BAB 6
Getaran Pararel
Sensasi dingin dari angin sandikala yang merayapi lorong candi mendadak sirna, digantikan oleh hawa panas yang membakar dari permukaan batu Andesit di belakang mereka. Pendar keemasan yang semula hanya kilatan redup di atas relief Raden Jayendra dan Putri Kirana kini membesar, membiaskan getaran gelombang yang merambat di udara seperti riak air yang dilempar batu.
Maya memegang dadanya yang berdesir hebat. Rasa rindu yang asing—namun teramat dikenal oleh jiwanya—makin menyiksa.
"Kau... merasakan getaran ini juga, Rendra?" bisik Maya, suaranya bergetar. Tangannya yang gemetar tanpa sadar terulur ke arah panel relief, mencoba mencari pegangan pada realitas yang mendadak meliuk.
"Jangan sentuh batu itu, Maya!" cegah Rendra cepat. Rendra melangkah maju, tangannya terulur refleks untuk menahan jemari Maya. Namun, bukannya menariknya mundur, jemari Rendra justru bertaut dan bersentuhan langsung dengan jemari Maya tepat beberapa milimeter di atas ukiran lempeng logam hiasan dada Raden Jayendra.
DEG!
Sentuhan kulit mereka menjadi pemicu ledakan gelombang elektro-spiritual yang dahsyat. Seolah-olah arus listrik bertekanan ribuan volt menyengat saraf kedua insan itu secara bersamaan. Dunia nyata di sekitar mereka seketika runtuh; dinding batu candi Andesit yang kokoh terurai menjadi serbuk cahaya keemasan, suara desis angin pegunungan lenyap digantikan oleh gemuruh genderang perang kuno, dentang tempaan besi yang memekakkan telinga, serta jeritan bau darah dan asap pembakaran yang menyengat paru-paru.
Pandangan Rendra terbelah, tergilas oleh rotasi dimensi yang berputar hebat. Rasa pening dahsyat menghantam tempurung kepalanya. Ketika ia berhasil memaksa matanya terbuka, bau asap arang, belerang, dan lelehan perunggu panas langsung menyerbu indra penciumannya.
Rendra terbatuk keras. Suara batuknya terdengar lebih dalam dan berat.
Ia tidak lagi berdiri di atas selasar candi yang dingin dengan kemeja flanelnya. Kedua tangannya yang kini memegang penjapit besi raksasa tampak lebih berurat, bernoda jelaga tebal, dan terbalut celemek kulit lembu jantan. Di hadapannya, sebuah tungku tempaan raksasa berarsitektur masa Kediri-Singhasari membara merah, memancarkan hawa panas yang memangkas napasnya.
"Raden Jayendra!" panggil seorang lelaki paruh baya bertelanjang dada dengan garis luka di pipi—pembantu utamanya di bangsal kriya.
"Bahan perunggu campuran emas untuk zirah dada sudah siap dituang. Kenapa Raden melamun?"
Rendra—yang kini bernapas dalam raga Raden Jayendra—terpaku. Memori masa lalu dan pengetahuan kriya kuno bergelombang masuk ke dalam benaknya. Ia sadar, ia tidak sekadar bermimpi; jiwanya terlempar lurus ke abad pertengahan, menjadi sosok empu kriya logam kepercayaan istana yang sedang dikepung intrik politik intern.
Belum sempat Rendra menguasai kesadarannya secara utuh, derak sepatu boot kulit berhias taji perunggu bergema keras memecah dentang tempaan. Dinding kayu bangsal tempa bergetar saat empat prajurit bersenjata tombak melangkah masuk, mengawal seorang pria paruh baya berkulit pucat yang mengenakan jubah beludru hitam berukir benang perak.
Ki Tumenggung Reksa—tangan kanan dan eksekutor kepercayaan Patih Mahisa.
"Masih berkutat dengan besi kotor ini, Raden Jayendra?" suara Ki Tumenggung Reksa melengking dingin, dipenuhi nada meremehkan saat matanya menyapu sekeliling bangsal yang berasap tebal. Ia memegangi saputangan sutra di depan hidungnya, seolah udara tempat kerja empu kriya itu beracun baginya.
Rendra menggenggam penjapit besinya lebih erat, menatap Ki Tumenggung Reksa dengan pendar mata yang tajam dan dingin.
"Bangsal kriya ini bekerja berdasarkan perintah Sang Raja, Tumenggung. Ada urusan apa kau membawa prajurit bersenjata lengkap ke tempat penempaan?"
Ki Tumenggung Reksa terkekeh sinis. Ia melangkah mendekati meja kerja Jayendra, lalu dengan ujung sarung keris berukir emasnya, ia menggeser kasar cetakan lempeng logam yang baru setengah disepuh.
"Sang Raja sedang sakit di peraduan, dan Patih Mahisa yang kini memegang kendali stempel kerajaan," ujar Ki Tumenggung Reksa, ia mencondongkan tubuhnya dengan tatapan mengintimidasi.
"Gumpalan logam yang kau buat ini... Patih Mahisa menganggapnya terlalu berbahaya untuk disebut sekadar ornamen busana. Kau merancang zirah pelindung dada yang tersembunyi di balik kain tenun Putri Kirana, bukan?"
"Itu adalah struktur penopang kriya busana agung," balas Rendra tegas, suaranya berat dan tidak menunjukkan sedikit pun rasa gentar.
"Tanpa kerangka logam ini, kain tenun Putri Kirana tidak akan memiliki tegakan yang kokoh saat dipakai dalam upacara penobatan."
"Jangan membodohiku, Raden Jayendra!" bentak Ki Tumenggung Reksa, raut wajahnya berubah garang.
"Patih tahu kau dan putri Kirana sedang merancang senjata rahasia untuk menyokong faksi pemberontak dari wilayah utara! Serahkan seluruh draf sketsa ukiran logammu dan cetakan kerangka ini padaku sekarang. Patih Mahisa menjanjikan lima ratus keping emas dan posisi sebagai Kepala Empu Kerajaan jika kau mau bekerja sama menuduh putri Kirana sebagai dalang makar."