Benang yang Tak Putus

Rie Yanti
Chapter #14

Simpul dalam Benang

“Nggak apa-apa, nih, aku pakai minyaknya?” Tria meminta izin sebelum menuangkan minyak goreng ke dalam wajan.

“Nggak apa-apa. Toh, kalau diitung-itung, masak sendiri tetap lebih murah daripada beli makanan jadi,” ucap Nares, menghibur. “Hasilnya juga lebih banyak, walaupun semuanya cuma beli seperempat.”

Tria tertawa. “Masa' wawancara nggak ngasih kompensasi apa-apa? Penelitian kita, kan, nggak menghasilkan uang. Nggak mungkin kita bagi-bagi nilai sama si ibunya.”

Nares tertawa.

Suara minyak goreng di wajan yang antusias menyambut potongan ayam dan ati ungkep menyemarakkan dapur rumah Nares siang itu. Tidak perlu lama, baunya menggelitik perut mereka. Nares dan Tria bergantian memasukkan ayam dan ati-ampela ke dalam wajan. Sesekali, lelucon ringan menyelip di antara suara minyak goreng panas.

Ayam serta ati dan ampela goreng akhirnya tersaji di meja makan, didampingi sambal sasetan.

“Baunya, sih, enak. Nggak tau rasanya. Kalau nggak sesuai ekspektasi, maaf, ya.” Tria meminta pemakluman.

“Nggak usah merasa bersalah gitu, dong, Tri. Kamu mau belanja dan masak kayak gini aja aku udah berterima kasih banget.”

Terdengar bunyi “klik”. Rice cooker memberitahu nasi sudah dimasak.

Sambil nunggu nasinya tanak, mereka membereskan dapur.

“Ibuku pulang malam. Nyantai aja.” Nares membawa semua peralatan masak yang kotor ke wastafel.

Tria melongo. “Oh, ya? Nyokap lo kerja apa?”

Baik Nares maupun Tria, keduanya baru sadar. Mereka sudah saling kenal—bahkan dekat—sejak hampir dua minggu ini, tapi belum pernah berbicara tentang keluarga mereka kecuali Rora.

Front officer Hotel Istana Wufi. Sejak ayahku meninggal, ibuku kerja keras tiap hari.”

“Jadi, sehari-hari kamu berdua sama Rora?” tanya Tria seraya melap meja dapur dan area kompor.

Nares mengangguk.

“Tapi kamu, kan, hampir tiap hari pulang malam juga. Rora gimana?”

“Nggak gimana-gimana. Dia udah biasa, kok, sendirian di rumah.” Nares menjawab santai sambil meremas spons cuci piring.

Tria termenung. “Tapi kasihan, Res. Dia pasti kesepian.”

“Nggaklah. Udah gede, kok. Paling kalau nggak nonton TV, mainan HP.”

“Tetap aja. Remaja seusia Rora kalau kesepian, bisa-bisa cari hiburan di luar.” Tria menatap jendela ruang tamu yang menampakkan bayangan punggung Rora dengan prihatin.

Nares terdiam.

Merasa salah bicara, Tria buru-buru menambahkan. “Tapi... Rora anak yang baik, sih. Udah keliatan, kok.” Tria membalik posisi kain lap. “Cowok itu pacarnya?”

“Bukan... kayaknya...” Tiba-tiba Nares ragu. “Dia teman TK-nya Rora. Mereka mau ikut festival layangan bareng.”

Tria menyelidiki melalui jendela. “Oh. Berarti mereka teman dekat, ya?”

Nares jadi berpikir. Sejak tadi, ia merasa heran melihat adiknya pulang bersama seorang cowok. Namun Nares berusaha berpikir positif. Mungkin Rora memang berteman baik dengan Niko.

Hanya, ketika Tria memastikan kedekatan adiknya itu dengan Niko, keraguan Nares kembali mencuat. Emosi Rora masih labil. Nares takut ia memberi harapan pada siapa pun dan percaya kepada orang yang ia rasa sudah kenal dekat.

Suara Asti bergema jelas di benaknya seperti rekaman, “Fokus sekolah. Belajar yang bener. Jangan pacaran dulu.”

Yang lebih Nares khawatirkan lagi, Rora dan Niko sebetulnya pacaran dan mereka berusaha menyembunyikannya.

“Udah tanak, nih. Mau makan sekarang?”

Nares menoleh. Tampak Tria sedang mengaduk nasi di dalam rice cooker. Uap mengepul ke udara.

“Atau nunggu Rora? Temannya ditawari makan juga,” usul Tria.

Nares melap tangannya yang basah, berpikir sejenak, tersenyum tipis. “Cukup, nggak?” tanyanya seraya menghampiri Tria dan rice cooker.

Tria kembali mengaduk-aduk nasi. “Cukuplah.”

Nares melangkah mundur. “Ya, udah.”

Baru saja ia akan meninggalkan ruang makan untuk ke depan, Rora masuk. Niko berdiri di ambang ruang tamu.

“Mas Nares, Niko mau pulang.”

Tatapan Nares langsung beralih pada Niko yang mengangguk sebentar sambil tersenyum.

Rora menggigit bibir, kepala setengah menunduk. Dadanya terasa sempit.

Nares menelan ludah. Ada yang ingin ia tanyakan pada remaja di hadapannya itu, tetapi sesuatu di dalam dadanya menariknya kembali sebelum sempat keluar dari mulut. Lidahnya dengan gesit mengajukan pertanyaan lain. “Kok, malah pulang? Nggak makan dulu?”

“Makasih, Mas. Mau pulang aja,” tolak Niko, halus.

Di belakang Nares, Tria juga tersenyum dan menimpal, “Kan lebih enak kalau makan dulu, Dik?”

“Makasih, Mbak. Udah ditunggu di rumah.”

Rora mengantar Niko sampai gerbang. Nares terus mengawasi. Tidak menyadari kehadiran Tria di belakangnya.

“Kamu ngapain?”

“Ngawasin,” jawab Nares tanpa menoleh.

“Kenapa diawasin?”

Tampak Rora menutup pagar dan menguncinya. Nares buru-buru mengajak Tria kembali ke meja makan.

Lihat selengkapnya