BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

imron tohari
Chapter #4

BAB 4 Takdir di Pelataran Candi

BAB 4

Takdir di Pelataran Candi

 


Kebuntuan kreatif bukan sekadar ketidakmampuan menggambar; bagi Maya, itu adalah bentuk kelumpuhan jiwa. Dua hari setelah intrik tajam di ruang verifikasi bersama Clarissa, Victor, dan Rendra, ruang kerjanya berubah menjadi kuburan kertas. Puluhan lembar sketsa gaun untuk babak penentuan lima besar berakhir sebagai gumpalan sampah yang berserakan di lantai.

Setiap kali jarum pensilnya menyentuh kertas, bayangan wajah Clarissa yang penuh dendam dan senyum licik Victor mendadak membayangi pikirannya. Namun, yang paling merusak konsentrasinya justru adalah bayangan mata Rendra—mata kelam yang selalu menatapnya seolah-olah Maya adalah sebuah teka-teki yang salah dihitung.

Gengsi. Itu adalah benteng utama Maya. Ia menolak menyerah, apalagi jika harus terlihat runtuh di hadapan Rendra. Karena tidak sanggup lagi menahan himpitan dinding ruang kerjanya, Maya memutuskan pergi berkendara sendirian tanpa memberitahu siapa pun. Ia memacu mobilnya menembus jarak puluhan kilometer, meninggalkan hiruk-pikuk kota menuju situs reruntuhan Candi Kuno di kaki pegunungan—sebuah komplek batu abad pertengahan yang terkenal dengan relief tekstil dan kriya logamnya.

Udara dingin pegunungan menyambut Maya saat kakinya menapak pelataran batu Andesit hitam candi tersebut. Bau tanah basah, lumut tua, dan dedaunan yang membusuk alami menyeruak masuk ke paru-parunya, perlahan mengurai simpul syaraf kepalanya yang tegang.

Di tempat ini, bisingnya industri mode, bentakan lampu kilat media, dan gertakan bernada ancaman dari Victor mendadak menguap, digantikan oleh keheningan alam yang sakral dan abadi.

Maya melangkah perlahan menelusuri selasar candi utama, berjalan di antara lorong batu sempit yang dipayungi dinding berpahat. Tangannya yang halus terangkat, membawakan jemarinya menelusuri relief busana kuno. Batunya dingin dan kasar, tetapi pahatan lipatan kainnya terukir begitu luwes.

Tiba-tiba, getaran berturut-turut disertai nada dering ponsel yang nyaring memecah keheningan sakral kompleks candi. Maya merogoh saku mantelnya dan melihat nama layar yang tertera: Dito.

Selain menjadi manajer merek yang selalu tenang mendampinginya, Dito adalah sahabat karib sekaligus Manajer Keuangan di rumah mode yang didirikan Maya. Maya menarik napas panjang sebelum menggeser tombol hijau di layarnya.

"Ya, Dito?" sapa Maya, mencoba menetralkan nada suaranya.

"Maya, akhirnya kau angkat juga!" suara Dito di seberang telepon terdengar sangat cemas, kehilangan ketenangan elegannya yang biasa.

"Kau di mana? Aku sudah mencarimu di studio sejak tadi pagi."

"Aku sedang di luar kota mencari inspirasi, Dito. Ada apa? Suaramu tegang sekali."

"Kita dalam masalah besar, Maya," Dito menghela napas berat, terdengar hembusan napas yang tertahan di balik gagang telepon.

"Investor utama kita baru saja membatalkan komitmen pendanaan untuk kuartal depan secara mendadak. Alasan formal mereka karena serangan isu plagiarisme yang diembuskan pihak Clarissa kemarin. Arus kas (cash flow) studio kita kritis, May. Tabungan operasional hanya sanggup bertahan dua sampai tiga minggu ke depan untuk membayar gaji pengrajin dan bahan baku."

Maya membelalakkan matanya, memegangi dinding batu candi yang dingin di sebelahnya.

"Apa? Pembatalan mendadak? Bukankah kontraknya sudah ditandatangani?"

"Ada klausul 'pencemaran nama baik' yang dimanfaatkan tim hukum mereka. Aku yakin Victor ada di balik mundurnya investor ini," tegas Dito dengan nada prihatin.

"Singkatnya, Maya... studio kita butuh suntikan dana segar dalam jumlah besar sekarang juga. Jika kita tidak menjuarai kompetisi ini atau menemukan investor baru yang mau masuk minggu ini, studio yang kita bangun dari nol ini terancam kolaps."

Dada Maya berdesir hebat. Kenyataan pahit itu menghantam tepat di dadanya, mempertebal rasa tertekan yang sudah membebaninya. Tekanan kompetisi kini bukan lagi sekadar soal piala atau gengsi pribadi, melainkan soal kelangsungan hidup rumah modenya dan nasib para pengrajin yang menggantungkan hidup padanya.

"Beri aku waktu sampai besok, Dito. Aku akan cari jalurnya. Tolong tahan dulu pembayaran yang tidak terlalu mendesak," bisik Maya, mencoba menahan getaran di suaranya sebelum mematikan sambungan telepon.

Maya menyandarkan punggungnya pada dinding batu candi, memejamkan mata erat-erat. Beban finansial, tekanan sabotase Victor, dan kebuntuan sketsa seolah bersekongkol meremukkan pertahanan jiwanya.

Lihat selengkapnya