Benang yang Tak Putus

Rie Yanti
Chapter #20

Benang yang Goyah

Pagi itu, Nares memarkir sepeda motornya dengan terburu-buru. Ia terlambat datang ke kampus gara-gara jalan macet. Rupanya, masyarakat Desa Wufi berbondong-bondong ke Pantai Kelabu untuk berpartisipasi dalam festival layangan tahun ini.

Kampus sepi. Selain karena sekarang hari Sabtu, juga banyak mahasiswa yang meninggalkan area kampus Uniwu untuk ke Pantai Kelabu juga. Terutama mahasiswa perantauan yang belum pernah menyaksikan festival ini.

Nares sudah kadung janji dengan Tria di kampus. Mereka akan menemui Farhan untuk membicarakan laporan riset dan kecurigaan mereka terhadap peternakan Desa Wufi.

“Begini saja,” kata Farhan saat ditemui Nares dan Tria setelah ia selesai mengajar, “soal karung yang mencurigakan, itu sebetulnya bukan urusan kalian. Kalian fokus ke riset saja. Kalaupun kalian mau melakukan penyelidikan, pastikan bukan atas nama Uniwu. Kampus kita tidak bertanggung jawab atas tindakan kriminal yang dilakukan warga. Itu tugas Bhabinkabtibmas.”

Di Desa Wufi, tidak ada aparat kepolisian. Yang ada hanyalah Bhayangkara Pembina Keamanan dan Ketertiban Masyarakat atau biasa disingkat Bhabinkabtibmas seperti yang disebutkan Farhan. Jika ada kejadian kriminal, Aiptu Sabine Putri atau biasa disapa Mbak Bine selaku petugas keamanan, akan menindaklanjuti perkara itu.

“Tapi, Pak, bagaimana kalau karung misterius itu ada dampaknya terhadap peternakan? Maksudnya, bagaimana kalau karung itu berisi pakan… istimewa… Maksud saya,” Nares bingung mencari istilah pengganti yang tepat, “mungkin hasil inovasi baru yang dikirim dari daerah lain.”

“Lihat dulu hasil ternaknya. Apakah berbeda dari biasanya?” Farhan membetulkan posisi duduknya. “Misal, bobot ayam menurun drastis, produksi telur turun, atau tekstur dagingnya berubah.”

“Atau,” Tria menambahkan, berusaha memperjelas maksud Nares, “bisa jadi, isinya bukan pakan.”

Farhan menatap gadis itu sambil mengerutkan kening. “Maksud kamu?”

Nares memberi kode dengan mengetuk ujung sepatu Tria dengan sepatunya. Memintanya untuk tidak menyebutkan barang mencurigakan.

“Mungkin… ng… bulu ayam… Ya. Bulu ayam… untuk dijadikan bahan pakan alternatif lainnya… mungkin…”

Tria menelan ludah. Tidak yakin dengan apa yang dikatakannya. Farhan sendiri tampak bingung.

“Maksud Tria, karung pakan percobaan dari pabrik yang kami berikan ke peternakan sama persis dengan karung pakan yang sudah resmi. Sementara yang kami lihat di peternakan kemarin karungnya polos dan terikat rafia. Jadi, ada kemungkinan itu bukan pakan…”

Farhan berpikir. “Begitu, ya? Setahu saya, sih, inovasi pakan biasanya tidak dikirim dalam karung polos.”

Nares dan Tria mendadak tegang.

“Kita tidak tahulah soal itu. Tapi sekali lagi, saya ingatkan agar kalian fokus saja ke penelitian yang sudah kalian lakukan. Di luar itu, abaikan saja.”

Farhan mengakhiri sesi konsultasi mereka dengan alasan mau membimbing dua mahasiswanya yang sedang mengerjakan skripsi.

Nares dan Tria meninggalkan dekanat dengan rasa kurang puas.

“Pak Farhan nggak mendukung kita,” ucap Nares di halaman parkir kampus.

“Tapi menurut gue, emang seharusnya gitu. Pengabdian mahasiswa sebatas bikin penelitian atau program, bukan menyelesaikan masalah apalagi menyelidiki kasus kriminal,” kata Tria.

“Seandainya nggak ada Niko, aku nggak akan kepikiran, Tri. Tapi semalaman aku kurang tidur gara-gara mencemaskan Rora.” Nares curhat. “Dan tadi pagi Rora bilang, Niko udah beberapa hari nggak masuk. Katanya sakit.”

“Sakit?”

Nares mengangguk.

“Memang mencurigakan, sih,” desis Tria. “Lo perhatiin, nggak? Sejak dekat dengan Niko, mungkin ada gelagat Rora yang aneh.”

Nares berpikir, mengingat-ingat. “Kayaknya, sih… nggak,” jawabnya, ragu. “Aku juga udah lama nggak merhatiin dia, sih. Kupikir, dia udah gede, bisa jaga diri. Ya, udah. Yang penting dia tiap hari pulang ke rumah.”

Tria menyikut lengan Nares. “Nggak pernah kelihatan sering ngelamun atau stres, gitu?”

Nares mengingat-ingat lagi. Belakangan, pikirannya lebih fokus ke riset, sehingga detail-detail kecil di rumahnya semakin jarang ia perhatikan. “Akhir-akhir ini… dia agak manja, sih. Tapi kupikir karena mau ikut festival. Makanya dia tegang banget.

“Yang bikin aku khawatir, ya, hubungannya sama Niko. Baru kali ini aku lihat Rora dekat sama temannya yang cowok. Yaaa… di sekolah mungkin dia akrab juga sama teman-teman cowoknya. Tapi kalau sampai dibawa ke rumah, baru kali ini.”

“Dan lo nggak curiga?”

“Ya, curigalah. Makanya waktu dia nganter Niko ke pager, aku awasin dari dalam. Ingat, nggak?”

Tria mengangguk.

Lihat selengkapnya