Usai kuliah pagi, Nares dan Tria langsung mencari Farhan. Dosen muda itu ternyata masih mengajar. Ada perubahan jadwal mengajar Farhan sehingga Nares dan Tria harus menemuinya di sebuah kelas.
Di depan pintu kelas yang ditutup rapat, Nares dan Tria tidak mendengar suara apa-apa. Mereka ragu, apa benar Farhan mengajar di kelas ini?
Nares mengetuk pintu. Wajahnya menegang. “Takut mengganggu,” bisiknya pada Tria sambil memasukkan tangannya ke dalam saku jaket.
“Mudah-mudahan nggak. Kita, kan, udah bikin janji dari kemarin.” Tria berusaha menenangkan.
Pegangan pintu berbunyi “klik” saat ditekan ke bawah.
Pintu dibuka sedikit. Farhan menampakkan wajahnya dengan senyum kecil.
“Maaf, Pak, kami mau menepati janji yang kemarin,” kata Tria.
“Oh, ya. Di sini saja.” Farhan menjawab singkat seperti teburu-buru.
Nares menarik daun pintu hingga terbuka cukup lebar. Mereka berdua masuk kelas. Farhan meminta Nares mengambilkan dua kursi dari deretan paling belakang dan menempatkannya di dekat meja dosen.
“Soal riset lapangan itu, Pak,” Tria membuka percakapan setelah dia dan Nares duduk. Di belakang mereka, para mahasiswa sedang menunduk pada modul. “Saya, kan, mau meneliti pengaruh kualitas pakan terhadap produk ternak unggas. Lalu Nares meneliti dampak kenaikan harga daging ayam terhadap kehidupan sosial masyarakat. Kami masih belum mengerti, apakah kedua objek penelitian itu digabung atau dipisah? Karena kalau digabung, benang merahnya masih kusut.”
“Padahal yang akan kami teliti sama-sama ternak unggas, Pak. Tapi, kok, bahasannya beda? Kami minta pencerahannya, kalau penelitiannya digabung jadi satu, apa objeknya tidak kebanyakan? Khawatirnya jadi tidak fokus, Pak,” imbuh Nares.
Farhan tersenyum tipis. “Iya, iya, saya paham. Kalian berdua sebenarnya sedang meneliti hal yang sama dari sisi berbeda. Kamu melihat efek sosialnya,” katanya sambil menatap Nares, “dan kamu melihat penyebab teknisnya,” tutupnya sambil menatap Tria. “Coba pikirkan hubungan antara biaya pakan, harga jual ayam, dan daya beli masyarakat. Kalau salah satunya goyah, yang lain ikut berantakan,” sambungnya.
Nares dan Tria saling pandang. Sedikit demi sedikit, mereka mulai memahami apa yang bisa menyatukan ide-ide mereka.
“Jadi, masalah sebenarnya mungkin bukan di ayam atau pakannya, ya, Pak?” Nares mencoba menganalisis sekaligus menyimpulkan.
“Tepat. Masalahnya ada di rantai pengetahuan yang putus di tengah. Ibaratnya, kalian sudah memegang ujung-ujung rantai atau benang itu. Sekarang tinggal membongkar simpulnya.”
“Simpul?” Tria mengerutkan kening. Setengah bingung, setengah tertarik.
“Iya, simpul. Pakan, harga, dan konsumsi itu kayak jaring. Kalian harus cari tahu di titik mana benangnya kendur.”
Mata Nares menyala. Itu dia! Ini soal hubungan antarmanusia di dalam sistem itu sendiri. Antara peternak dan pembeli.
“Kalian fokus pada mekanisme keterhubungan antara produsen dan konsumen, bukan di luar itu.”
Nares langsung mencatat. Bahkan, sebuah judul sudah terbentuk di kepalanya: Mekanisme Keterhubungan Antara Input Produksi (Pakan) dan Output Ekonomi (Harga dan Konsumsi).
Belum bergerak saja, dadanya sudah terasa ringan. Ia ingin segera turun ke lapangan.
“Maksudnya… produsen di sini pembuat pakan atau peternak, Pak?” Tria menggaruk kepala.
Farhan tidak langsung menjawab.
“Atau dua-duanya?” Nares menimpali.
Farhan mengangkat bahu. “Kalian sebetulnya sudah tahu jawabannya.”
Nares dan Tria saling melirik, lalu mengangguk pelan. Jelas—tapi juga belum sepenuhnya.
“Tapi…”
Senyum Nares tertahan. Selalu ada “tapi”.
Tria mendongak penuh ingin tahu.
“Ini riset lapangan, ya. Kalian berhadapan langsung dengan para pelaku kegiatan pangan di desa ini. Data bukan satu-satunya yang kalian hadapi.”
Nares dan Tria tertegun dengan wejangan Farhan. Mereka tahu, kendala di lapangan bisa jauh lebih berat. Namun, mereka masih belum tahu apa kendala itu.
“Iya, Pak. Mudah-mudahan semuanya lancar,” ucap Tria, penuh harap.
Sambil keluar kelas, Nares berpikir. Kira-kira, apa aja, ya, kendalanya?
***
Mereka berdua membelah jalan menuju pabrik pakan Desa Wufi. Pabrik yang terletak di kawasan utara Pulau Noesawoefi ini cukup besar meski hanya mempekerjakan belasan karyawan saja. Meski statusnya UMKM, sistem kerjanya sudah profesional—lengkap dengan gudang, mesin pencampur, dan ruang uji kualitas.
Dari halaman parkir, Nares dan Tria mendengar suara mesin pembuat pakan sedang bekerja. Mereka juga melihat beberapa orang mengangkut karung dari gudang ke truk kecil di dekat sana.
Kedua mahasiswa itu melangkah mendekat. Perlahan, dengan mata yang awas memandang para karyawan dan mengamati suasana sekitarnya. Seperti dua orang detektif yang hendak menyelidiki sebuah kasus kriminal.
Begitu tiba, aroma dedak langsung menyergap indera penciuman mereka. Tria berhenti melangkah, menghidu aroma segar yang berasal dari hasil penggilingan padi. Matanya memejam dan senyum mengembang di wajahnya. Nares terheran-heran melihat Tria menirukan bintang iklan pewangi pakaian.
“Ngapain, sih?” tanyanya seraya memakai topinya.
“Mencium aroma segar,” jawab Tria tanpa membuka kelopak matanya.