BAB 7
Terbangun
Pendar cahaya keemasan di Bangsal Kriya Keraton tidak meredup, melainkan kian membakar udara. Di luar bangsal, gedoran pintu kayu bergema keras bersama teriakan garang para prajurit.
"Dobrak pintunya! Patih Mahisa memberi perintah untuk menghabisi Jayendra dan Putri Kirana!" teriakan Ki Tumenggung Reksa memecah malam, diselingi dentang pedang yang dihunus.
Rendra—dalam raga Raden Jayendra—menatap Maya yang memegang perisai kain berbalut kerangka logam emas-perunggu itu. Di dalam ingatan kolektif raga ini, Rendra kini paham posisi pangeran yang disandangnya: ia adalah putra dari raja wilayah utara yang telah ditaklukkan. Pengabdiannya sebagai empu kriya di keraton ini adalah jaminan kesetiaan negerinya. Kedudukannya yang rapuh dijadikan sasaran empuk oleh Patih Mahisa untuk mencari kambing hitam.
Sementara Maya—dalam raga Putri Kirana—adalah putri dari selir kesayangan Sang Raja. Posisi politis Kirana sangat tinggi di mata bangsawan, membuat kedekatannya dengan pangeran tawanan seperti Raden Jayendra dipandang sebagai ancaman sekaligus alat manipulasi yang sempurna.
"Patih Mahisa ingin menggulingkan Ayahanda Raja untuk merebut takhta!" bisik Maya cepat, matanya menatap tajam ke arah pintu bangsal yang mulai retak didobrak.
"Dia menjadikan kita kambing hitam, menuduh karya kriya ini sebagai senjata makar agar saat Raja tewas di tangannya, seluruh kesalahan dilimpahkan pada kita!"
"Dan dia berniat membunuh kita malam ini agar aksinya tidak pernah tercium oleh Sang Raja," balas Rendra dingin. Ia meraih karya penyatuan zirah-tenun tersebut, membungkusnya erat di dada.
"Tetapi Patih lupa... tidak semua prajurit di keraton ini bisa dibeli dengan janji manisnya.
" BRAAK!
Pintu kayu bangsal kriya hancur berkeping-keping. Ki Tumenggung Reksa memimpin belasan prajurit berpedang masuk ke dalam ruangan yang penuh asap tempaan.
"Habisi mereka!" perintah Reksa penuh kebencian.
Namun, sebelum mata pedang pertama terayun, Raden Jayendra menerjang maju membawa tangkai besi penyepuh yang masih membara merah. Ia mengibaskannya melingkar, menciptakan barikade percikan api yang memaksa para prajurit mundur berantakan.
"Lewat lorong belakang, Putri Kirana! Cepat!" seru Raden Jayendra. Putri Kirana bergerak lincah, menyibak kain penutup lorong tersembunyi. Dengan memeluk erat karya penyatuan kriya dan tenun sakral mereka, Putri Kirana dan Raden Jayendra menerobos kegelapan malam Keraton menuju pelataran dalam.
DENTANG! DENTANG!
Di lorong pelataran tengah yang dinaungi pilar-pilar kayu jati, langkah Raden Jayendra dan Putri Kirana mendadak terhenti. Di hadapan mereka, berdiri sepasukan prajurit bersenjata tombak lengkap yang dipimpin oleh Senopati Wira—perwira garis depan yang kedudukannya tepat satu tingkat di bawah Patih Mahisa.
"Kalian tidak bisa lari lagi, Raden Jayendra!" seru Senopati Wira seraya melangkah maju. Matanya yang tajam menatap curiga pada gulungan kain dan logam yang dipeluk Maya.
"Senopati Wira, dengarkan aku!" potong Putri Kirana tegas, melangkah ke depan tanpa rasa takut. Matanya memancarkan wibawa seorang putri kerajaan.
"Kau adalah perwira yang bersumpah setia pada Ayahanda Raja, bukan pada ambisi pribadi Patih Mahisa! Malam ini, Patih Mahisa sedang menyusupkan racun dan berniat melakukan kudeta di Balairung Utama!"
Senopati Wira mengerutkan kening, ragu.
"Patih Mahisa mengatakan kalian berdua merancang busana sihir untuk melumpuhkan Sang Raja—"
"Bohong!" sergah Raden Jayendra, melangkah berdiri bersisian dengan Putri Kirana.
"Lihat karya ini dengan matamu sendiri, Senopati! Ini adalah perisai dada—penyatuan kriya logam dan tenun sakral. Kami membuat ini untuk melindungi Sang Raja! Jika kau tidak percaya, tanyakan pada Tumenggung Reksa yang mengejar kami di belakang!"
TAP! TAP! TAP!
Langkah kaki tergesa-gesa terdengar dari arah lorong. Tumenggung Reksa muncul bersama lima prajuritnya dengan keris terhunus.
"Senopati Wira! Kenapa kau bermalas-malasan?!" teriak Tumenggung Reksa penuh amarah tanpa menyadari situasi.
"Bantai mereka berdua sekarang! Patih Mahisa sudah menyiapkan tiga ratus keping emas untukmu dan pasukanmu begitu takhta berganti malam ini!"
Perkataan spontan dari mulut Reksa runtuh seketika saat menyadari raut wajah Senopati Wira yang berubah sangat dingin.
"Tiga ratus keping emas untuk mengganti takhta Sang Raja... Tumenggung?" bisik Senopati Wira, suaranya berat dan berbahaya.