Benang yang Tak Putus

Rie Yanti
Chapter #17

Kupu-kupu yang Terseret tanpa Sayap

Rora berjalan sendirian, seperti biasa. Hari ini, ia agak terlambat ke sekolah. Sampai di gerbang dua menit sebelum bel masuk berbunyi. Gadis itu berjalan gegas menuju kelas.

Begitu sampai di depan kelas 10-2, Rora berjalan perlahan. Ditengoknya kelas itu. Niko tidak ada. Yang ada adalah Jojo yang sedang berdiri di ambang pintu.

“Hai, Ra,” sapanya. Ramah dan tenang.

Rora sempat tertegun. Ini beneran Jojo yang menyebalkan itu?

Rora cuma tersenyum tipis. Sangat tipis. Ia sempat memperhatikan Jojo dari atas sampai bawah. Rambutnya tetap klimis, pakaiannya rapi, dan tangannya… dimasukkan ke dalam saku.

Entah apa yang sedang digenggamnya, atau di dalam sakunya. Yang jelas, Jojo terlalu “tua” untuk menyimpan mainan laba-laba plastik di dalam sakunya itu, seperti anak SD. Rora berusaha berpikir bahwa ia memasukkan tangannya ke dalam saku sekadar melengkapi gayanya, bukan memendam ancaman bagi Rora.

Tetapi demi amannya, Rora kembali berjalan cepat menuju kelas.

Sejak pacaran dengan Niko, Jojo seakan hilang dari peredaran. Ia mungkin kecewa karena Rora mengabaikannya begitu saja. Namun, alih-alih dendam pada Rora, ia malah terlihat lebih dewasa dengan sikapnya yang berbanding terbalik dengan sebelumnya.

“Ra,” panggil Stella setelah Rora tiba di bangkunya.

Rora menoleh.

“Jadi ikutan festival layangan sama Niko?”

“Iya. Kenapa?”

“Nggak. Cuma nanya. Aku sama Danya mau nonton. Boleh?”

“Boleh, dong. Aku malah senang kalian datang dan jadi supporter kami.” Rora mengeluarkan buku dari dalam tasnya. “Kamu udah coba soal-soal latihan Fisika?”

“Belum. Belum paham. Kamu?”

Rora menggeleng. “Belum. Sulit banget, sih.”

Ia lalu menenggelamkan perhatiannya pada buku paket dan latihan. Stella garuk-garuk kepala. Ia tahu persis, Rora kurang berminat mengerjakan soal hitungan. Temannya itu lebih menaruh minat pada Biologi.

“Yuhuu…”

Danya muncul di pintu sambil bersorak gembira.

“Woi, datang-datang, kok, bersorak. Menang undian, ya?” teriak Stella.

Danya berlari kecil ke bangkunya. Rora menoleh.

“Aku sudah paham soal Fisika kemarin. Tengok, nih, udah kukerjakan dan hasilnya… wow!”

Stella melihat buku latihan Danya. Rora bahkan menariknya dari meja.

“Aku pinjam, ya, mau kupelajari,” izinnya. Ia menekuni pekerjaan Danya. “Angka lima ini dari mana?” tanyanya.

Danya menjelaskan pelan-pelan. “Itu hasil pembagian ini dan ini, Jeng,” jawab Danya gemas sambil menunjuk dua angka dalam soal.

Rora manggut-manggut sebelum kembali mempelajari pekerjaan Danya.

Saat istirahat, Rora memilih makan bekal di dalam kelas. Semalam, Asti membawa oleh-oleh roti bakar. Rora menyimpannya untuk bekal hari ini.

“Niko, kok, nggak kelihatan, ya?” ujar Stella setelah dia dan Danya membeli kentang dan sosis goreng dari kantin.

Rora mendongak sebentar. “Masa’, sih?”

Stella dan Danya saling pandang. “Ini pacarnya gimana, ya? Kayak nggak peduli.”

Rora yang kembali mengunyah roti bakarnya tiba-tiba kehilangan selera makan. Ia mengunyah pelan-pelan sambil meletakkan rotinya ke dalam kotak bekal. “Dia nggak ngabarin aku. Mungkin sakit,” jawabnya tak peduli. Kenapa mereka begitu peduli sama Niko?

“Tapi sebagai pacar, seharusnya kamu tahu kabar dia,” celetuk Danya. “Atau jangan-jangan… kalian berantem, ya?” tanyanya dengan mata menggoda.

Klik.

Suara kotak bekal ditutup. Roti bakar Rora tidak habis.

“Nggak. Kemarin sore aku latihan main layangan sama dia, kok.”

“Terus, kenapa hari ini kamu nggak tahu kabar dia?” tanya Stella.

Rora diam saja.

“Di-WA, dong, Ra. Suruh dia ke sini dulu. Siapa tahu dia masuk, tapi asyik sama teman-temannya.” Danya menyarankan.

Lihat selengkapnya