Rora menunggu gadis di hadapannya membuka mulut. Sejak tiga menit yang lalu, baru satu kalimat yang mampu ia katakan, “ada sesuatu yang mau aku omongin tentang Niko.”
Satu kalimat yang membuat Rora penasaran bukan kepalang. Adakah hubungannya dengan Dayu? Ataukah sakit Niko tambah parah?
Lani nama gadis itu. Katanya, semalam ia habis dari alun-alun Wufi bersama kakaknya. Saat hendak pulang, ia melihat Niko bersama beberapa temannya.
“Mereka…”
Kaki Rora mengetuk-ngetuk kaki meja. Kelas sedang kosong karena saat itu jam istirahat kedua. Semua orang ke kantin jika tidak ke musala. Rora yang sedang tidak salat, memilih di dalam kelas sambil menghabiskan kue leker yang ia beli pagi tadi. Sebelum Lani menghampirinya.
“Mereka…” Lani memainkan ujung jilbabnya.
“Mereka siapa? Mereka ngapain?” Rora tidak sabar lagi. Ia menyimpan kembali kue lekernya ke dalam wadah bekal.
Lani menarik napas. “Mereka mabuk,” jawabnya cepat. Sepagian tadi, ia menimbang-nimbang, haruskah mengatakan kesaksiannya pada temannya itu? Mengingat Rora bukan teman dekatnya dan kabar itu pasti akan membuat Rora syok dan kehilangan kendali.
Rora tercengang. “Niko juga?”
Lani mengangguk pelan.
Siang itu cuaca panas luar biasa. Awan-awan entah bersembunyi di mana. Tetapi sebuah petir menyambar pikiran Rora.
“Yang bener, Lan?” bisik Rora. Matanya masih membulat.
Lani mengangguk. “Iya, Ra.”
“Beneran, Niko juga mabuk?”
Lani mengangguk lagi. “Kalau nggak, ngapain aku bilang ke kamu?”
Rora mengempaskan punggungnya ke sandaran kursi. Ia tidak yakin Niko berbuat seperti itu. Lalu apa maksudnya alasan “sakit” yang selama ini Niko pakai?
“Masih siang, loh… Maksudku, belum malam-malam amat.” Lani memperjelas informasinya. “Sekitar jam setengah sembilan malam gitu.”
Rora tidak mempersoalkan jam ataupun lokasi. Tapi Niko… mabuk? Yang benar saja!
“Aku cerita gini bukan apa-apa. Aku juga nggak percaya kalau itu Niko. Tapi setelah kuamati… memang dia.”
Rora memejamkan mata. Firasatnya selama ini benar, bahwa ada yang salah dengan keputusannya dulu. Sekonyong-konyong, perutnya terasa penuh. Ditutupnya kotak bekal dengan kue leker masih tersisa dua potong setengah.
“Oke, oke. Aku ngerti. Thank’s, ya, infonya.” Rora menghargai keputusan Lani untuk memberitahunya.
Sisa waktu istirahat itu Rora habiskan dengan berpikir. Mencoba memahami maksud semua itu. Dayu menelepon, Niko tidak masuk sekolah karena sakit, Niko yang mabuk… Rora berusaha mencari benang merah dari semua kejadian itu. Tetapi otaknya buntu.
Padahal, festival layangan tinggal dua hari lagi. Rora sudah punya rencana. Kalau hari ini Niko tidak masuk lagi, ia akan ke rumahnya sepulang sekolah. Tetapi setelah mendengar kabar dari Lani, ia sendiri ragu. Akankah Niko menemuinya dalam keadaan sadar?
Rora memutuskan langsung pulang ke rumah begitu sekolah bubar. Pergi ke rumah Niko dirasanya terlalu berisiko. Atau ia memang tidak siap melihat kebenaran secara langsung. Kalau Niko masih dalam keadaan mabuk, mungkin ia tidak akan mengingat Rora. Tetapi itu masih mending daripada jika Niko mengajaknya berbuat yang tidak-tidak.
Hari ini, Niko bagi Rora adalah sosok yang benar-benar asing. Dan ia tidak tahu, sampai kapan hubungan mereka bertahan. Baik sebagai pasangan kekasih, ataupun sebagai teman.
Layangan yang kehilangan angin tidak bisa dipaksakan terbang.
***
Seperti balon yang pecah setelah tertusuk jarum, hati Rora juga ikut hancur berkeping-keping ketika berkali-kali panggilannya tidak diangkat. Pesan yang ia kirim tetap centang satu. Tidak dibaca. Tidak dijawab.
Mendadak, perkataan Dayu yang dulu menohoknya melintas lagi.
Apa dia menonaktifkan WA-nya lagi? Atau ini ada hubungannya dengan yang Lani lihat semalam?
Rora menggeleng pelan, seperti ingin menepis pikiran yang makin liar. Ia menarik layangan kupu-kupu yang ia buat bersama Niko. Menyentuhnya hati-hati seakan menyentuh sesuatu yang hidup. Kertas minyak itu rapuh—sedikit tekanan saja bisa membuatnya sobek. Tetapi justru karena ringan dan mudah diterbangkan itulah layangan bisa melayang jauh dari bumi.
“Aneh,” gumam Rora, meletakkan kembali layangan itu di meja kamar. “Dia yang ngajak ikut festival, tapi sekarang….”
Rumah sunyi sekali. Hanya suara napasnya sendiri yang terdengar, teratur tapi terasa kosong. Di antara tarikan napas itu, Rora menimbang-nimbang: apa aku batal ikut festival?
Danya mau datang. Nares juga. Pagi tadi ia bilang akan ke kampus dahulu menemui dosennya, lalu ke pantai bersama Tria untuk melihat Rora dan Niko bertanding. Rora sempat bercerita pada Nares kalau Niko tidak masuk sekolah karena sakit.