Sejak Niko kembali satu sekolah, Rora merasakan sebuah semangat baru. Ia tidak pernah sengaja mendekati Niko untuk mengusir Jojo. Semua terjadi karena sebuah kedekatan yang pernah putus dan sekarang sedang kembali terjalin.
“Kapan terakhir kali main layangan?” tanya Niko ketika suatu pagi mereka bertemu di gerbang sekolah. SMA Wufi sudah ramai oleh siswa-siswi yang berdatangan sambil berjalan kaki, naik sepeda, diantar orang tua atau ojek daring.
Rora melohok sebentar, lalu tertawa. “Ya, ampun, Niko! Kok, masih ingat aja, sih, kalau aku suka main layangan?”
Niko ikut tertawa. “Iya, dong. Aku masih ingat waktu kamu nangis gara-gara kalah di festival layang-layang. Padahal kakakmu nggak apa-apa.”
Wajah Rora memerah di antara derai tawanya.
Pulau Noesawoefi bukanlah destinasi wisata favorit di Indonesia. Angka kunjungan wisata ke pulau ini terbilang rendah. Untuk menarik minat wisatawan, sejak tahun 2010 lalu pemerintah desa membuat sebuah perhelatan tahunan: festival layang-layang. Festival ini mampu menggaet banyak wisatawan domestik maupun asing. Tidak hanya untuk menonton, tetapi juga berpartisipasi sebagai peserta.
Aneka bentuk layang-layang meliuk-liuk di langit. Berwarna-warni dan berbagai ukuran. Festival ini tidak hanya menilai desain layang-layang, tetapi juga ketahanan terbang dan kekompakan peserta tim.
Nares dan Rora turut memeriahkan kompetisi ini. Mereka mengadu layangan mereka dengan layangan kompetitor. Peserta dinyatakan kalah jika benang layangan mereka bersangkut dengan layangan lain sehingga benangnya putus.
Karena Nares baru bisa bermain layangan, benang layangan mereka putus. Rora menangis sejadi-jadinya dan sempat menyalahkan sang kakak karena telah membuat mereka kalah. Saat difoto oleh ayah mereka sebagai kenang-kenangan, Nares berpose menghadap kamera sambil menunjukkan layangan mereka yang berbentuk balon udara. Sementara Rora memilih berpose membelakangi kamera saking kecewanya. Bukan cuma marah karena mereka kalah, tapi juga malu karena Rora tahu, Niko dan beberapa teman taman kanak-kanaknya juga mengikuti festival tersebut.
“Aku dan Mas Nares terakhir ikut festival itu tahun 2017. Waktu papa masih ada. Setelah papa meninggal, kami nggak pernah ikut festival lagi,” tutur Rora.
Di depan kelas 10-2 mereka berhenti. Rora melirik ke dalam kelas Niko dan mendapati Jojo sedang bercakap-cakap dengan teman-temannya. Ia juga sempat melirik ke depan kelas. Matanya bersitatap dengan mata Rora selama satu detik. Setelah itu, Jojo memalingkan mukanya.
Rora tidak peduli. Ia kembali berbicara dengan Niko.
“Waktu pandemi sempat ditiadakan, ya?” tanya Niko.
“Iya. Tapi tahun ini mau ada lagi.”
“Aku tahu. Aku baca infonya di IG. Mau ikutan?”
Rora bergeming. Di kepalanya berputar memori saat ia dan Nares terakhir mengikuti festival layang-layang enam tahun silam. “Pengin, sih. Tapi, aku belum tanya Mas Nares.”
“Kamu mau ikutan sama kakakmu?” Niko memastikan.
“Mauku begitu. Nggak tahu Mas Nares. Dia lagi sibuk di kampus.” Rora setengah mengadu.
“Aku juga pengin ikut, sih. Tapi kalau sendiri, kayaknya nggak seru, deh.”
Rora mengangkat alis. “Terus, kamu mau ikutan sama siapa?”
Niko mengerlingkan matanya ke plafon koridor bangunan sekolah. “Kalau kakakmu nggak bisa ikut, kamu mau, nggak, ikut festival bareng aku?”
Rora terperangah.
“Aku nggak maksa, sih. Tapi daripada kamu sendirian, aku juga nggak punya teman, bukankah lebih baik kita bareng-bareng?”
Rora menggigit bibirnya seraya mengalihkan pandangannya ke arah lain.
Melihat Rora tampak ragu, Niko kembali buka suara. “Kita, kan, udah kenal lama, Ra. Pasti bisa main dengan kompak,” katanya, berusaha meyakinkan Rora.
Mata Rora kembali ke wajah Niko. Wajah itu tampak tenang dan sedikit malu-malu. Tetapi kalimat-kalimatnya terdengar yakin.
“Aku tanya Mas Nares dulu, deh, kalau pulang.”
Niko mengangguk, tersenyum, sebelum mereka berpisah untuk masuk kelas masing-masing.
***
Stella dan Danya mengacungkan jempol mereka begitu Rora masuk kelas.
“Maksudnya apa, tuh?”
“Good job!” sahut Danya. “Jojo kelihatan ilfeel lihat kamu sering jalan dan ngobrol sama Niko.”
“Oh, ya?” Rora menyambut kabar tersebut dengan senyum lebar. “Berarti aku harus sering-sering ngobrol lagi, ya, sama Niko.”
“Atau… lebih baik jadian.” Stella meralat.
Bibir Rora kembali ke bentuknya semula. “Nggak gitu juga, kali! Temenan aja udah cukup, kok.”