelat logam. Pakaian diciptakan untuk memeluk tubuh manusia, bukan untuk mengurungnya dalam sangkar kaku!" Maya menatap Rendra seakan ingin menelannya.

Rendra menyunggingkan senyum yang sangat tipis—sebuah gestur mikro yang hanya bisa ditangkap oleh mata Maya, dan itu makin membakar gengsinya.

"Tubuh manusia membutuhkan struktur untuk menegaskan kehadirannya, Maya," jawab Rendra tenang, melangkah mendekati manekin gaun Maya tanpa ragu. Tangannya menunjuk halus lipatan kain sutra di bagian bahu.

"Tanpa kerangka presisi, keindahan cair yang kau agungkan ini hanyalah gumpalan kain lemas yang kehilangan karakter saat diterpa realitas gerakan. Kau mengandalkan perasaan, tapi membutakan mata pada daya tahan."

"Perasaan adalah jiwa dari rancangan ini!" potong Maya cepat, nada suaranya mengencang.

"Sesuatu yang tak pernah ada pada karya-karyamu yang dingin dan membatu itu!"

“Maaf saudari Maya. Pak Rendra berhak menyampaikan penilaiannya pada karya semua peserta. Beliau konsultan ahli yang sengaja kami para juri mengundang,” sebuah teguran keras Juri pada Maya. Juri mempersilahkan Maya Kembali ke tempat duduknya. Maya meminta maaf atas responnya yang agresif.

Di sudut ruangan, Clarissa Arum menyaksikan bentrokan itu seraya menyunggingkan senyum kepuasan. Di sampingnya, Victor—investor senior dengan jas mahal dan tatapan licik—menyesap kopinya perlahan.

Lihat selengkapnya