Rora tidak pernah membayangkan kalau di semester baru jadwal Nares bakal lebih padat. Minggu depan, katanya, masa efektif perkuliahan dimulai dan setiap hari ia akan pulang petang.
“Belajar bela diri aja. Bukan buat melawan Jojo, tapi biar kamu percaya diri,” saran Nares tadi malam sambil menunggu Asti pulang.
Rora menggeleng. “Ada cara lain nggak?”
Nares mematikan layar ponselnya. “Orang kayak Jojo itu ada di mana-mana dan nggak berbahaya. Nggak usah takut-takut amat. Dia itu tipe yang kalau udah bosan, pasti berhenti sendiri.”
Rora terdiam. Jauh di lubuk hatinya, ia tidak bisa menerima saran sang kakak.
Saat istirahat di kantin sekolah, Rora mengeluhkan hal itu pada teman-temannya. “Kata Mas Nares, Jojo itu cuma nyebelin. Selama dia nggak macam-macam, aku masih aman.”
“Memang nggak berbahaya. Tapi tetap aja menyebalkan,” timpal Danya.
“Menurutku, sih,” Stella membersihkan tangannya yang belepotan minyak bekas gorengan dengan tisu, “kayaknya kamu harus punya seseorang yang bisa mendampingi kamu biar Jojo nggak ganggu-ganggu kamu lagi.”
Rora mengerutkan kening. “Maksudnya?”
Stella berlagak kesal. “Masa’ nggak ngerti, sih?’
Danya menjentikkan jari. “Pacar, Ra.”
“Pacar?” Rora membelalak. Bola mata nyaris keluar dari kantongnya.
“Iya. Kamu, kan, selama ini minta tolong Mas Nares buat jadi bodyguard kamu. Jojo selalu menciut tiap kali lihat kamu dijemput Mas Nares. Nggak berani manggil, nggak berani deketin. Berarti…”
“Kamu harus punya pacar!” Danya menegaskan.
Rora spontan menggelengkan kepalanya dengan keras. “Nggak, nggak. Aku nggak dibolehin pacaran sama keluargaku. Lagipula... helo? Siapa juga yang mau pacaran sama aku?”
Semua terdiam di meja kantin. Menyadari bahwa tak satu pun dari mereka yang sudah “laku”. Bahkan di bangku SMP, ketika teman-teman mereka punya pacar, tiga sekawan itu anteng-anteng saja dengan status jomblonya.
“Udah gitu,” tambah Rora, “kita udah berteman sejak SD dengan anak-anak di sekolah ini. Udah saling kenal dan kayaknya nggak enak kalau dijadiin pacar.”
“Iya juga, sih,” Danya membenarkan. “Takutnya, karena Jojo juga pasti kenal cowok-cowok di sini, dia bakal merasa dikhianati. Selama ini, kan, dia terang-terangan menunjukkan kalau dia suka sama kamu. Kalau nanti tahu-tahu ada seorang teman jadi pacar kamu, dia bakal merasa orang menyalip dia seenaknya.”
Stella terdiam. “Iya, ya. Tapi… satu-satunya cara cuma itu, Guys. Jojo bakalan mundur kalau ada seseorang yang mendampingi Rora. Seorang cowok.”
“Tapi siapa?” Danya kembali bertanya.
Rora geleng-geleng.
Stella mengangkat bahu.
***