Benang yang Tak Putus

Rie Yanti
Chapter #15

Seekor Kupu-kupu Mati di Pinggir Jalan

“Kita sepakati, ya. Kamu lepaskan layangannya sesuai aba-abaku.”

Rora mengangguk. Ia melepaskan layangan begitu Niko memberinya aba-aba. Siang menjelang sore itu, mereka ke alun-alun Wufi lagi untuk berlatih main layangan. Angin sedang bersahabat. Niko mengendalikan layangannya tanpa kesulitan. Ia menahan benang itu dengan kedua tangan, sementara kakinya seperti tertanam di tanah.

Sambil terus mengawasi layangan, Rora berlari kecil ke arah Niko kemudian berdiri di sampingnya. Matanya bergantian mengamati layangan mereka yang berada di ketinggian dan tangan Niko yang menarik-ulur benang. Kilasan balik tentang masa kecilnya dengan Nares seakan tergambar jelas. Namun, ketika sadar posisi Nares digantikan oleh Niko, kenangan itu perlahan menjauh, lantas menghilang seperti awan yang lenyap entah ke mana.

Rora kembali ke bumi. Bersama Niko yang terus menatap langit. Layangan mereka meliuk-liuk mengikuti angin, seolah mereka berkawan baik dan menjalani hari dengan ceria.

“Sekarang anginnya bagus. Nggak tahu saat festival nanti,” Rora mengungkapkan kekhawatirannya.

Di sebelahnya, Niko tidak mengucapkan sepatah kata pun. Matanya tertuju ke langit, tetapi saat Rora memerhatikan lebih saksama, pandangannya tidak mengarah ke sana.

“Niko!” panggil Rora, pelan.

“Y-ya?” Kepala Niko tetap menengadah.

“Ada antisipasi, nggak, kalau kemungkinan anginnya nggak bersahabat saat festival nanti?”

Niko tidak segera menjawab. Matanya terus mengikuti gerakan layangan yang ia kendalikan.

“Nggak tahu. Mungkin… ikuti aja anginnya.”

Rora meragukan jawaban itu. “Tapi kalau anginnya tiba-tiba kencang dan kita salah tarik, benangnya bisa putus, kan?” tanyanya setelah menyadari bahwa setebal apa pun benang, ia tetap ringkih.

Niko kembali tidak segera menjawab. Tangannya begitu mantap memegang benang yang sesekali menegang di telapak tangannya, lalu kembali longgar.

Rora mendesah. Mungkin sekarang bukan waktu yang tepat untuk bertanya.

Cukup lama Niko memegang benang dan gulungannya. Ia lantas menyerahkan gulungan itu pada Rora. Sekalian benangnya. “Gantian,” katanya.

Rora tidak siap. “A-aku yang main?”

Niko mengangguk.

Mau tak mau, Rora memegang gulungan benang dan benangnya dengan mantap, meski benang itu terasa kasar di tangannya, seolah menegaskan bahwa terbang pun harus dalam kendali seseorang.

Sesaat, tangannya bisa santai karena angin bertiup stabil, membuat layangan mereka juga terbang konstan. Tetapi ketika angin berembus agak kencang, tangan Rora yang sudah gemetar kewalahan mengendalikan benang itu. Layangan itu bergetar sebentar, lalu miring ke kiri, seolah ragu mengikuti arah angin.

“Pegang yang kuat, Ra. Jaga layangannya.”

Rora mengikuti instruksi Niko. Namun, yang ia khawatirkan akhirnya terjadi juga. Angin semakin kencang. Bahkan dahan-dahan pohon di alun-alun ikut bergoyang seperti sedang menari mengikuti arahan angin.

“Tarik benangnya! Tarik, Ra!” Niko berteriak.

Dengan panik, Rora menarik benang yang terulur—terlalu keras. Layangan itu tersentak.

Menyadari kesalahannya, Rora menggigit bibir, berharap benangnya tidak putus.

“Gulung! Gulung!”

Gadis itu bingung sendiri mendengar instruksi Niko. Kedua tangannya belum mahir melakukan dua pekerjaan secara simultan. Rora mengandalkan inisiatifnya: menggulung benangnya langsung yang membuat layangan bergetar hebat. Sayapnya miring, lalu berputar satu kali, seolah mencari arah yang sudah hilang.

Benang di tangan Rora menegang, lalu tiba-tiba terasa ringan.

Lihat selengkapnya