BAB 8
Bayangan di Balik Benang Sabotase
Malam menyelimuti kota ketika Maya kembali ke studionya. Gelombang getaran aneh dari selasar candi dan sisa-sisa siuman dari klinik desa tadi sore masih menyisakan denyut tipis di pelipisnya. Namun, buku sketsa kulit milik Rendra yang tersimpan rapat di dalam tasnya membawa bobot argumen teknis—sekaligus memori visi kuno—yang bergema hebat di kepalanya.
Keheningan malam di studio utama pecah begitu ia melangkah melewati pintu kaca. Nia dan Dito duduk di meja rapat tengah yang dipenuhi lembaran laporan keuangan, cetakan surel, kalkulasi arus kas, dan berkas analisis risiko.
Wajah Dito terlihat kuyu dengan kantung mata hitam yang menebal, sementara Nia memegang cangkir kopi dingin dengan raut muka sangat tegang.
"Maya! Akhirnya kau pulang!" panggil Nia, langsung berdiri begitu menyadari kehadiran Maya. "Teleponmu mati sejak sore tadi! Kami hampir saja melapor ke polisi atau menyisir jalanan dari klinik!"
"Bateraiku habis di jalan," jawab Maya pelan. Ia melepas coat luarnya, menggantungnya di dekat pintu, lalu melangkah mendekati meja kerja mereka yang penuh kekacauan berkas.
"Bagaimana situasi detailnya, Dito? Seberapa buruk?"
Dito tidak langsung menjawab. Ia memijat pangkal hidungnya, melonggarkan ikatan dasinya, lalu menarik napas panjang yang terdengar terengah.
"Kondisinya bukan lagi sekadar buruk, Maya. Ini sabotase terstruktur," kata Dito, suaranya berat dan bergetar menahan tekanan. Ia menggeser sebuah map merah tebal ke hadapan Maya.
"Investor utama kita—Konsorsium Mahakam—secara resmi melayangkan surat pembatalan komitmen dana segar senilai tiga miliar untuk operasional kuartal depan."
Maya membeku. Angka itu adalah napas hidup rumah modenya—sekaligus pertaruhan independensinya agar tidak perlu bergantung pada sokongan finansial gurita bisnis keluarganya.
"Tiga miliar? Atas dasar apa? Bukankah penandatanganan kesepakatan awal sudah sah secara perdata?"
"Mereka mengeksekusi klausul darurat terkait pencemaran nama baik dan sengketa hak cipta," potong Dito cepat, jemarinya mengetuk-ngetuk lembaran kertas di meja.
"Tadi siang, sebuah artikel bohong terbit di media bisnis independen. Isinya menuduh studio kita sedang dalam penyelidikan internal akibat dugaan penjiplakan karya Clarissa Arum. Dua jam setelah artikel itu tayang, tim hukum Victor mengirimkan salinan klaim sengketa tersebut langsung ke surel jajaran direksi Mahakam."
"Laporan itu rekayasa murni!" tebas Maya, memukulkan telapak tangannya ke atas meja. "Sketsa gaun babak lima besar itu baru kubuat di ruangan ini! Bagaimana mungkin Victor dan Clarissa bisa mendapatkan draf awal untuk dijadikan bahan tuduhan?"
"Karena ada kebocoran dari dalam rumah kita sendiri, Maya," sela Nia dengan nada dingin dan mata memerah. Ia memutar layar laptopnya ke arah Maya, menampilkan deretan log sistem jaringan lokal studio.
"Aku menghabiskan waktu empat jam terakhir menyisir lalu lintas data server kita. Tiga hari lalu, jam dua pagi, ada aktivitas pengunduhan folder Master Design 2026 menggunakan kredensial akun staf magang kita. Pengunduhan itu dilakukan dari alamat IP eksternal yang setelah kutelusuri terhubung langsung dengan server anak perusahaan investasi milik Victor."
Ruangan rapat mendadak terasa makin menyempit dan mengimpit. Udara dingin dari pendingin ruangan terasa seperti menusuk kulit. Maya mengepalkan jemarinya kuat-kuat hingga buku-buku jarinya memutih.
"Siapa staf magang itu?" tanyanya lugas.
"Bagus. Tapi dia hanya dimanfaatkan," jawab Nia cepat.