Benang yang Tak Putus

Rie Yanti
Chapter #9

Angin yang Berubah Arah

 Saat musim kemarau sedang terik-teriknya, matahari sangat rajin datang lebih awal dari pintu timur. Geliatnya mendorong jelaga pada langit hingga berangsur memudar. Tidak heran, meski baru pukul lima pagi, Desa Wufi sudah cukup terang. Lampu-lampu jalan sudah dimatikan dan elemen-elemen semesta menampakkan diri. Dunia seakan terlahir kembali.

Dari balik selimut, Rora sudah membuka matanya. Namun, tak seperti matahari yang mampu meniup habis jelaga hingga langit kembali menunjukkan warna birunya, gadis remaja itu enggan menyibak selimut. Padahal cuaca cukup panas untuk sepagi ini.

Pintu kamar diketuk. “Rora, bangun! Salat subuh.”

Suara Asti yang tenang, bahkan ketukan tangannya di pintu pun terdengar santun, membuat Rora semakin enggan meninggalkan tempat tidurnya. Ia ingin berbaring seharian di kamar.

“Ya, Ma,” sahut gadis itu dengan suara lemah sambil tetap berbaring. Tanpa ia sadari, lima menit berlalu. Mau tak mau Rora bangun. Duduk di kasur, menatap lantai kamar dengan kosong dan ragu saat ingat wajah Niko. Wajah yang semakin ia lawan, semakin rutin berkelebat dalam benaknya.

Kenapa persahabatan bisa berpindah haluan? Kenapa aku tidak bisa menjaga bahtera pertemanan supaya tetap di jalurnya?

Mungkin karena lautan terlalu luas dan tak punya dinding untuk menahan angin, sehingga kapal besar sekalipun bisa berbelok ke arah yang tak diinginkan.

Tapi mungkin juga, aku yang seharusnya tak usah kembali menaiki perahu itu.

Pintu kamar kembali diketuk. Kali ini cukup keras. Tanpa mendengar suaranya, Rora tahu siapa di balik pintu itu.

“Aku sudah bangun!” teriaknya.

“Mau berangkat bareng lagi, nggak?” tanya Nares dengan suara beratnya.

Rora terdiam beberapa detik. “Mas Nares berangkat pagi lagi?”

“Iya.”

Rora segera melempar salah satu ujung selimutnya dan bergegas keluar. Wudu, salat, membantu Asti mencuci piring, dan mandi. Sejujurnya, ia masih malas ke sekolah meski Nares mau mengantarnya. Tetapi mustahil ia membolos. Kasihan ibunya yang sudah susah payah bekerja.

Rora sarapan cepat-cepat. Ketika Nares sudah siap, ia pun sudah siap di depan rumah.

Nares terheran-heran. “Rajin amat,” ledeknya. “Kangen sama Jojo, ya?”

Rora mendelik. Seperti biasa, ia tidak benar-benar marah pada kakaknya. Justru kelakarnya yang menyebalkan itu membuat Rora merasa nyaman. Jika sebelumnya ia membutuhkan Nares untuk membuat Jojo jera mendekatinya, kali ini Rora membutuhkan sang kakak sebagai tempatnya mengadukan semua kegelisahan, yang sayangnya tidak dapat ia ungkapkan begitu saja.

***

Perjalanan dari rumah ke sekolah hanya beberapa menit. Rora merasa enggan turun dari sepeda motor Nares. Ketika mereka berhenti di depan SMA Wufi, Nares mendesaknya untuk segera turun. Bukan hanya karena buru-buru. Ada alasan lainnya.

“Aku malu ketemu guru-guru. Belum jadi apa-apa, nih.”

“Jadi mahasiswa belum cukup, gitu?” tanya Rora polos. “Bukannya kuliah di Uniwu bisa membanggakan guru-guru?”

Nares ingin sekali menjelaskan. Tetapi ia menghentikan sepeda motornya agak di tengah jalan, sementara siswa-siswi SMA Wufi yang diantar orang tua mereka menggunakan sepeda motor atau ojek daring mulai berdatangan. Nares tidak mau cara parkirnya yang sembarangan menjadi penyebab bunyi klakson bersahut-sahutan.

Maka, laki-laki itu kembali mendesak Rora untuk turun. Dengan langkah gontai, Rora berjalan memasuki halaman sekolah. Saat menoleh, sepeda motor Nares sudah tidak ada di depan. Rora menunduk dan bersungut-sungut. Memperhatikan ujung-ujung sepatunya menunjuk arah menuju kelas. Betapa ia sedang kesal pagi itu dan ingin melampiaskan amarahnya pada…

“Hai!”

Rora berhenti seketika dan mendongak.

Niko tersenyum tepat di depan hidungnya.

Tanpa bicara apa-apa, mereka berjalan bersama menuju kelas. Langkah-langkah mereka diiringi suara para siswa dan derap sepatu mereka. Tidak ada satu pun kata yang keluar dari mulut Rora dan Niko. Rora sendiri memilih memalingkan muka ke lapangan basket. Memandang pesuruh sekolah menyapu lapangan daun-daun kering. Tangannya menuntun sapu lidi menggeser daun-daun cokelat dan kuning ke salah satu sudut lapangan. Sejenak, Rora merasa lega melihat sebagian lapangan sudah bersih. Tetapi ia juga tahu, siang nanti, daun-daun akan kembali luruh dan berserakan di lapangan.

Tiba di depan kelas 10-1, Rora berdiri berhadapan dengan Niko. Baru sekarang ia menyadari: Niko terlihat letih, matanya sembab, wajahnya pucat.

“Kamu kenapa?” tanya Rora, terheran-heran melihat wajah Niko tidak seperti biasanya. Namun, ia berusaha menjaga nada suaranya agar tidak terdengar prihatin. Rora tidak mau Niko menganggapnya begitu perhatian.

Niko tampak terkejut. Seakan tidak mengira Rora akan bertanya seperti itu. “Heh?”

“Kamu kelihatan pucat,” Rora memperjelas pertanyaannya. “Lagi sakit?”

“Ng-nggak.” Suara Niko kecil, seperti ada sesuatu yang menahannya di tenggorokan.

“Kurang tidur?”

Niko tampak salah tingkah diinterogasi Rora. “Eh… iya.”

“Kenapa? Ada PR, ya?” Rora mengecilkan matanya.

“Iy… Eh, nggak.”

Rora mengerutkan kening. “Terus, ngapain?”

Niko salah tingkah melihat Rora sedang menatapnya penuh selidik. “Aku… tiba-tiba kangen mama…”

Bibir Rora membentuk huruf “o”. “Udah ditelepon?”

Lihat selengkapnya