Benang yang Tak Putus

Rie Yanti
Chapter #22

Benang Itu Ternyata Tidak Putus

Angin masih berembus dari arah laut ketika Tria dan Nares duduk di area penonton. Suara festival terus berlanjut—musik, teriakan anak-anak, langkah orang-orang yang berlalu-lalang, pasir yang tertiup angin—semuanya terasa jauh dari apa yang baru saja terjadi.

Nares mengurut-urut dahinya. “Aku nggak ngerti, kenapa dia marah sampai segitunya?”

Tria tidak langsung menjawab. Ia menatap pantai, seakan menunggu ombak untuk mengantarkan sebuah jawaban. Namun yang datang, lagi-lagi hanya angin. Laut tidak selalu menunjukkan geloranya. Ia juga sering diam.

“Mungkin dia marah bukan karena kejadian yang baru terjadi. Tapi karena semua hal yang disimpan dari lama.”

Nares menghela napas panjang. “Tapi tetap aja… Dia bukan Rora yang biasa.”

“Dia lagi capek, Res,” kata Tria lembut. “Dan capek itu nggak harus karena orang lain. Bisa juga dia capek sama dirinya sendiri. Mungkin.”

Nares menatap Tria, tampak hendak bertanya sesuatu, namun langsung menahan diri. Ia tidak bisa benar-benar tenang sebelum menemukan adiknya.

***

Rora berhenti setelah berjalan jauh melewati kerumunan. Ia memilih duduk di balik barisan perahu kecil yang diparkir di dekat ujung pantai. Di sana lebih sepi. Angin lebih dingin. Bau laut lebih menusuk.

Ia memeluk lututnya, mencoba menenangkan napas. Tapi setiap kali ia menarik udara, dadanya terasa sesak.

Benangnya putus.

Dan ia tahu, tangannya sendiri yang melepaskannya.

Dan ia… yang salah memilih siapa yang ia percayai.

Rora menutup wajah dengan kedua tangan. Pipinya panas, tapi matanya kering—air mata seakan habis bahkan sebelum sempat jatuh.

Kenapa aku membuat keputusan yang salah?

Ia bukan marah pada Niko. Atau Nares. Atau Tria. Atau siapa pun.

Ia marah pada dirinya sendiri.

Karena ia tahu, jika ia punya sedikit saja keberanian untuk berkata “tidak” sejak awal, semua ini mungkin tidak akan menyakitkan.

Tapi yang ia lakukan hanyalah merasakan sesal setelah semuanya terlambat.

Suara langkah pelan terdengar dari samping. Rora tidak menoleh. Ia mengira itu Nares, dan ia sudah tidak punya tenaga untuk menampiknya lagi.

“Rora?”

Rora menoleh setelah mendengar itu suara Danya.

Rora menelan ludah. “Kamu ngapain ke sini?”

Setelah memberikan tas Rora, Danya duduk agak jauh, memberi ruang. “Nyari kamu. Kamu tadi pergi cepat banget. Aku khawatir…”

Rora menghela napas pelan. “Aku cuma… pengin sendiri.”

“Aku lihat pas benangnya putus.” Danya berkata pelan.

Rora memejamkan mata. “Jangan diomongin. Please…”

Sorry,” Danya menunduk. “Aku cuma mau bilang… kamu nggak harus kuat terus. Kalau capek, bilang aja.”

Lihat selengkapnya