Benang yang Tak Putus

Rie Yanti
Chapter #12

Benang yang Ditarik Ulur

Satu tahun berdomisili di Pulau Noesawoefi, Tria belum pernah jalan-jalan begitu melelahkannya. Nares menjemputnya tepat waktu. Pukul enam, mereka sudah bertolak dari kos-kosan Tria, cuma beberapa meter dari kampus Uniwu.

Namun untuk mencapai kawasan itu, Nares harus berangkat dari rumah lebih awal. Kalau tidak, ia akan terjebak macet.

Pasar Induk Wufi pagi itu masih ramai meski banyak lapak yang sudah kosong karena para pemilik warung kecil dan tukang sayur sudah memborong semua belanjaan untuk mereka jual kembali. Bau sayuran, produk hewan, bumbu-bumbu yang dijual di sana bercampur dengan bau asin air laut yang dibawa angin. Bau yang cukup mengganggu, tapi tidak sampai membuat Nares dan Tria ingin menutup hidung mereka.

Nares dan Tria berjalan menyusuri lorong lapak daging ayam dan sapi yang mulai kosong. Hanya tersisa beberapa kilogram saja tiap lapaknya. Lorong-lorong pasar ini tidak dibuat untuk pembeli eceran, tapi untuk orang-orang yang datang dengan daftar belanja panjang.

Daging sapi dan jeroan masih bergelantungan di kait besi, sementara ayam potong disusun rapi di atas lapak berubin. Para penjual berseru ke setiap orang yang lewat, tetapi saling melempar candaan di sela transaksi. Seolah persaingan tak pernah ada di sini. Yang ada hanya kebiasaan hidup berdampingan.

Tria berjalan pelan, menilai lapak satu per satu.

“Gue nyari penjual yang mukanya ramah,” ujarnya dengan percaya diri.

Nares mengikuti sambil merengut. “Kirain nyari yang harganya murah,” sindirnya.

Tria menoleh. “Belanja itu seni memilih, Res.”

“Tahu, tahu,” gerutu Nares, tak sabar ingin segera melewati potongan-potongan besar daging yang, katanya masih segar, tapi baunya tidak menyegarkan. “Pokoknya soal belanja-belanja, aku serahin ke kamu. Belanja itu tugas…”

Tria menoleh tajam. “Coba ulangi kalimat itu kalau lo mau dikeplak pakai ayam beku.”

Nares langsung mengacungkan dua jarinya. “Peace.”

Sambil jalan, mereka melewati beberapa penjual yang menawarkan dagangan.

“Ayamnya, Mbak. Fresh! Buat hajatan, ulang tahun…”

“Daging sapinya empuk, cocok buat rawon!”

Tria menggeleng dan terus melangkah.

Nares mendesah. Kenapa perempuan kalau belanja harus survei lima putaran dulu? Harga di sini standar, nggak kayak saham.

Mereka hampir tiba di ujung lorong ketika Tria berhenti dan berbalik arah.

“Yuk, balik.”

Nares melongo lalu menepuk jidatnya.

Tria cekikikan.

Mereka berhenti lagi di depan lapak seorang ibu berjilbab, tubuhnya berisi tapi senyumnya hangat.

“Beli apa, Mbak?” sapanya ramah.

“Ayamnya sekilo berapa, Bu?” tanya Tria.

“Rp 46.000.”

“Masih mahal, ya?”

“Memang naik ini, sejak harga pakan naik terus…” jawab si ibu sambil mulai menimbang.

Tria menoleh ke Nares, meminta dukungan. Nares hanya mengangguk.

“Ayamnya seperempat aja, Bu. Sama ati seperempat.”

Ibu penjual ayam membeku. Sejurus kemudian, ia tertawa. Para penjual lain menoleh. Ibu itu lantas menceritakan niat Tria membeli sedikit ayam dalam Bahasa Jawa.

“Kalau beli dikit, kenapa nggak di warung aja, Mbak?” sindir penjual ayam di sebelahnya.

Meski tidak paham apa yang dibicarakan ibu-ibu pedagang itu, Tria tahu mereka sedang menertawakannya. Wajahnya memerah dan kepalanya spontan menoleh pada Nares.

Nares sendiri menelan ludah.

“Orang belanja di sini, kalau bukan buat kulakan, ya, buat acara-acara besar. Belanjanya banyak, harganya lebih murah.” Ibu penjual ayam di hadapan Tria menjelaskan.

“Begini, Bu.” Nares angkat bicara. “Kami sebetulnya mau wawancara buat tugas lapangan. Kami dari Uniwu, sedang meneliti soal pakan ternak dan dampaknya ke harga ayam.”

Ibu penjual ayam yang didatangi Nares dan Tria dan penjual ayam di sebelahnya kompak bergumam. “Oalah… bilang dari tadi, dong.”

Bahu Tria kembali turun.

“Tapi, nanti kami juga sekalian belanja, Bu. Cuma… nggak banyak.” Nares menambahkan. Sekalian memberi kompensasi pada si ibu penjual.

Yo wis, Mas. Tapi kalau cuma beli seperempat, harganya dua belas ribu.”

Tria yang sedang mengeluarkan ponsel dari saku dan membuka aplikasi recorder mendongak. Yaelah… Ini karena wawancara atau belinya dikit?

“Nggak apa-apa, Bu. Bisa kami mulai?” Nares memilih mengalah ketimbang bernegosiasi.

Bersama hiruk pikuk pasar, mereka memulai riset kedua hari ini.

“Biasanya pada waktu apa saja harga ayam naik?” Nares mengajukan pertanyaan pertama.

“Biasanya kalau hari raya, akhir tahun, musim hajatan… Itu yang pastinya, Mas. Tapi bisa juga naik tiba-tiba tanpa hari besar,” jawab ibu penjual sambil memotong-motong ayam.

“Biasanya, kenapa, Bu?”

“Kalau harga pakan naik. Ayam biasanya makan jagung. Jagungnya dikirim dari Jawa. Tapi dari Jawa juga impor dari luar negeri. Jadi, ongkos kirimnya dua kali lipat…”

“Tapi, Bu,” Tria menginterupsi, “bukannya banyak alternatif bahan pakan?”

Lihat selengkapnya