Konon, musim hujan biasanya dimulai pada bulan berakhiran “-ber”. Sekarang sudah bulan September, tetapi hujan belum turun di desa ini. Musim rupanya sudah bosan menjadi informasi tetap mata pelajaran geografi. Ia punya kehendak sendiri. Salah satunya dengan sengaja terlambat datang. Entah itu musim kemarau atau hujan.
Sekolah sudah memasang kipas angin besar di tiap kelas. Namun putaran baling-balingnya yang kencang tidak mampu menyejukkan ruangan. Rora sibuk mengipas-ngipas wajah dan lehernya dengan kertas berisi desain layang-layang miliknya dan Niko. Bukan cuma badannya yang kepanasan, tapi juga hati dan pikirannya.
Rora berpikir soal telepon tadi malam.
“Teman Niko?” tanyanya setelah Dayu memperkenalkan diri.
“Iya, teman SMP.” Dayu menjawab dengan suara pelan.
Rora tidak lekas menanggapi balik. Otaknya sedang menganalisis, ada kepentingan apa teman perempuan Niko menghubunginya? Dan dari mana dia tahu nomorku?
“Kami sangat dekat. Tapi Niko nggak cerita kalau dia pindah ke Desa Wufi. Bilangnya mau masuk SMA swasta di Surabaya.”
Rora menyimak penuturan Dayu dengan saksama walaupun ia ingin sekali mengungkapkan rasa penasarannya.
“Kuhubungi WA-nya, nggak aktif terus,” lanjut Dayu. “Baru bisa dihubungi lagi beberapa hari yang lalu. Bayangkan, sebulan lebih aku hilang kontak sama dia. Aku khawatir dia kenapa-kenapa. Soalnya menjelang lulus SMP itu, dia berubah.”
Jika diibaratkan dengan kupu-kupu, saat ini Rora sedang mengepak terbang. Kupu-kupu mungil yang sedang mengenal dunia tiba-tiba mendapat embusan angin besar yang membuat kepakan sayapnya tersendat. Hidungnya megap-megap mencari udara untuk bernapas. Mati-matian ia bertahan agar tidak terjerembap.
Tidak tanggung-tanggung, embusan angin itu tak cuma datang dari satu arah. Tetapi dua, dari depan dan belakang. Rora terperangkap perubahan sikap Niko dan telepon dari Dayu
Mendadak, Rora ingat ponsel Niko yang bergetar dan layarnya menayangkan sebuah nama berinisial “D”.
Apa maksudnya Dayu ini?
“Kayaknya, sih, dia uninstall aplikasinya waktu pindah dulu. Nggak tahu kenapa.”
Rora terdiam. Nafsu makannya menghilang. Di meja makan, Nares makan pelan-pelan seolah takut suara kerupuknya meretakkan dinding kesunyian Rora.
Kalau saja itu telepon dari Stella atau Danya, Rora pasti sudah berbicara sambil makan. Bahkan jika Niko yang menelepon pun Rora masih bisa duduk bersama Nares. Tetapi karena sambungan ini tidak biasanya, Rora menghindar. Ia tahu, Nares akan membaca ekspresi wajahnya yang tidak biasa. Lebih parah lagi kalau suara Dayu sampai terdengar ke telinganya. Kakaknya itu pasti akan bertanya macam-macam, sementara Rora tidak bisa menjawabnya dengan diplomatis.
Rora pun naik ke kamarnya tanpa bilang-bilang. Mengabaikan Nares yang memperhatikannya dengan was-was.
Setelah menutup pintu, Rora berkata, “Syukurlah kalau sudah bisa dihubungi. Aku nggak tahu soal dia meng-uninstall WA-nya.”
Rora hendak menyudahi percakapan itu. Ia sedang mengarang-ngarang alasan ketika Dayu menginterupsinya, “Iya. Aku juga lega dia baik-baik aja. Katanya dia betah di Desa Wufi. Dia juga cerita soal kamu.”
Rora menggigit bibir. Ia memindahkan ponsel ke telinga sisi satunya. Niatnya menutup percakapan pupus oleh kata-kata terakhir Dayu. Rora penasaran, cerita bagaimana? Apakah ini cara Dayu untuk berusaha dekat dengannya? Untuk apa?
“Halo, Rora?”
Bibir Rora bergetar, “Y-ya?”
“Niko cerita kalau kalian pacaran.” Dayu memperdengarkan nada ceria dalam suaranya. “Oh, ya, kalian mau ikut festival layang-layang, ya?”
Rora masih berpikir, untuk apa Niko bercerita tentangnya? Kenapa juga dia bercerita kalau mereka akan ikut festival layang-layang?
Rora tidak mau akrab dengan Dayu.Namun, ia begitu ingin tahu. Sedekat apa, sih, mereka sampai-sampai Niko cerita-cerita segala soal aku?
“Insya Allah,” jawabnya, tanpa niat. Rora tidak tahu bagaimana harus mengklarifikasi cerita tentangnya dan Niko.
“Moga-moga aku bisa datang saat festival nanti.” Dayu mengakhiri sambungan setelah mengucapkan, “nggak sabar pengin ketemu kamu langsung.”
Rora menatap layar ponselnya. Ini di luar dugaan. Tetapi firasatnya mengatakan bahwa Dayu bukan teman biasa. Ada cerita di baliknya. Tetapi Rora tidak mau memastikannya langsung pada Niko karena laki-laki itu juga tidak berbicara jujur padanya.
Kalau Niko bisa bersandiwara, kenapa aku tidak?
Untuk pertama kalinya, Rora sadar bahwa menjadi kupu-kupu tidak selalu tentang terbang. Kadang, kupu-kupu juga bermimikri. Ia butuh menyamarkan sayapnya untuk bertahan hidup.
***
Kertas minyak berwarna kuning terhampar di lantai teras rumah Rora. Dengan hati-hati Rora menggambar pola kupu-kupu di atasnya. Sementara Niko menggambar ornamen sayap di atas kertas minyak berwarna merah dan putih sambil sesekali mengintip desain gambar layangan karya Rora. Sengaja Rora memilih warna kuning, merah, dan putih.
“Biar mencolok waktu terbang,” katanya, seraya menunggu tanggapan dari Niko.
Dan Niko tidak protes sedikit pun.
Mereka berdua bekerja dengan serius. Nyaris tidak ada obrolan atau curi-curi pandang seolah mereka sedang membuat sebuah proyek pekerjaan yang membuat mereka melupakan kehadiran masing-masing.
Selesai menggambar, Rora memperhatikan polanya. Memeriksanya kalau-kalau ada yang tidak sesuai rancangan. Ia juga memeriksa pola ornamen sayap yang dibuat Niko.
“Udah sama, kan?” Niko memastikan.
“Sip. Tinggal gunting.”
Carikan-carikan kertas minyak lalu bertebaran di lantai. Rora dan Niko segera memungutnya begitu mereka tak lagi memegang gunting. Berkali-kali ponsel Rora membunyikan notifikasi dari grup kelasnya. Langit mulai gelap. Sebentar lagi Nares pulang. Meski sudah menyiapkan skenario jika kakaknya itu bertanya tentang Niko, Rora berusaha untuk menghindari pertemuan Niko dengan Nares. Rora tahu betul, berbohong itu tidak enak dan ia tidak mau dihantui rasa bersalah atau sesal karena sudah berdusta pada keluarganya.
“Nggak dibaca dulu, tuh, pesannya?” tanya Niko.
Rora mengangkat bahu sambil tetap memungut guntingan kertas minyak. “Males. Paling-paling anak-anak nge-spam, pasang stiker. Bisa, nggak, ya, matiin WA barang beberapa waktu? Bukan matiin notifikasi atau internetnya. Aku pengin sekali aja nyoba rasanya hening.”
Niko mendongak, menatap Rora dengan curiga. “Maksudnya… menonaktifkan WA untuk sementara waktu?”
Mata Rora membulat antusias. “Nah, itu maksudku. Bisa, nggak?”
Niko mengusap dahinya yang tidak berkeringat. “Ng… seharusnya, sih, bisa.”
“Caranya gimana?” tanya Rora sambil melirik wajah Niko.
Niko gelagapan. “Nggak tau…” Jawaban Niko menggantung. “B-belum pernah nyoba.”