Benang yang Tak Putus

Rie Yanti
Chapter #1

Sebuah Layangan tanpa Benang

Sudah dua puluh menit Aurora Puspa Jelita berdiri di samping warung tenda dekat SMA Wufi. Matanya tak lepas dari gerbang sekolah, seolah menunggu sesuatu yang tidak seharusnya keluar dari sana.

Sudah tiga hari ini, siswi kelas sebelas itu meminta kakaknya, Nareswara Bima Pradipta, untuk menjemputnya sepulang sekolah.

“Jojo ngejar-ngejar aku terus, Mas. Tiap pulang sekolah dia selalu nunggu di gerbang, ngajak pulang bareng.” Rora memberikan alasan ketika suatu malam ia merengek minta dijemput kakaknya.

“Loh, bagus, kan?” sahut Nares tanpa mengalihkan tatapannya dari layar laptop. “Ada yang jagain kamu.”

Rora mengubah posisi duduknya jadi menghadap Nares. “Tapi aku nggak mau sama Jojo.”

Nares menoleh sebentar. “Terus, siapa? Mbak Bin? Kasihan kalau dia diminta mengawal kamu. Tanggung jawab dia meliputi seluruh desa ini loh, bukan kamu aja.”

Mbak Bin adalah kepala Bhabinkamtibmas (Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat), atau kepala keamanan Desa Wufi.

Rora mendengus. “Mentang-mentang Jojo masih kerabat sama Ustaz Razad. Anak-anaknya, kan, direkrut buat bantu Mbak Bin,” ujarnya sambil menurunkan posisi duduknya.

“Nah! Tambah bagus lagi itu. Kalau kamu kenapa-kenapa di jalan, Jojo bisa ngelapor ke anak-anak Ustaz Razad.” Nares semakin bersemangat menolak keinginan adiknya.

“Tapi aku nggak suka Jojo, Mas. Aku nggak suka caranya deketin aku. Bayangin, ya, di sekolah waktu aku mau ke toilet sama Danya, Jojo tiba-tiba muncul di hadapan kami sambil merentangkan tangannya, terus bibirnya dimanyun-manyunin. Kayak mau meluk dan nyium aku,” tutur Rora sambil bergidik jijik.

“Terus?”

Rora tahu, meski Nares tampak lebih memilih menggulir-gulir mousepad, dari nada suaranya kakaknya itu sebetulnya khawatir. “Aku sembunyi di balik badan Danya yang gede. Danya yang ngedorong Jojo sampai hampir jatuh terjengkang. Tapi dia nggak marah. Dia kelihatan suka diperlakukan kayak gitu. Kayak orang gila.” Rora bergidik saat ia kembali teringat ekspresi wajah Jojo ketika itu.

“Ya, sudah, minta Danya aja buat jadi bodyguard kamu. Sekalian minta dia buat anterin kamu pulang.”

Sebuah tinju cukup keras menghantam lengan Nares. “Aduh!” Laki-laki itu mengusap-usap lengannya sambil meringis.

“Yang bener aja, Mas!” bentak Rora. “Dia juga ditunggu ibunya. Aku mau Mas Nares jemput aku…”

“Aku sibuk di kampus, Dik,” potong Nares, tak mau kalah. “Aku jadi panitia penerimaan mahasiswa baru.”

“Terus, aku gimana? Mama pulangnya juga malam. Kalau naik ojol tiap hari, bisa habis uang sakuku.”

Nares menoleh pada adiknya yang sedang cemberut. “Masalah Jojo itu nggak gawat. Biasalah ada cowok kayak gitu. Lama-lama juga dia bosan sendiri…”

Rora sewot. “Nggak bisa, Mas. Jojo itu anak yang bandel. Aku sekolah bareng dia sejak SD, jadi aku tahu dia kayak gimana. Kenapa, sih, pemerintah nggak bikin sekolah yang banyak di sini? Biar aku bisa milih sekolah yang beda dengan Jojo.”

Keluhan Rora memang wajar. Pulau Noesawoefi atau Desa Wufi hanya memiliki satu sekolah negeri untuk setiap jenjang SD sampai SMA. Memungkinkan para siswanya untuk memiliki teman abadi sejak kecil hingga remaja.

Tidak terkecuali Rora, yang satu sekolah dengan Jojo selama sebelas tahun. Namun, kejanggalan tingkah Jojo baru terasa sejak satu bulan ini, sejak mereka sama-sama duduk di kelas sepuluh, meskipun kelas mereka berbeda. Dan yang sangat Rora sesalkan adalah kelas mereka bersebelahan.

Melihat Nares diam saja, Rora gatal untuk mengguncang-guncang lengannya. “Ayolah, Mas. Kalau Jojo udah nggak ganggu-ganggu aku lagi, aku nggak bakalan minta dijemput Mas Nares…”

Kesal karena dirongrong terus, Nares mendorong tangan adiknya itu. “Nanti, nanti. Aku harus lihat dulu jadwalku.”

Rora kembali cemberut. Biasanya, kalau Nares bilang “nanti”, itu bisa berarti ia menunda untuk menyanggupi atau sama sekali tidak menyanggupi permintaan adiknya.

Amunisi terakhir Rora adalah meminta tolong pada ibunya, Asti Purnamawati. Ia sebetulnya tidak tega. Asti yang seorang single parent, bekerja sebagai front officer di Hotel Istana Wufi, dari pagi sampai malam. Kadang pada hari libur pun ia tetap bekerja.

Namun, kepada siapa lagi Rora harus meminta tolong? Mereka tidak dekat dengan para tetangga.

Sambil berusaha bersabar, Rora menunggu ibunya pulang.

 

***

Lihat selengkapnya