BAB 3
Jejak Akademis dan Bayangan Kampus
Gema kalimat Rendra di lorong remang-remang kemarin sore masih menggantung tebal di dalam benak Maya. "Aku tidak ingin melihat keindahanmu runtuh untuk kedua kalinya." Kalimat itu berputar berulang-ulang di kepalanya bagaikan pemutaran audio berulang dalam aplikasi yang mengalami penundaan loading—terus mengetuk dinding kesadarannya dengan tanda tanya besar. Namun, jadwal kompetisi yang bergerak cepat tak memberinya ruang untuk hanyut dalam analisis emosional.
Pagi ini, area workshop eksklusif pameran IFW dipenuhi atmosfer yang jauh lebih menegangkan. Seluruh peserta lima besar dipanggil untuk melakukan verifikasi ulang berkas konsep, kurasi material, dan rekam jejak akademis/profesional sebelum memasuki babak pembuktian karya menuju tiga besar.
Maya duduk di sofa kulit ruang tunggu eksekutif bersama Nia dan Dito. Di meja sebelah, Clarissa Arum tampak anggun dalam balutan setelan blazer rancangan rumah mode Paris. Di samping Clarissa, dua orang lelaki yang merupakan staffnya berdiri kaku dengan jas mahal, menampilkan senyum mengayomi yang terasa sangat dibuat-buat.
"Ah, Maya," panggil Clarissa dengan suara halus yang sarat nada sindiran begitu melihat Maya selesai menandatangani berkasnya.
"Luar biasa ya, kau bisa bertahan kokoh di posisi kedua. Mengingatkan kita pada dinamika di Fakultas Desain dulu, bukan?"
Maya menoleh perlahan. Ia menutup bolpoinnya dengan bunyi klik yang tegas.
"Masamasa di kampus sudah lama berlalu, Clarissa."
"Memang," Clarissa mengibaskan rambutnya yang tertata sempurna, menyunggingkan senyum tipis yang sarat rasa percaya diri semu.
"Tapi kecenderungan sejarah itu selalu konsisten, kan? Kau dengan bakat 'alamiah' dan idealisme puitismu yang selalu dipuja dosen, sementara aku harus melipatgandakan energi untuk membuktikan bahwa keanggunan kelas atas butuh modal, strategi, dan keberanian eksekusi."
Dito yang duduk di samping Maya berdehem pelan, mengisyaratkan Maya melalui tatapan mata untuk tetap tenang dan tidak membiarkan emosinya terpancing. Namun, Nia sudah memutar matanya malas, tak mampu menahan rasa muak pada kepura-puraan Clarissa.
"Modal besar dan strategi agresif tidak pernah bisa membeli orisinalitas ide, Clarissa," potong Nia cepat tanpa basa-basi.