Benang yang Tak Putus

Rie Yanti
Chapter #4

Benang yang Terasa Berat

Nares bergegas meninggalkan kelas. Setengah berlari menuruni tangga, ia merasakan perutnya bergejolak. Cacing-cacing di dalamnya sedang berunjuk rasa menuntut makanan. Tadi pagi ia cuma sarapan minuman sereal dan selembar roti tawar.

“Kalau mau, masak mi instan,” saran Asti sambil menjemur cucian, salah satu rutinitasnya sebelum berangkat kerja.

Nares bergeming. Mereka terlalu sering makan mi instan.

“Tambah telur juga nggak apa-apa. Biarinlah harganya naik. Daripada kurang gizi.”

Nares menghela napas.

“Aku makan roti aja,” ujarnya sembari mengambil selembar roti tawar dari kemasannya.

Asti membuka freezer. “Sosis dan naget masih ada beberapa biji. Mau digorengin buat pulang kuliah?”

Lagi-lagi Nares menggeleng. “Nggak usah, Ma. Kalau mama mau, buat mama aja. Aku sama Rora nanti saja gorengnya, mendadak. Dimakan dingin, kan, nggak enak.”

Asti menutup pintu freezer. “Bosan, ya, makanannya itu-itu aja?” tanyanya sambil duduk. Ia memandang Nares dengan prihatin.

Nares melahap roti tawar yang ia sobek dan celupkan ke dalam minuman sereal dengan lesu. Ia juga merasa bersalah. Sejak mengerti betapa melelahkannya bekerja, ia tidak lagi terang-terangan rewel soal makanan. Demi membuat ibunya tenang. Tetapi, ibu mana yang tidak memahami perasaan anaknya?

“Nggaklah, Ma. Cuma… frozen food dan mi instan, kan, nggak baik kalau dimakan sering-sering. Masih lebih baik ayam dan telur.”

“Ayam diungkep? Telur ceplok atau dadar? Nggak bosen, gitu?” Asti berusaha mengorek kejujuran dari wajah anaknya.

Mau tak mau, Nares bicara apa adanya. “Bosen, sih. Dan mahal sekarang. Tapi itu makanan favorit dan praktis. Lebih sehat juga.”

Asti tersenyum. “Ya, sudah. Mama banyakin beli ayam dan telur aja kalau gitu.”

“Kalau harganya naik, nggak usah maksain juga, Ma.” Nares cepat-cepat menolak. “Nggak apa-apalah sekarang frozen food. Nanti kalau harga ayam sama telur udah turun, baru nyetok lagi yang banyak.”

Nares menempelkan bibir cangkir ke bibirnya. Rasa manis sereal memenuhi lidahnya pagi itu, tapi pikirannya terus berdenyut. Di antara sekian banyak menu, kenapa ayam dan telur selalu jadi pilihan utama? Bukankah ikan punya lebih banyak kemungkinan?

Di luar itu, Nares juga merasa takjub pada dirinya sendiri. Ia bukan lagi sekadar anak laki-laki bagi ibunya, juga bukan sepenuhnya mahasiswa yang sibuk dengan dunia kampus.

Ia sedang belajar menjadi kepala rumah tangga—membantu ibunya menjaga Rora, memikirkan menu buat makan tiga kali sehari, sekaligus menghitung pengeluaran rumah tangga.

Sambil mencuci cangkirnya, Nares tersenyum tipis. Ia tidak tahu harus bangga atau justru merasa terbebani dengan perannya di rumah.

Saat Asti memotong-motong sosis dan bahan-bahan lain untuk melengkapi mi goreng buat sarapan dan bekalnya, Nares pamit ke kampus.

Siang itu, kantin mulai penuh meski belum pas waktu istirahat. Riuh oleh para mahasiswa yang kelaparan tapi masih sempat membicarakan kuliah. Nares dengan cekatan mengambil nasi, ayam dan tahu goreng, sayur sop, dan sambal.

“Berapa semuanya, Bu?” Nares mengeluarkan dompet dari saku celananya.

“Tujuh belas ribu.”

Laki-laki itu melongo. “Masing-masing berapaan, Bu? Kok, lebih mahal dari biasanya?”

Nares sebetulnya tahu apa yang membuat makan siangnya jadi lebih mahal. Tapi, demi mendapatkan penjelasan jujur dari ibu kantin, ia pura-pura tidak mengerti.

Ibu kantin menoleh kesal. Di belakang Nares sudah berbaris tiga mahasiswa. Semuanya mau membayar makanan mereka. “Nasi empat ribu, ayam sembilan ribu, tahunya seribuan, sayur dua ribu.”

“Ayamnya sembilan ribu? Perasaan minggu lalu tujuh ribu lima ratus,” protes Nares.

“Harga-harga naik, Mas. Apalagi ayam.” Ibu kantin tidak mau dikalahkan. Baginya, mahasiswa sepintar apapun tidak akan paham masalah dapur. “Kalau mau murah, bisa. Tapi ayamnya dipotong kecil-kecil.”

Bahu Nares naik, lalu turun seiring napas berat yang ia hela. Buat makan aja harus berpikir dua kali. Yang bikin harga naik… apa pernah berpikir sejauh itu?

Kesal karena dilecehkan, Nares menyorongkan uang dua puluh ribu. Biar cepat kelar.

“Kembaliannya nanti diantar ke meja, ya. Udah ngantre, tuh.”

Nares mengangguk dan mencari tempat duduk. Ia mengedarkan pandangannya ke segala penjuru kantin dan mendapati Tria duduk sendirian.

Astria Widya Kirana adalah teman satu jurusan Nares. Anak rantau dari Jakarta yang selalu tampak anteng sendirian. Jarang sekali Nares melihatnya bergaul dengan mahasiswi lainnya. Bahkan, sehabis kuliah, Tria selalu menghilang. Tahu-tahu muncul begitu saja saat jam kuliah berikutnya.

Lihat selengkapnya