Benang yang Tak Putus

Rie Yanti
Chapter #21

Benang yang Putus

Rora menggenggam gulungan benang di tangan kiri, sementara tangan kanannya mengulur benang perlahan. Di kanan-kirinya, peserta lain melakukan hal yang sama dengan bentuk dan warna layangan yang lebih mencolok.

Rora menunduk sejenak. Bukan karena minder dengan layangannya yang sederhana—kecil, biasa, minim hiasan—melainkan karena kepalanya terlalu berat untuk mendongak. Matahari bersinar garang di atas Pantai Kelabu tanpa awan yang menaunginya. Langit membentang seperti lapangan luas yang siap dipenuhi warna.

Berbeda dengan itu, hati Rora dipenuhi sedih, marah, dan putus asa. Niko tidak datang. Nares terlambat. Layangan mungil di depannya terasa seperti dirinya sendiri: rapuh, mudah kehilangan arah, dan nyaris tak menarik perhatian siapa pun. Bahkan panitia yang ditugaskan membantunya memegang layangan kupu-kupu itu tampak melakukannya sekadarnya saja.

Di kejauhan, Danya menonton dengan antusias. Rora tidak tahu apa yang sedang gadis itu pikirkan. Yang jelas, Danya tidak tahu apa yang sedang berkecamuk di kepalanya.

Ia menatap layangan kupu-kupu itu diam-diam; sayapnya terbentang, seolah siap terbang, tetapi tampak ragu menentukan arah. Rora tidak yakin tangannya cukup kuat untuk menjaga supaya layangan itu bisa terbang dengan stabil nanti. Ia tahu ia harus kuat. Tapi sampai kapan? Tanah tempatnya berdiri seakan-akan amblas oleh beban yang ia pikul sendiri.

Panitia memberi aba-aba.

Panitia yang membantu Rora mengangkat layangan kupu-kupu itu.

“Lepas!”

Layangan itu perlahan menanjak udara. Perlahan pula Rora mengulur benangnya. Panitia yang membantunya tadi meninggalkannya begitu layangan Rora sudah berada di langit. Meski hatinya kacau, Rora sempat merasa bangga melihat layangannya meliuk di antara layangan lain yang lebih besar dan mewah. Kalau saja ia tidak sedang sibuk menahan dirinya agar tidak runtuh, ia mungkin akan terkejut betapa ia mampu menerbangkan layangan dengan sedikit bantuan. Dari orang yang tidak ia kenal pula.

Sorakan penonton memenuhi udara, tetapi Rora memekakkan telinganya sendiri. Ia hanya fokus pada benang dan langit.

Saat sebuah layangan besar berbentuk perahu melintas, konsentrasinya goyah. Setiap kali layangan perahu itu mendekat, Rora mencuri pandang. Bukan karena desainnya mengintimidasi, tetapi karena ingatannya sendiri yang menusuk. Niko tidak datang. Mungkin mabuk. Mungkin bersama Dayuh.

Mungkin dia sudah punya rencana akan meninggalkanku.

Angin laut bergeser dan layangan-layangan ikut terdorong. Rora menarik-ulur benang, mencoba menjaga jarak. Ia menurunkan layangannya, tetapi itu justru membuatnya hampir ditabrak layangan lain.

Tiba-tiba sepasang tangan lain memegang benangnya.

Rora menoleh cepat. Ia masih tertegun ketika Nares berkata, “Sini, aku yang pegang.”

Emosi yang menumpuk membuat Rora spontan menolak. “Nggak usah. Aku aja.”

“Kamu nggak sendirian.”

Rora menarik benangnya kembali. “Aku bisa sendiri.”

Nares tidak memaksa. Namun ia tetap berdiri di samping adiknya. Di antara kerumunan penonton, Tria memperhatikan mereka dengan cemas.

Lihat selengkapnya