Benang yang Tak Putus

Rie Yanti
Chapter #18

Benang di Balik Awan

Panas siang itu membuat udara seperti bergetar. Sepanjang perjalanan, Nares dan Tria tidak banyak bicara. Nares fokus ke jalan, sementara Tria membayangkan wajah Badrun dan cara bicaranya yang kurang bersahabat.

Setiba di peternakan, Tria turun dari sepeda motor dengan kaki gemetar. Bahkan tangannya ikut bergetar. Bukan karena perjalanan, melainkan pemandangan kantor peternakan.

“Ayo,” ajak Nares.

Tria menggigit bibir. Ia berjalan di samping Nares dengan ragu.

Nares mengetuk pintu dan segera membukanya setelah mendengar sahutan dari dalam. Badrun sedang duduk di mejanya; sama seperti ketika Nares dan Tria menemuinya untuk pertama kali.

Sambil tersenyum, Nares melangkah masuk, diikuti Tria. Spontan mata Badrun mengarah pada sak yang ia bawa.

“Kami membawa pakan hasil percobaan pabrik, Pak,” kata Nares.

Badrun tersenyum sinis. “Paling ayam-ayamnya nggak suka, mogok makan,” katanya dengan nada melecehkan.

Nares dan Tria diam saja.

“Tapi, ya, sudahlah, kalau kalian tidak percaya.”

Badrun menerima sak bekas pakan yang cuma diisi setengahnya itu. Nares dan Tria pamit kembali ke kampus.

Siang ini, mereka kembali ke peternakan, hendak membuktikan kebenaran kata-kata Badrun. Benarkah ayam-ayamnya tidak suka pakan alternatif itu?

Begitu tiba di peternakan Badrun, mereka mendapati pemandangan yang berbeda dari sebelumnya. Suara ribut ayam masih menghidupkan peternakan. Nares dan Tria sempat melongok ke dalam kandang. Mereka makan biji-bijian berwarna kuning—mungkin jagung atau bungkil kedelai—bukan pakan yang mereka berikan pada Badrun kemarin. Nares sudah bisa menduga jika Badrun ditanya alasannya.

Tetapi, tidak ada pegawai yang wara-wiri. Pun, tidak terdengar suara mereka bicara atau berjalan. Peternakan hari ini sepi manusia.

Nares memberi kode pada Tria yang masih mengamati keadaan sekitar kandang untuk bersama-sama menengok gudang yang agak jauh di bagian belakang peternakan. Mereka berjalan pelan—mungkin tepatnya dikatakan mengendap-endap—di antara kandang sapi dan kolam lele yang sepi. Tak lupa, mereka menahan napas pendek-pendek untuk menghindari bau kotoran mamalia besar penghasil susu itu.

Tiga sepeda motor dan sebuah mobil bak terbuka berhenti di depan gudang. Ada gerakan manusia di sana. Tergesa-gesa seolah tidak terkoordinasi dengan baik dan tidak ingin ada yang melihat.

“Memangnya hari ini jadwal pengiriman pakan, ya?” bisik Tria.

Lihat selengkapnya