Menjelang sore di kampus Uniwu, rapat evaluasi panitia PMB belum juga menunjukkan tanda-tanda akan selesai. Itu berarti, kegiatan Nares berikutnya bakalan tertunda.
Mahasiswa semester tiga itu sudah menguap beberapa kali. Ia melepas topi dan mengipas-ngipas wajahnya. Di sekitarnya, kursi-kursi digeser, kertas dibolak-balik, dan suara orang-orang yang membahas hal yang sama berulang kali terdengar semakin datar. Sesekali terdengar lelucon dan tawa. Orang-orang bersikap sesantai mungkin. Tidak ada yang tampak terburu-buru.
Namun Nares keburu lelah. Ia berusaha menahannya, mencatat seperlunya, mencoba fokus, meski pikirannya sesekali melayang ke hal-hal lain yang tidak disebutkan dalam agenda rapat.
Mendadak, Nares merasakan ponselnya bergetar. Ia tahu siapa yang menelepon, dan karena itulah ia sengaja tidak menengoknya.
“HP kamu, Res?” tanya Adam, sesama anggota divisi logistik yang duduk di sebelahnya.
“Iya. Paling dari adikku,” Nares menjawab tak peduli.
“Nggak dijawab?”
Nares menggeleng.
Mereka berdua kembali menyimak rapat. Ponsel Nares berhenti berbunyi, tetapi sejenak kemudian berbunyi lagi.
“Kayaknya urgent,” duga Adam.
Nares menunggu ponselnya kembali diam. “Nggaklah. Paling ngasih kabar kalau udah pulang sekolah.”
Adam cuma manggut-manggut. Sebagaimana halnya laki-laki, Nares bukan tipe orang yang suka bercerita banyak tentang keluarganya. Apalagi Adam dari jurusan lain. Kenal Nares sejak jadi panitia PMB.
Langit berangsur redup tatkala Nares keluar dari ruang rapat dan berjalan menuju tempat parkir. Kampus mulai sepi. Mahasiswa yang kebagian kuliah sampai sore beranjak pulang.
Di atas sepeda motor, Nares menyalakan ponsel. Benar saja, Rora sudah dua kali meneleponnya. Nares tidak berniat menelepon balik. Toh, ia akan segera meluncur ke sekolah adiknya yang juga almamaternya.
Namun sebuah pesan WA membuatnya menunda menyimpan kembali ponselnya ke dalam saku.
Kalau sempat, belanja, ya.
List-nya mama tempel di kulkas.