Rora duduk di kelas dengan satu tangan menopang dagu. Jempolnya menggulir layar ponsel tanpa membaca isinya. Di depannya, Stella dan Danya bercakap-cakap soal AI.
“Kamu lagi pakai AI, Ra?” tanya Danya.
“Nggak.”
“Terus… ngapain? Serius amat.”
Rora tidak langsung menjawab pertanyaan Danya. Ia tidak bercerita pada mereka soal telepon dari Dayu, karena ia tahu reaksi mereka pasti sederhana dan terlalu biasa. Mereka akan menyuruh Rora untuk memblokir nomornya atau jangan memikirkannya.
Padahal masalahnya jauh lebih rumit.
Sehari setelah telepon itu, Dayu mulai mengiriminya pesan. Bukan cuma sekali.
Banyak. Panjang. Rapi seperti presentasi. Tanya kabar, sekolah, apa saja. Bahkan pemilu. Dan entah bagaimana… semua topik selalu berakhir pada nama yang sama.
Niko.
Awalnya Rora tidak membalas. Ia bahkan menyimpan nomor Dayu hanya untuk satu tujuan: kalau Dayu menelepon, ia bisa memilih untuk tidak menjawab.
Namun rasa penasaran menyerang seperti gatal yang tidak bisa dijangkau. Apa maunya Dayu ini? Kalau masih suka Niko, kenapa dia tidak menghubungi Niko langsung?
Dan sebelum sadar, Rora mulai membalas pesan-pesan itu dengan respons pendek dan ramah. Bukan karena ingin dekat. Bukan juga karena percaya.
Tapi karena ingin mencari tahu.
Stella menyenggol lengannya. “Mukamu asem amat buat orang yang lagi scrolling.”
“Update-an nggak penting. Tapi kalau nggak lihat, penasaran,” Rora menjawab tanpa menatap.
“Kenapa nggak istirahat sama Niko?” tanya Stella. “Biasanya kalian bareng.”
Mata Rora terpaku pada layar. Pikirannya mencari alasan logis agar kedua sahabatnya percaya.
“Niko… lagi ngerjain tugas di kelasnya. Aku nggak mau ganggu.”
Stella dan Danya mengangkat bahu, lalu kembali ke obrolan mereka.
Rora kembali menatap layar. Membaca pesan terakhir Dayu, “Niko tuh kalau gugup pasti diem dulu sebelum ngomong. Kamu pasti pernah lihat, kan?”
Rora menekan bibirnya.
Ya, ia pernah lihat.
Dan di situlah masalah Rora sebenarnya: Ia tidak ingin kehilangan status sosial yang baru saja ia rasakan—sesuatu yang dulu tidak pernah benar-benar ia miliki—hanya karena ia berubah pikiran soal hubungan ini. Ia tidak ingin Stella dan Danya seperti dulu: menganggapnya “tidak menarik” atau terlalu cuek untuk dicintai.
Ia tidak mau bergantung pada Niko. Terutama soal perasaan.
Tapi ia takut kehilangan semua yang datang bersama Niko: perhatian, gengsi, teman, validasi.