BENANG SUTRA DI JEMARI LOGAM

imron tohari
Chapter #5

BAB 5 Sentuhan Sang Kala

BAB 5

Sentuhan Sang Kala

 

 

Matahari sore menggantung rendah di ufuk barat, memancarkan pendar jingga keemasan yang membiaskan bayangan-bayangan panjang di antara struktur batu Andesit tua—batuan vulkanik abu-abu gelap yang keras, bertekstur padat, dan kokoh menahan gempuran cuaca selama berabad-abad. Udara di kompleks candi kuno itu kian mendingin. Angin pegunungan yang membawa aroma tanah basah, lumut, dan jelang malam berembus perlahan, menimbulkan bunyi berdesir sengau saat menembus celah-celah relief yang aus dimakan zaman.

Maya berdiri mematung di lorong selasar. Tatapannya terpaku pada Rendra yang berdiri beberapa langkah di hadapannya. Pria itu tampak tenang, mengenakan kemeja flanel gelap dengan lengan digulung hingga siku, membawa kamera analog tua di leher serta buku sketsa bersampul kulit tua di tangan kirinya.

Namun, bukan hanya kehadiran Rendra yang membuat tenggorokan Maya mendadak tercekat. Sejak melangkah melewati gerbang paduraksa candi ini setengah jam yang lalu, ada sensasi aneh yang merayapi tengkuknya. Tempat ini terasa terlampau hening—sejenis keheningan yang padat dan bernapas. Suara jangkrik sore atau cericit burung malam yang biasa bersahut-sahutan di lereng bukit mendadak senyap, seolah alam sedang menahan napas. Maya merasa seolah ada belasan pasang mata tak kasat mata yang sedang memperhatikan mereka dari balik celah-celah lorong batu yang gelap.

"Jangan menatapku seolah aku ini hantu yang mengganggumu, Maya," ujar Rendra memecah keheningan. Suaranya yang berat dan serak bergaung halus, memantul di dinding batu selasar.

Maya menata napasnya, mencoba menekan getaran halus di dadanya dan menegakkan kembali benteng gengsinya.

"Aku tidak peduli alasanmu. Tapi berada di tempat yang sama denganmu selalu berhasil merusak fokusku."

"Bukan aku yang merusak fokusmu," balas Rendra tenang seraya melangkah perlahan menyusuri dinding selasar.

"Pikiranmu sendiri yang buntu karena kau terlalu memaksakan imajinasi tanpa memahami fondasi material."

Langkah kaki Rendra terhenti saat derap langkah lain terdengar menepuk permukaan batu pelataran. Seorang lelaki tua berikat kepala kain batik dengan sarung tenun terikat rapi di pinggang—seorang juru pelihara candi—melintas membawa sapu lidi berganggang panjang dan wadah kuningan tempat pembakaran dupa yang asap tipisnya masih mengepul.

Lelaki tua itu menghentikan langkahnya, menatap Maya dan Rendra bergantian dengan sunggingan senyum yang sarat makna.

"Sampun sore, Mas, Mbak..." sapa juru kunci itu dengan suara serak yang dalam.

"Sebentar lagi mau masuk waktu sandikala. Sebaiknya jangan terlalu dekat berdiri berdampingan di depan relief ini kalau matahari sudah benar-benar tenggelam."

Lihat selengkapnya