Jika sebelumnya bau dedak memenuhi hidung Nares dan Tria, kali ini bau amonia, yang berasal dari kotoran ternak yang terurai, merembes masuk dan menempel di bulu-bulu halus dalam hidung mereka. Tetapi, Nares dan Tria tahu betul salah satu konsekuensi menjadi mahasiswa jurusan peternakan adalah harus membiasakan diri dengan bau-bauan yang bikin mual. Jadi, bau seburuk apapun harus mereka hadapi.
Peternakan jauh lebih meriah ketimbang pabrik pakan. Nares dan Tria berkali-kali mendengar suara embusan napas sapi, berat dan lamban, bercampur dengan petok-ciak ayam yang riuh.
“Ayam-ayam itu ngeributin apa, sih?” gumam Tria sambil mengipas-ngipasi hidungnya. Ia sempat merinding saat melihat hutan dalam perjalanan menuju peternakan. Pikirannya membayangkan sosok ajak yang disebut-sebut Agus di pabrik pakan. Apalagi saat merasakan suasana Jalan Drs. Counteaux yang lebih tenang dari jalan-jalan lain di pulau ini. Suasana tenang yang mencurigakan, pikir Tria.
Tetapi begitu memasuki peternakan, ketika melihat suasana yang hidup layaknya peradaban manusia, gadis itu kembali tenang. Malah kembali berceloteh seperti biasa.
“Berebut pakan, protes karena telurnya diambil, atau melawan tirani manusia yang menghabisi nyawa sanak famili mereka? Sapi-sapi kayaknya jadi keganggu deh.”
Nares menoleh. “Tria, please,” bisik Nares. “Yang serius, dong.”
“Justru itu.” Tria menunjuk ke salah satu kandang. “Kita lagi belajar dari mereka. Kalau mau tenang, jadilah lele. Diam, tapi gerakannya gesit dan licin.”
Nares geleng-geleng.
Mereka berjalan menuju kandang ayam. Nares menahan napas. Ia memperhatikan gerakan ayam yang saling menyerobot ke arah tempat pakan, saling menyingkirkan tanpa peduli siapa yang duluan datang. Ada yang lebih kecil terdesak ke belakang dan akhirnya menyerah.
Dalam benaknya, Nares mencatat hal itu: yang kuat makan duluan, yang kecil menunggu sisa. Ia tersenyum tipis, tidak menyangka penelitian sederhana tentang harga ayam akan membawa pikirannya sejauh itu.
Di depan mereka berdiri sebuah bangunan semi permanen dengan dinding anyaman bambu. Di balik pintu kayu yang setengah terbuka, seseorang terdengar memberi komando pada pekerja.
Tria menyikut lengan Nares. “Mungkin itu suaranya Pak Badrun?” bisiknya.
Nares turut memperhatikan. “Kayaknya, sih.”
Mereka mendekat. Nares mengetuk pintu kandang dengan sopan.
Tidak ada jawaban.
Nares mencoba lagi. “Permisi!”
Suara berat menjawab dari dalam.
“Siapa?”
Sebelum Nares mendorong pintu agar terbuka cukup lebar, seseorang dari dalam telah membukanya lebih dulu. “Cari siapa?” tanya seorang laki-laki berperawakan kurus dan mata sayu.
“Kami mau ketemu Pak Badrun,” jawab Nares sambil tersenyum. Berusaha bersikap ramah.
Orang tadi menoleh kepada seseorang yang sedang duduk di balik sebuah meja. “Pak,” katanya sambil menunjuk Nares dan Tria.
Tria memperhatikan laki-laki itu seperti sedang memberi kode dengan wajahnya, tapi ia tidak bisa melihat dengan jelas kode seperti apa.
“Ini Pak Badrunnya,” kata laki-laki kurus itu.
“Ada perlu apa?” tanya laki-laki di balik meja itu sambil memandang Nares dan Tria dengan agak sinis.
Nares melangkah masuk, diikuti Tria. “Kami dari Uniwu, Pak. Mau membuat penelitian tentang pakan ternak.”
Laki-laki di balik meja itu masih memajang wajah keras. Ia tidak tersenyum sama sekali. “Kartu mahasiswanya?”
Nares dan Tria saling pandang. Tidak menyangka prosedurnya seperti masuk kantor pemerintahan. Mereka menyerahkan KTM (Kartu Tanda Mahasiswa) masing-masing.
Badrun memeriksa keduanya dengan teliti. Matanya bergerak pelan dari foto ke nama, lalu ke wajah Nares dan Tria. Setelah itu, KTM dikembalikan tanpa sepatah kata pun.
Seekor ayam tiba-tiba menyelonong masuk ke ruangan. Laki-laki tadi yang sepertinya merupakan salah seorang pegawai Badrun mengusirnya, membuat ayam itu mengepak keras sambil mengeluarkan suara “petok” yang memecah ketegangan.
“Penelitian apa? Ayam?” tanya Badrun.
“Iya, Pak.” Nares dan Tria menjawab serempak.
“Tentang pakan juga,” Nares menambahkan dan memperjelas.
Badrun tertawa sinis. “Tanya pakan, kok, ke peternakan?” katanya pada pegawainya.
Nares menelan ludah. “Kemarin kami sudah mengunjungi pabrik pakan, Pak. Sekarang kami ke sini untuk mencari tahu soal dampak harga dan kualitas pakan terhadap ternaknya,” papar Nares. “Kami mau mewawancarai bapak.”
Badrun manggut-manggut.
Pegawai Badrun yang tadi membuka pintu, membawakan dua kursi plastik untuk Nares dan Tria. “Silakan, Mas, Mbak,” katanya.
Mereka duduk. Nares tepat di depan Badrun, sementara Tria memilih kursi paling dekat pintu. Matanya menyapu ruangan—lebih sempit dan lebih suram daripada kantor Agus kemarin. Lantai tanah di ruangan itu lembap dengan jejak sepatu berlumpur mengarah ke luar, ke sisi peternakan yang berbeda—tempat kolam lele berada.
***