Nares memarkir motor di dekat pos satpam—tempat yang selalu jadi batas antara hiruk-pikuk luar dan dunia pabrik yang bising dan bau dedak. Di pabrik pakan ini, kendaraan seperti dibiarkan diparkir di mana saja, asalkan tidak mengganggu lalu lintas truk yang mengangkut bahan pakan dari luar atau sebaliknya: mengangkut hasil pabrik ke peternakan atau toko.
Bau dedak kembali menusuk hidung kedua mahasiswa itu. Mungkin lama-lama mereka akan terbiasa jika harus lebih sering lagi menyambangi tempat ini.
Nares meletakkan helmnya di setang. Memperhatikan Tria sebentar yang sedang mengikatkan jaketnya ke pinggang, lalu mengenakan topi pancing.
“Kamu nggak merasa terganggu dengan bau di sini?”
Nares tidak habis pikir, bisa-bisanya Tria menjalani proyek itu tanpa beban. Seakan bau dedak, amis daging, bahkan kotoran ayam tidak pernah benar-benar mengusiknya.
“Biasa aja. Emang kenapa?”
Nares cuma menggeleng. Namun dalam hati ia merasa bersyukur berpartner dengan perempuan itu. Tria bukan hanya bisa diajak berpikir, tapi perempuan itu juga antidrama. Ia mulai paham kenapa Tria betah di lapangan: ia mencintai prosesnya, bukan hanya hasilnya.
Mereka berjalan keluar dari area parkir.
“Kenapa kamu milih kuliah peternakan? Kenapa nggak keperawatan atau teknik?”
“Karena,” Tria membetulkan topinya, “peternakan itu lebih dekat dengan kehidupan. Kita semua butuh makan. Tapi kita jarang tahu apa yang sebenarnya terjadi sebelum makanan sampai di meja.”
Nares senyam-senyum. Ada rasa kagum yang tumbuh pelan-pelan, sesuatu yang bahkan tidak ia sadari sejak awal proyek dimulai.
“Kok, senyam-senyum gitu?”
Nares tertawa kecil. “Kupikir anak metropolitan nggak akan mau tangannya kotor gara-gara masuk peternakan.”
Tria ikut tertawa. “Tiap orang beda-beda, kali.”
Kali ini, mereka tidak menuju gudang pakan. Nares mengetuk pintu kantor, berharap Agus ada di dalam dan berharap tidak menemukan kejutan lain.
Ternyata, Agus sendiri yang membuka pintu.
“Wah, Mas Nares dan Mbak Tria lagi,” Agus terkejut, tapi masih mampu menunjukkan keramahan.
“Maaf, Pak, mengganggu lagi.”
“Nggak apa-apa. Saya malah senang.”
Sebelum Agus mempersilakan masuk, Nares sudah lebih dulu menyampaikan maksud kedatangan mereka.
“Oh, mau uji coba bikin pakan? Boleh, boleh. Mari saya antar.”
Nares dan Tria mengikuti langkah-langkah santai dan antusias Agus. Bau dedak semakin kuat saat mereka mendekati pabrik. Ditambah bau menyengat yang mengingatkan mereka pada peternakan Badrun. Disambut suara mesin, Agus memperkenalkan mereka pada Hadi, salah seorang pembuat pakan.
“Selama ini sudah bikin pakan dari bahan apa saja, Pak?” tanya Tria.
“Macam-macam, Mbak. Biasanya dari jagung, dedak, bekatul, rumput. Sekarang kami sedang bikin pakan dari limbah,” papar Hadi.
Tria melohok. “Limbah? Kotoran hewan, maksudnya, Pak?”
Hadi mengangguk. “Betul, Mbak.”
“Sudah ada hasilnya?”
“Sudah, Mas. Tapi sudah habis stoknya.” Hadi terkekeh. “Makanya kami bikin lagi sekarang.”
“Kalau yang sudah dicoba dulu, bagaimana hasilnya?”
“Bisa dibilang gagal, Mbak Tria,” Agus ganti menjawab. “Bikin pakan dari limbah ternyata sulit. Tidak seperti dari bahan-bahan lain.”
“Oh, ya?” Nares mengerutkan kening. “Memangnya prosesnya bagaimana?”