Asti menatap Rora dengan agak cemas. “Makannya, kok, dikit banget? Bosen, ya, nasi goreng terus?” tanya Asti dengan nada bersalah tatkala melihat anak bungsunya sarapan tanpa gairah. Ia memang tidak punya banyak waktu untuk memasak dan membuat variasi menu. “Atau sakit?” Tangannya meraba kening Rora.
Rora menggeleng. “Nggak apa-apa, Ma. Lagi nggak nafsu aja.”
“Kerupuknya tambah, ya?” tawarnya sembari menarik stoples besar berisi kerupuk bawang.
Lagi-lagi Rora menggeleng. “Ini aja belum habis,” tampiknya seraya menunjukkan kerupuk di tangannya.
Asti menghela napas sambil mengembalikan stoples kerupuk. “Mama mau ungkep ayam buat nanti malam. Tinggal kamu goreng seperti biasa. Tapi masak nasinya jangan banyak-banyak kayak kemarin.”
Bahkan ayam goreng pun tidak mampu membuat Rora duduk tegak dan makan dengan lahap. “Iya, Ma.” Hanya itu yang ia ucapkan di sela-sela denting sendok dan piring.
Nares menuruni tangga dengan buru-buru. Rora keheranan melihatnya sudah siap berangkat ke kampus. Padahal, jam masuk Nares tidak sepagi Rora.
“Aku berangkat awal hari ini. Mau bareng?”
Rora terdiam. Ia sudah kadung janjian dengan Niko di dekat rumahnya. Tadinya Niko mau menjemput Rora, tetapi Rora menolak. “Aku nggak diizinkan pacaran sama keluargaku. Kamu boleh main ke rumah, tapi alasannya buat belajar bareng. Nggak usah jemput-jemput aku. Ngantar sampai rumah juga nggak perlu,” pesan Rora beberapa hari yang lalu setelah mereka jadian.
Niko memaklumi. Mereka akhirnya janjian bertemu di tempat lain.
Tapi kalau Mas Nares berangkat lebih pagi, bisa-bisa dia lihat aku dan Niko jalan bareng?
Rora dan Niko bisa saja mengarang-ngarang alasan, seperti kebetulan bertemu atau sudah janjian karena mau memfotokopi catatan. Namun, lama-lama Nares bakal curiga ada yang Rora sembunyikan darinya.
“Hei! Bareng, nggak?” tegur Nares sambil menyendok nasi goreng dari mangkok besar.
“Bentar.”
Rora mengetik pesan untuk Niko. Cukup lama.
“Kalau mau bareng, cepetan makannya.” Nares mengingatkan.
Rora membatalkan janjinya untuk berangkat bersama Niko. “Aku mau bareng Mas Nares,” tulisnya. “Kita ketemu di sekolah aja.”
Nares sudah selesai makan ketika nasi goreng di piring Rora masih dua sendok lagi. “Tunggu. Belum abis,” katanya sambil mengunyah nasi goreng yang ia simpan di mulutnya.
Nares yang telah selesai mencuci piring dan sendok, memandang kesal. “Langsung telan aja, nggak usah dikunyah.”
Dengan pipi menggelembung karena kepenuhan, Rora menatap Nares dengan tak kalah kesal.
“Sudah, nanti mama bawakan buat bekal,” Asti menengahi sambil memindahkan sisa nasi goreng ke kotak makan. Ia juga menambahkannya dengan nasi goreng yang masih bersisa banyak di mangkok besar.
Rora mengambil kotak bekalnya dengan buru-buru, lalu menyusul Nares yang sudah menuntun sepeda motornya keluar rumah.
***
Niko sudah tiba di depan sekolah lebih dulu. Ia menunggu Rora di gerbang. Jojo lewat di hadapannya, melirik sebentar, lalu meneruskan berjalan menuju kelas.
Sebuah sepeda motor berhenti mendadak di depan SMA Wufi. Rora yang duduk di belakang, menepuk bahu sang pengendara yang cekikikan di balik helmnya.
“Pulang sendiri, ya,” pesan Nares. “Belajar yang bener. Jangan pacaran melulu.”