Benang yang Tak Putus

Rie Yanti
Chapter #6

Simpul yang Belum Terurai

Pintu kantor jurusan terbuka. Tanda ada orang di dalam. Matahari di luar sedang terik, tapi udara di ruang itu terasa tenang. Mungkin karena penyejuk ruangan.

Nares menarik napas dalam-dalam, melepas topinya lalu mengetuk pintu. “Permisi,” katanya pada staf administrasi jurusan, “saya mau ketemu Pak Farhan.”

Perempuan berjilbab dan berkacamata itu menunjuk meja Farhan. Pandangan Nares mengikutinya. Tampak Farhan sedang membuka laptop lalu mendongak. Keningnya berkerut.

Sebelum dosen muda itu membuka mulut, Nares mendahuluinya. “Maaf mengganggu, Pak. Saya Nareswara, mau tanya-tanya tentang penelitian yang kemarin bapak tawarkan.”

Raut wajah Farhan spontan berubah. “Oh, ya, ya. Masuk, Nares…”

“Nares saja, Pak,” potong Nares dengan santun. Ia melangkah masuk ke kantor jurusan yang lengang. Hanya ada dua orang dosen di sana. Yang lainnya mungkin masih di kelas atau makan siang. Sekarang memang jam istirahat dan Nares sudah makan di kantin lebih awal.

Dengan isyarat tangan, Farhan menyuruh Nares duduk di kursi di depannya.

“Soal kemarin, Pak. Yang proyek riset itu.”

Farhan tampak tertarik. “Ya, bagaimana?”

“Saya tertarik ikutan, Pak. Kebetulan saya punya ide penelitian.”

Farhan mengetuk sebuah tombol di laptopnya dengan cukup keras. “Oh, ya? Coba jelaskan.”

Nares berdeham. “Sekarang ini, kan, harga daging ayam lagi naik. Saya mau buat penelitian tentang faktor-faktor penyebabnya dan dampak kenaikan harga daging ayam terhadap masyarakat.”

Farhan menempelkan punggungnya di sandaran kursi. “Soal kenaikan harga, ya?” gumamnya sambil menatap langit-langit kantor.

Nares menunggu sambil berdebar-debar. Tanpa sadar, ia memainkan jari-jarinya senyampang Farhan berpikir.

“Oke… Idenya masuk akal,” sambut Farhan dengan wajah hambar.

Nares tidak tahu harus bersikap bagaimana: tersenyum atau kembali menunggu komentar Farhan selanjutnya.

“Tapi…”

Wajah Nares kembali tegang. Kenapa ada “tapi”-nya?

“Begini, Res.” Farhan kembali mendekati mejanya. “Harga daging ayam sangat fluktuatif. Bisa naik-turun dengan cepat. Minggu ini naik. Minggu depan bisa turun. Faktornya bisa macam-macam. Mulai masalah pakan sampai permintaan masyarakat. Jadi, kalau kamu mau meneliti kenaikan harga ayam, bisa jadi kurang menarik karena itu adalah isi jangka pendek, dan kita sudah terbiasa dengan masalah itu.”

Rasa kecewa seketika tampak di wajah Nares. Namun, ia juga tidak mau menyerah. Bukankah untuk tugas-tugas akademik diperlukan alasan yang kuat supaya bisa mendebat?

“Saya pikir ini bukan cuma soal harga, Pak. Dari yang saya amati, perubahan harga ayam—meski sedikit—bisa langsung memicu kepanikan. Seolah-olah orang tidak siap, padahal ini kejadian yang berulang. Di rumah saya, misalnya. Harga ayam atau telur naik sedikit saja, ibu saya langsung menyusun ulang menu. Saya jadi berpikir… jangan-jangan yang bermasalah bukan harganya, tapi sistemnya…”

Antara puas dan terkejut, Nares tidak mengira bisa berargumen seperti barusan. Ia sebetulnya cuma asbun—asal bunyi. Plus, sedikit curhat. Supaya Farhan berpikir dua kali untuk menampik idenya dan mengakui kalau Nares “cukup matang” sebagai mahasiswa.

 Tetapi Nares tidak benar-benar tenang sebelum Farhan menanggapi. Laki-laki di hadapannya itu tersenyum tipis sambil menggeser-geser jarinya di mousepad laptop. “Kalau begitu… arahkan risetmu ke mekanismenya. Kenapa bisa fluktuatif, dan kenapa dampaknya besar di desa ini. Itu baru menarik.”

Wajah Nares berubah seketika. Seperti langit yang tertutup awan kelabu, lalu berangsur-angsur cerah dan menampakkan kembali warna biru serta sinar matahari yang terang. Rasa lega menjalari dadanya. Akhirnya, ide itu diterima juga. Ia membayangkan dirinya menelusuri tempat-tempat yang belum pernah ia datangi sebelumnya—pasar, kandang, dan peternakan.

Nares hanya belum tahu, ide itu akan membawanya jauh lebih dalam dari yang ia kira.

Lihat selengkapnya